-
Aktivitas kapal dagang di Selat Hormuz anjlok drastis menjadi lima kapal per hari.
-
Iran menegaskan pembicaraan diplomasi dengan Oman tidak bertujuan membuka kembali Selat Hormuz.
-
Jalur pelayaran Selat Hormuz baru dibuka jika Amerika Serikat memenuhi nota kesepahaman.
Suara.com - Lalu lintas pelayaran kapal di Selat Hormuz kembali terpuruk jauh di bawah rata-rata harian akibat blokade dan ancaman keamanan yang membayangi perairan strategis tersebut. Hanya ada lima kapal komoditas yang melintas pada Selasa, mempertegas bahwa keterpurukan aktivitas maritim di kawasan ini masih belum menunjukkan tanda-tanda pulih.
Data terbaru Kpler mencatat dua tanker LPG dan satu kapal pembawa bitumen bergerak keluar, sementara dua tanker produk minyak tanpa muatan baru saja memasuki kawasan tersebut. Meskipun angka ini sedikit naik jika dibandingkan hari Senin yang hanya dilintasi satu kapal, volumenya sangat jauh di bawah rata-rata harian yang biasanya mencapai 15 kapal.
Estimasi jumlah kapal melintas ini masih berpotensi berubah mengingat banyaknya nakhoda yang sengaja mematikan transponder kapal mereka demi menghindari pelacakan radar. Ketatnya pengawasan dan situasi geopolitik yang memanas memaksa armada pelayaran global ekstra waspada saat melintasi rute energi vital dunia ini.
![Ilustrasi kapal tanker Pacific Topaz yang beraktivitas mengangkut minyak mentah [Unsplash/Haydn]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/13/27419-ilustrasi-kapal-tanker-ilustrasi-selat-hormuz.jpg)
Keterlibatan Oman dalam memediasi dinamika di kawasan tersebut sejauh ini belum mampu melunakkan ketegangan geopolitik yang ada. Iran secara tegas menyatakan bahwa proses diplomasi dengan Oman tidak dirancang untuk memulihkan akses pelayaran komersial secara instan.
Apakah Pembicaraan Iran dan Oman Akan Membuka Kembali Selat Hormuz?
Pemimpin Redaksi koran Al-Wefaq Iran, Mokhtar Haddad, menegaskan bahwa dialog diplomatik yang berlangsung saat ini merupakan agenda terpisah dari pengoperasian kembali rute maritim tersebut.
"Iran dan Kesultanan Oman telah lama membahas masalah ini. Namun bukan berarti Iran akan membuka Selat Hormuz," ujar Mokhtar Haddad kepada Al Jazeera.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah Tehran sengaja memisahkan urusan negosiasi bilateral dari kebijakan pembukaan jalur pelayaran.
"Iran selalu menekankan bahwa jalur pembicaraan ini terpisah dari masalah pembukaan kembali Selat tersebut," kata Haddad sambil merinci urutan proses yang dimulai dari perjanjian sementara, sebelum akhirnya perjanjian final diumumkan.
Haddad kembali menegaskan bahwa kesepakatan akhir diplomasi tersebut nantinya tidak serta-merta mengembalikan kebebasan navigasi kapal-kapal asing.
"Apakah itu berarti membuka kembali Selat Hormuz? Tidak, tentu saja tidak," ujarnya sembari menambahkan bahwa pejabat Iran telah mengonfirmasi hal ini.
Apa Syarat Utama Iran untuk Membuka Kembali Jalur Pelayaran?
Tehran menetapkan syarat tunggal kepada pemerintah Amerika Serikat jika ingin meloloskan kembali arus lalu lintas kapal di kawasan perairan vital tersebut.
Sikap keras Iran hanya bisa melunak jika Washington bersedia kembali mematuhi dan menjalankan seluruh poin kesepakatan tertulis yang pernah disetujui bersama.
"Posisi Iran akan tetap bertahan kecuali AS menerima persyaratan Iran yang tercantum dalam nota kesepahaman. Washington harus kembali mengimplementasikan nota kesepahaman tersebut agar status Selat Hormuz bisa berubah," jelas Haddad.
Pengetatan lalu lintas laut ini bermula dari memanasnya hubungan diplomatik dan militer antara Iran dengan negara-negara Barat di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi distribusi minyak dunia yang menyalurkan sepertiga pasokan minyak mentah jalur laut global setiap harinya.