- CEO DANA Vince Iswara membahas adopsi AI di IdeaFest 2026 demi menyelesaikan persoalan nyata.
- Penerapan AI di DANA sepanjang 2025 meningkatkan produktivitas 57 persen serta menurunkan perjudian online 80 persen.
- CTO DANA Norman Sasono menyatakan manusia tetap bertanggung jawab atas konteks, keputusan, dan manajemen risiko.
Suara.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlahan menjadi bagian dari keseharian. Jika sebelumnya AI terasa seperti teknologi yang hanya digunakan oleh perusahaan besar atau mereka yang bekerja di bidang teknologi, kini keberadaannya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mulai dari membantu mencari ide, merangkum informasi, membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, hingga membantu menyelesaikan pekerjaan, AI menawarkan kemudahan yang membuat banyak orang mulai mengubah cara mereka beraktivitas.
Namun, semakin mudah AI digunakan, muncul pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah penggunaan teknologi tersebut benar-benar membuat hidup dan pekerjaan menjadi lebih baik?
Pertanyaan ini menjadi salah satu pembahasan dalam AI@Work Lab di IdeaFest 2026. Dalam sesi “The AI Adoption Trap: Moving Beyond Hype to Real Business Value”, Vince Iswara, CEO & Co-Founder DANA Indonesia, bersama Raymond Chin, Founder Genesis & Sevenpreneur, membahas fenomena ketika AI digunakan secara masif tetapi belum tentu memberikan dampak yang nyata.
Menurut Vince, ukuran keberhasilan AI seharusnya tidak berhenti pada seberapa sering teknologi tersebut digunakan. Yang lebih penting adalah persoalan apa yang berhasil diselesaikan dan perubahan apa yang dihasilkan.
“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur. Namun, manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya,” ujar Vince.
Pandangan tersebut sebenarnya relevan bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi kehidupan sehari-hari. Kehadiran AI bukan berarti manusia harus menyerahkan seluruh pekerjaan kepada mesin.
Sebaliknya, AI dapat menjadi alat untuk menghemat waktu dan membantu seseorang bekerja lebih efisien, sementara keputusan penting tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
Fenomena itu juga terlihat dari perubahan cara bekerja. Di lingkungan Dana, sekitar 80-90 persen kode dihasilkan dengan dukungan AI. Meski demikian, pekerjaan engineer tidak kemudian selesai begitu saja.
Mereka tetap harus memahami persoalan yang ingin diselesaikan, menentukan rancangan sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, hingga mengambil keputusan atas hasil akhirnya.
Artinya, ketika pekerjaan teknis tertentu semakin mudah dilakukan dengan bantuan AI, kemampuan manusia justru bergeser ke hal-hal yang lebih mendasar: memahami konteks, berpikir kritis, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab.
Dampaknya pun mulai terlihat. Sepanjang 2025, penerapan agentic AI pada sejumlah proses operasional Dana disebut mencatat peningkatan produktivitas hingga 57 persen, kepuasan pelanggan meningkat 13 persen, serta penyelesaian layanan menjadi 10 persen lebih cepat.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa AI pada akhirnya bukan sekadar soal mengikuti tren. Teknologi baru akan terasa manfaatnya ketika benar-benar membantu seseorang menyelesaikan pekerjaan atau persoalan dengan lebih baik.
Ketika AI Masuk ke Rutinitas Sehari-hari
Perubahan tersebut pada akhirnya turut memengaruhi gaya hidup. Banyak orang kini mulai terbiasa memiliki “asisten digital” yang dapat membantu berbagai aktivitas, meski dalam bentuk yang sederhana.
AI bisa digunakan untuk mencari inspirasi menu makan, menyusun jadwal perjalanan, membantu membuat daftar pekerjaan, mencari ide hadiah, hingga menemani proses belajar. Bagi pekerja, AI juga dapat membantu pekerjaan administratif yang sebelumnya menghabiskan banyak waktu.
Namun, kemudahan tersebut membawa tantangan baru. Ketika segala sesuatu dapat dilakukan dengan lebih cepat, manusia justru dituntut untuk semakin selektif dalam menentukan apa yang memang perlu dibantu AI dan apa yang tetap harus dikerjakan sendiri.
Hal ini juga berkaitan dengan keamanan dan tanggung jawab. Dalam kehidupan digital, tidak semua aktivitas bisa dilakukan dengan prinsip “semakin mudah semakin baik”.
Dana, misalnya, menerapkan pendekatan Smart Friction dengan menambahkan lapisan verifikasi pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi. Bersama PPATK, pendekatan tersebut disebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas yang terindikasi perjudian online di platform hingga 80 persen sepanjang 2025.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa terkadang pengalaman digital yang baik bukan berarti semuanya harus dibuat serba instan. Ada situasi tertentu ketika sedikit “gesekan” justru dibutuhkan agar seseorang lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan.
Bukan Lagi Sekadar Bisa Menggunakan AI
Perubahan cara bekerja akibat AI juga membuat keterampilan yang dibutuhkan manusia ikut berubah.
Dalam sesi “Beyond Coding: Building a Career AI Can’t Replace”, Norman Sasono, CTO Dana Indonesia, bersama Sai Prasad Kolluri, CTO Google Cloud Indonesia, dan Abil Sudarman, Founder ASSAI, membahas bagaimana perkembangan AI memengaruhi profesi software engineer.
Coding tetap menjadi kemampuan penting. Namun, kemampuan memahami kebutuhan, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta melihat risiko menjadi semakin bernilai.
“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong. Ketika kode semakin mudah dihasilkan, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan akuntabilitas justru menjadi semakin penting,” ujar Norman.
Pesan tersebut sebenarnya berlaku lebih luas di luar dunia teknologi. Di tengah kehidupan yang semakin dibantu AI, kemampuan manusia untuk berpikir, memahami konteks, berkomunikasi, berempati, dan menentukan pilihan justru tidak kehilangan relevansinya.
AI mungkin dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik. Tetapi manusia tetap perlu menentukan apakah jawaban tersebut masuk akal, sesuai kebutuhan, dan tepat untuk digunakan.
Karena itu, tren AI ke depan tampaknya bukan semata-mata tentang siapa yang paling cepat menggunakan teknologi terbaru. Lebih dari itu, tantangannya adalah bagaimana manusia bisa menjadikan AI sebagai bagian dari kehidupan tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan sendiri.
Pada akhirnya, AI mungkin akan semakin hadir dalam rutinitas sehari-hari. Tetapi seberapa besar manfaatnya tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya.
Teknologi bisa membantu mempercepat banyak hal. Namun, tujuan, pertimbangan, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.