- Masyarakat Jawa menggunakan perhitungan weton berdasarkan hari lahir dan pasaran untuk menentukan kecocokan jodoh sebelum menikah.
- Hasil penjumlahan neptu pasangan yang bernilai 1, 9, 17, 25, atau 33 dikategorikan sebagai weton tibo pegat.
- Primbon mempercayai weton tibo pegat berpotensi menimbulkan masalah rumah tangga hingga perceraian, namun hal tersebut tidak mutlak.
Suara.com - Dalam tradisi masyarakat Jawa, perhitungan weton masih menjadi salah satu pedoman penting sebelum memutuskan menikah. Banyak keluarga yang meminta sesepuh atau ahli primbon untuk menghitung kecocokan jodoh berdasarkan hari lahir dan pasaran kedua calon pengantin.
Salah satu hasil perhitungan yang sering membuat khawatir adalah weton tibo pegat. Istilah ini tidak jarang membuat pasangan atau orang tua berpikir dua kali sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Weton sendiri merupakan kombinasi antara hari dalam seminggu (Minggu hingga Sabtu) dan pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Setiap hari dan pasaran memiliki nilai neptu tertentu.
Ketika neptu kedua calon dijumlahkan, hasilnya akan jatuh pada salah satu dari delapan kategori perjodohan menurut primbon. Salah satunya adalah pegat atau yang lebih dikenal sebagai tibo pegat.
Bagi sebagian orang, mendengar kata “pegat” saja sudah cukup membuat was-was. Apalagi jika digabung dengan kata “tibo” yang berarti jatuh. Kombinasi ini seolah menggambarkan perjalanan rumah tangga yang penuh tantangan dan berpotensi berakhir dengan perpisahan.
Namun, apakah benar weton tibo pegat selalu membawa nasib buruk? Ataukah hanya sekadar peringatan agar pasangan lebih berhati-hati?
Pengertian Weton Tibo Pegat
Weton tibo pegat adalah salah satu hasil perhitungan neptu jodoh dalam primbon Jawa. Kata “tibo” berarti jatuh, sedangkan “pegat” berarti cerai atau berpisah. Jadi secara harfiah, tibo pegat berarti jatuh pada kondisi yang berpotensi menyebabkan perceraian.
Menurut primbon, jika jumlah neptu weton pria dan wanita menghasilkan angka 1, 9, 17, 25, atau 33, maka pasangan tersebut dikatakan tibo pegat.
Rumah tangga mereka dipercaya akan sering menghadapi berbagai masalah, mulai dari persoalan ekonomi, perbedaan pendapat yang tajam, masalah kekuasaan dalam keluarga, hingga potensi perselingkuhan. Masalah-masalah tersebut dikhawatirkan dapat berujung pada perpisahan di tengah jalan.
Meski begitu, perlu digarisbawahi bahwa hitungan ini bersifat tradisional dan tidak bersifat mutlak.
Banyak pasangan yang tetap menikah meskipun hasilnya tibo pegat, lalu menjalani rumah tangga yang harmonis berkat saling pengertian, komunikasi yang baik, dan usaha bersama.
Cara Menghitung Weton Jodoh
Untuk mengetahui apakah suatu pasangan tibo pegat atau tidak, langkah pertama adalah mengetahui weton masing-masing. Berikut nilai neptu yang biasa digunakan:
Hari:
- Minggu = 5
- Senin = 4
- Selasa = 3
- Rabu = 7
- Kamis = 8
- Jumat = 6
- Sabtu = 9
- Pasaran:
- Legi = 5
- Pahing = 9
- Pon = 7
- Wage = 4
- Kliwon = 8
Cara menghitungnya cukup sederhana. Jumlahkan neptu hari dan pasaran calon pria, kemudian lakukan hal yang sama untuk calon wanita. Setelah itu, jumlahkan kedua hasil tersebut. Jika totalnya 1, 9, 17, 25, atau 33, maka termasuk tibo pegat.
Contoh: Seorang pria lahir Senin Legi (4 + 5 = 9), wanita lahir Senin Wage (4 + 4 = 8). Total 9 + 8 = 17. Hasil ini termasuk tibo pegat.
Makna dan Pandangan Masyarakat
Dalam pandangan primbon, tibo pegat menjadi peringatan agar pasangan lebih siap menghadapi tantangan rumah tangga. Banyak sesepuh menyarankan untuk melakukan ruwatan atau memilih hari pernikahan yang baik sebagai upaya “menangkal” pengaruh negatif.
Ada juga yang tetap melanjutkan pernikahan dengan keyakinan bahwa rezeki, jodoh, dan ajal ada di tangan Tuhan.
Delapan kategori hitungan jodoh secara umum adalah:
- Pegat (1, 9, 17, 25, 33)
- Ratu (2, 10, 18, 26, 34)
- Jodoh (3, 11, 19, 27, 35)
- Topo (4, 12, 20, 28, 36)
- Tinari (5, 13, 21, 29)
- Padu (6, 14, 22, 30)
- Sujanan (7, 15, 23, 31)
- Pesthi (8, 16, 24, 32)
Tibo pegat memang termasuk yang kurang diinginkan, tetapi bukan berarti pasangan dengan hasil ini tidak bisa bahagia. Banyak kisah nyata pasangan tibo pegat yang justru semakin erat karena mereka sadar harus bekerja lebih keras menjaga keharmonisan.
Intinya, weton tibo pegat adalah bagian dari warisan budaya Jawa yang kaya akan makna. Ia bukan sekadar ramalan, melainkan cerminan kearifan lokal yang mengajak manusia untuk lebih bijaksana dalam membangun rumah tangga.