- Museum BNPT di Bogor menghadirkan artefak Bom Bali I dan berbagai barang bukti untuk mengedukasi masyarakat.
- Koleksi tersebut berfungsi memperkuat pencegahan bahaya terorisme dan membangun literasi warga.
- Penyajian bukti sejarah ini bertujuan merawat ingatan publik agar menolak kekerasan dan memperkuat karakter kebangsaan.
Suara.com - Dinding putih Museum Nasional Penanggulangan Terorisme BNPT Adhi Pradana di Kecamatan Citeureup, Bogor, Jawa Barat, menghadirkan ruang edukasi yang mengajak pengunjung memahami sejarah penanggulangan terorisme di Indonesia.
Di antara koleksi yang tersimpan, sebuah mobil Mitsubishi putih bernomor polisi DK 1822 CW menjadi salah satu artefak penting. Kendaraan tersebut merupakan bagian dari sejarah peristiwa Bom Bali I pada 2002 yang meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
Kepala Biro Umum selaku Kepala Museum BNPT, Marsma TNI Asep Dicky Lukman Wijaya, menjelaskan bahwa keberadaan koleksi sejarah di museum memiliki fungsi penting dalam membangun pemahaman masyarakat mengenai bahaya terorisme sekaligus memperkuat upaya pencegahan.
“Kami memberikan gambaran. Pencegahan itu salah satunya selain tindakan fisik, bahwa di dalam museum ini kami akan menyampaikan beberapa sejarah,“ ujar Dicky di sela kunjungan Suara.com ke lokasi.
Di dalam kabin mobil tersebut, pengunjung bisa melihat langsung rangkaian kotak plastik biru yang saling terhubung kabel rumit sebagai wadah bahan peledak.
![Kepala Biro Umum selaku Kepala Museum BNPT, Marsma TNI Asep Dicky Lukman Wijaya menunjukan mobil Mitsubishi putih bernomor polisi DK 1822 CW, salah satu artefak terkait peristiwa Bom Bali I pada 2002. [Suara.com/Adiyoga]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/03/29420-kepala-museum-bnpt-marsma-tni-asep-dicky-lukman-wijaya.jpg)
Sejumlah artefak yang berkaitan dengan berbagai peristiwa tindak pidana terorisme ditampilkan sebagai bagian dari narasi sejarah.
Di antaranya komponen yang pernah digunakan dalam aksi teror, tabung gas, botol kaca yang berkaitan dengan kasus di Solo pada 2012, serta sejumlah barang bukti dari berbagai peristiwa lainnya.
Koleksi tersebut tidak semata-mata ditampilkan sebagai benda sejarah, tetapi menjadi media pembelajaran agar masyarakat memahami bagaimana berbagai bentuk kekerasan dapat menimbulkan dampak yang luas terhadap kehidupan manusia.
“Siapa yang menyangka, bahwa menggunakan tabung gas seperti ini dia bisa jadi bahan untuk meledakkan?,“ lanjut Dicky.
Deretan botol kaca berisi cairan nitroglycerin dari kasus Solo tahun 2012 juga menunjukkan betapa bahayanya bahan kimia jika jatuh ke tangan yang salah.
Panci presto di dalam tas ransel serta rompi bunuh diri dari kasus Surabaya pun terpajang dingin di balik kaca sebagai pengingat akan hilangnya rasa kemanusiaan.
Di sudut lain, senjata mesin M60 bersanding dengan senjata rakitan dari kasus Poso yang menjadi simbol kekerasan nyata di masa lalu.
![Komponen yang pernah digunakan dalam aksi teror berupa tabung gas, botol kaca yang berkaitan dengan kasus di Solo pada 2012. [Suara.com/Adiyoga]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/03/44596-museum-nasional-penanggulangan-terorisme-bnpt.jpg)
Melalui penyajian artefak tersebut secara kontekstual, pengunjung diajak memahami bahwa benda-benda yang berada di sekitar kehidupan sehari-hari dapat memiliki risiko apabila disalahgunakan.
Karena itu, literasi dan kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang aman dan tangguh.
"Nah, ini sebetulnya literasi ini yang kami mau tampilkan sama anak-anak muda khususnya ya, anak-anak muda kita," kata Dicky.