Suara.com - Masalah sampah plastik menjadi semakin rumit karena tidak semua jenis plastik mudah didaur ulang. Kantong kresek, bungkus makanan, botol sampo, jeriken, hingga plastik campuran kerap berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar terbuka, yang berisiko menambah pencemaran udara.
Persoalan ini juga berkaitan dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Laporan Center for International Environmental Law (CIEL) mencatat lebih dari 99 persen plastik dunia dibuat dari bahan kimia yang bersumber dari bahan bakar fosil.
Menurut Guru Besar Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Rochmadi, industri petrokimia umumnya menggunakan nafta, fraksi minyak bumi yang diolah menjadi etilena dan propilena. Keduanya menjadi bahan dasar plastik seperti polietilena dan polipropilena.
Dengan demikian, plastik dan bahan bakar minyak memiliki sumber yang sama, yakni minyak bumi. Plastik pun masih menyimpan energi dalam bentuk rantai hidrokarbon. Persoalannya adalah bagaimana energi tersebut dapat dimanfaatkan kembali setelah plastik menjadi limbah.
Salah satu upaya dilakukan di Desa Cepaka, Kabupaten Tabanan, Bali. Yayasan sosial COCO Social Fund melalui fasilitas Kimnara mengolah plastik yang sulit didaur ulang menjadi bahan bakar minyak alternatif menggunakan teknologi pirolisis.
Pirolisis untuk memanfaatkan kembali plastik
Pirolisis dilakukan dengan memanaskan plastik pada suhu tinggi dalam kondisi tanpa atau sangat sedikit oksigen. Proses ini memecah rantai molekul panjang menjadi molekul yang lebih pendek.
Hasilnya berupa minyak, gas, dan sedikit residu karbon. Minyak tersebut kemudian dapat dimurnikan lebih lanjut untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang menyerupai solar dan bensin.
Teknologi ini tidak mengubah plastik kembali menjadi minyak bumi. Pirolisis lebih tepat dipahami sebagai upaya mengambil kembali sebagian energi yang tersimpan dalam plastik.
Proses dalam reaktor tertutup juga dapat menjadi alternatif dibandingkan pembakaran terbuka karena pelepasan asap dan polutan secara langsung dapat ditekan. Namun, pirolisis bukan tanpa risiko. Pengendalian suhu, perawatan fasilitas, pengelolaan residu, serta pemantauan emisi tetap diperlukan agar manfaatnya tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.
Tidak berhenti pada teknologi
Di Cepaka, pengolahan sampah juga melibatkan masyarakat. COCO Social Fund menyebut sistemnya memiliki tingkat pemulihan plastik hingga 85 persen dan memproses sedikitnya tujuh jenis plastik, termasuk PET, HDPE, PVC, LDPE, PP, PS, serta plastik campuran.
Warga dari desa sekitar Tabanan dilibatkan dalam pemilahan sampah. Sementara itu, Cepaka Learning Center menjadi ruang edukasi bagi pelajar, relawan, dan wisatawan untuk melihat langsung proses pengelolaan sampah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pirolisis dapat menjadi salah satu pilihan untuk menangani plastik yang sulit didaur ulang secara konvensional. Namun, teknologi tersebut bukan pengganti upaya mengurangi penggunaan plastik maupun memperkuat sistem daur ulang.
Tantangannya adalah memastikan seluruh proses—dari pemilahan, pengolahan, pemurnian hingga pengelolaan emisi dan residu—memenuhi standar lingkungan dan keselamatan.
Penulis: Inesia Dian