Transisi Hijau Industri Batik, Bagaimana Perlindungan Pekerjanya?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 10 September 2026 | 14:53 WIB
Transisi Hijau Industri Batik, Bagaimana Perlindungan Pekerjanya?
Seorang wanita Indonesia yang membuat desain batik rumit secara manual. (dok.Pexels/ Ruyat Supriazi)

Suara.com - Pembahasan mengenai transisi hijau selama ini lebih banyak dikaitkan dengan sektor energi, mulai dari pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, nasib pekerja tambang, hingga pendanaan energi bersih.

Padahal, upaya menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan juga menyasar sektor lain, termasuk industri batik.

Sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia dengan nilai ekspor lebih dari Rp500 miliar pada 2025, industri batik didorong menerapkan praktik produksi yang lebih ramah lingkungan.

Upaya tersebut antara lain melalui penerapan Standar Industri Hijau (SIH), penggunaan teknologi tepat guna, kompor listrik hemat energi, pengelolaan air limbah, hingga pemanfaatan pewarna alami seperti kulit mahoni dan daun indigofera.

Namun, membuat batik lebih hijau tidak sesederhana mengganti bahan pewarna. Perubahan tersebut dapat menambah tahapan dan beban kerja pembatik.

Di sejumlah sentra batik di Pekalongan, Jawa Tengah, misalnya, kain dengan pewarna alami dapat dicelup hingga delapan kali agar warna meresap optimal.

Jumlah ini bisa lebih dari tiga kali lipat dibandingkan penggunaan pewarna sintetis. Proses tambahan juga muncul sejak penyiapan dan pemilahan bahan, pewarnaan berulang, hingga penjemuran.

Persoalannya, tambahan beban kerja tersebut belum otomatis diikuti peningkatan pendapatan atau perlindungan bagi pekerja.

Riset yang dikutip The Conversation bersama Kemitraan mengenai adaptasi perubahan iklim di Pekalongan menunjukkan manfaat sertifikasi hijau dan pasar premium batik belum berbanding lurus dengan kesejahteraan pekerjanya.

baca juga

Kondisi ini semakin kompleks karena banyak pembatik masih bekerja di sektor informal. Posisi tersebut membuat pengaturan upah, jam kerja, akses pasar, dan perlindungan sosial lebih sulit dijamin.

Komnas Perempuan pada 2024 mencatat banyak pekerja rumahan, termasuk pembatik, hanya memperoleh Rp500 ribu hingga Rp2,5 juta per bulan.

Pendapatan tersebut bahkan berada di bawah upah minimum Kota Pekalongan. Akses perlindungan sosial juga masih menjadi persoalan karena pekerja informal harus membayar sendiri iuran BPJS Ketenagakerjaan melalui skema Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU).

Bukan Sekadar Membuat Industri Hijau

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transisi hijau tidak cukup diukur dari seberapa banyak limbah yang dikurangi, air yang dihemat, bahan alami yang digunakan, atau sertifikasi yang diperoleh.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menegaskan bahwa transisi berkeadilan juga mencakup pekerjaan layak, perlindungan sosial, kesetaraan gender, dan dialog sosial. Pekerja informal perlu mendapat perhatian agar tidak semakin rentan ketika industri mengalami perubahan.

Artinya, perempuan pembatik tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai tenaga kerja yang menjalankan proses produksi hijau. Mereka juga perlu dilibatkan dalam menentukan bagaimana perubahan tersebut dilakukan, termasuk ketika perubahan teknologi atau bahan baku menambah beban kerja.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR) turut menekankan pentingnya perlindungan bagi pekerja informal dalam kebijakan transisi, termasuk melalui pemberdayaan, inklusi, dan jaring pengaman sosial.

Sejumlah upaya perlindungan sebenarnya telah berjalan. Pemerintah Kota Pekalongan, misalnya, memiliki program Batik Berlian yang membantu membiayai iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja nonformal, termasuk buruh batik. Program ini memberikan perlindungan terhadap risiko kecelakaan kerja dan kematian.

Namun, perlindungan tidak semestinya hanya bergantung pada bantuan pemerintah.

Transisi hijau di industri batik perlu melihat secara utuh siapa yang melakukan pekerjaan tambahan, siapa yang memperoleh manfaat ekonomi, dan siapa yang menanggung risikonya.

Dengan begitu, sertifikasi dan insentif hijau dapat berjalan beriringan dengan upah layak, jaminan sosial, kondisi kerja yang adil, serta keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan.

Sebab, batik yang ramah lingkungan belum tentu ramah terhadap pekerjanya. Transisi baru dapat disebut hijau sekaligus berkeadilan ketika lingkungan yang dilindungi berjalan berdampingan dengan pekerja yang juga mendapatkan perlindungan.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pekerja Perempuan Dominasi Perkebunan Sawit, Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Upah

Pekerja Perempuan Dominasi Perkebunan Sawit, Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Upah

News | Rabu, 09 September 2026 | 22:09 WIB

Bandara Soetta Tutup, Ini Cara Refund Tiket Garuda Indonesia, Citilink hingga Lion Air

Bandara Soetta Tutup, Ini Cara Refund Tiket Garuda Indonesia, Citilink hingga Lion Air

Bisnis | Senin, 07 September 2026 | 10:28 WIB

Erupsi Anak Krakatau Bikin Maskapai Angkat Tangan, 20 Penerbangan Malaysia-Jakarta Batal Terbang

Erupsi Anak Krakatau Bikin Maskapai Angkat Tangan, 20 Penerbangan Malaysia-Jakarta Batal Terbang

News | Minggu, 06 September 2026 | 16:20 WIB

Terkini

Baekhyun EXO Dirikan Agensi Baru, CBX Dikabarkan Siap Bernaung Bersama

Baekhyun EXO Dirikan Agensi Baru, CBX Dikabarkan Siap Bernaung Bersama

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:47 WIB

5 Rekomendasi Jam Tangan Digital Awet dan Terjangkau, Cocok Dipakai Outdoor dan Indoor

5 Rekomendasi Jam Tangan Digital Awet dan Terjangkau, Cocok Dipakai Outdoor dan Indoor

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:45 WIB

Penyaluran BSU Dinilai Bias Sektor Formal, Pakar UGM Desak Integrasi Basis Data Tunggal

Penyaluran BSU Dinilai Bias Sektor Formal, Pakar UGM Desak Integrasi Basis Data Tunggal

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:45 WIB

Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?

Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:40 WIB

7 Bedak Tabur Tanpa Minyak Wewangian dan Alkohol untuk Kulit Sensitif

7 Bedak Tabur Tanpa Minyak Wewangian dan Alkohol untuk Kulit Sensitif

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:38 WIB

MA Batalkan Penyetaraan Pendidikan Gibran, PKS Desak DPR Ambil Sikap Konstitusional

MA Batalkan Penyetaraan Pendidikan Gibran, PKS Desak DPR Ambil Sikap Konstitusional

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:33 WIB

Ada Wine Asli Bali di Balik Pesona Pulau Dewata, Begini Karakter Rasa dari Kebun Tropisnya

Ada Wine Asli Bali di Balik Pesona Pulau Dewata, Begini Karakter Rasa dari Kebun Tropisnya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Berapa Lama Masa Berlaku SKCK?

Berapa Lama Masa Berlaku SKCK?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:15 WIB

Cara Memeriksa Izin Aplikasi Android agar Privasi Lebih Terjaga, Cegah Datamu Dijual ke Pengiklan!

Cara Memeriksa Izin Aplikasi Android agar Privasi Lebih Terjaga, Cegah Datamu Dijual ke Pengiklan!

Tekno | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:07 WIB

5 HP Tecno Kamera 108 MP Paling Murah, RAM Besar untuk Multitasking

5 HP Tecno Kamera 108 MP Paling Murah, RAM Besar untuk Multitasking

Tekno | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:07 WIB

×