Mengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili Sulawesi Tengah

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 10 September 2026 | 17:42 WIB
Mengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili Sulawesi Tengah
Mengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili Sulawesi Tengah. (Dok. Istimewa)
baca 10 detik
  • Perempuan Kaili di Sulawesi Tengah secara tradisional menggunakan lulur ketan hitam bernama badabida untuk calon pengantin.
  • Nelam Ayu Kusuma mendirikan Nelamayu Tradisional pada tahun 2018 untuk memasarkan resep perawatan kulit warisan keluarganya.
  • Usaha tersebut berkembang melalui program inkubasi tahun 2023 dengan melibatkan petani Sigi dan menerapkan ekonomi sirkular.

Suara.com - Jauh sebelum lulur dan masker tubuh dijual dalam berbagai kemasan modern, perempuan Kaili di Sulawesi Tengah telah menggunakan ketan hitam sebagai bagian dari ritual perawatan menjelang pernikahan.

Lulur tersebut dikenal sebagai badabida. Dalam tradisi nombungu, calon pengantin menjalani rangkaian perawatan tubuh dan wajah menggunakan bahan-bahan alami. Salah satunya adalah ketan hitam yang diolah menjadi lulur atau masker untuk merawat kulit.

“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar pendiri Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Nelam Ayu Kusuma. 

Mengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili Sulawesi Tengah. (Dok. Istimewa)
Mengenal Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili Sulawesi Tengah. (Dok. Istimewa)

Dahulu, badabida dibuat dalam bentuk bedak atau masker sederhana. Nelam kemudian mengembangkannya menjadi body scrub agar lebih praktis digunakan oleh konsumen saat ini.

Namun, ia tidak ingin badabida hanya dikenal sebagai produk perawatan berbahan alami. Bagi Nelam, cerita tentang perempuan Kaili dan pengetahuan yang diwariskan di dalam keluarga merupakan bagian penting dari produk tersebut.

Berawal dari Resep Sang Nenek

Nelam juga menguasai pengetajuan tentang perawatan tradisional bada kumba, bedak dingin berbahan beras dan rempah yang telah lama digunakan di dalam keluarganya.

Resep bada kumba ia peroleh dari neneknya, perawat herbal di kampung pada masa pendudukan Jepang. Ketika obat-obatan sulit diperoleh, sang nenek meracik bedak dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan sejumlah rempah lainnya.

Racikan itu digunakan secara turun-temurun di dalam keluarga untuk merawat kulit bayi dan anak-anak. Nelam kemudian mempelajari kembali bahan dan proses pembuatannya agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada generasinya.

baca juga

Cerita keluarga itu menjadi dasar berdirinya Nelamayu Tradisional pada 2018. Pada awalnya, produk Nelam lebih banyak digunakan oleh calon pengantin yang masih mengenal tradisi nombungu.

Seiring waktu, produknya mulai menjangkau konsumen yang tertarik pada perawatan tubuh berbahan alami dan tradisi kecantikan dari berbagai daerah di Indonesia.

“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tetapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” kata Nelam.

Membawa Tradisi ke Pasar Modern

Mengubah resep keluarga menjadi produk yang dapat dipasarkan lebih luas tidak cukup hanya dengan membuat kemasan baru. Nelam juga perlu memahami kebersihan dan keamanan produk, klasifikasi yang tepat, perizinan, serta batas klaim manfaat yang dapat digunakan.

Titik penting dalam perkembangan Nelamayu Tradisional terjadi ketika usaha tersebut mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Selama enam bulan, Nelam memperoleh pendampingan dalam pengembangan produk, penguatan usaha, pengurusan perizinan, pemasaran, dan akses pasar.

“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungannya,” ujar Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari.

Pendampingan tersebut membantu Nelam memahami posisi produknya dalam ketentuan yang berlaku. Produk yang sebelumnya berada di antara perawatan tradisional dan kosmetik modern diarahkan untuk memenuhi persyaratan sesuai klasifikasi dan penggunaannya.

Menggunakan Ketan Hitam dari Petani Sigi

Ketan hitam yang digunakan untuk membuat badabida diperoleh dari petani di Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Dalam satu kali pembelian, Nelam dapat menyerap hingga 25 kilogram ketan hitam.

Proses produksinya juga berusaha mengurangi bahan yang terbuang. Dedak hasil penggilingan beras dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau disalurkan kembali kepada petani. Abu dari proses sangrai digunakan sebagai abu gosok rumah tangga. Model ini mencerminkan praktik ekonomi sirkular berbasis rumah tangga.

Menurut Nedya, inilah bentuk nyata ekonomi restoratif.

“Ketika lingkungan dijaga, sumber daya alam dimanfaatkan secara bijak, dan masyarakat lokal terlibat langsung, maka pemulihan ekonomi terjadi secara alami. Pendapatan meningkat, budaya tetap hidup, dan alam tidak dieksploitasi,” katanya.

Sebagai asosiasi pemerintah kabupaten, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) memiliki visi mewujudkan kemandirian kabupaten melalui model ekonomi restoratif. LTKL mendukung proses yang dijalankan Gampiri sebagai bagian dari upaya kolektif memperkuat ekosistem ekonomi lokal, membangun resiliensi, dan mendorong terwujudnya visi kabupaten lestari di masa depan. 

Bagi Nelam, membawa badabida ke pasar yang lebih luas bukan berarti mengubahnya menjadi sekadar produk kecantikan. Ia ingin konsumen juga mengenal cerita perempuan Kaili yang hidup di dalamnya.

Dari resep yang dahulu diwariskan seorang nenek di dalam keluarga, badabida dan bada kumba kini menemukan jalan menuju generasi baru.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lulur Keraton Kembali Jadi Sorotan, Warisan Kecantikan Nusantara yang Tetap Relevan hingga Kini

Lulur Keraton Kembali Jadi Sorotan, Warisan Kecantikan Nusantara yang Tetap Relevan hingga Kini

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:09 WIB

Body Mask dan Lulur Apa Bedanya? Pahami sebelum Mulai Perawatan Tubuh

Body Mask dan Lulur Apa Bedanya? Pahami sebelum Mulai Perawatan Tubuh

Lifestyle | Sabtu, 04 Juli 2026 | 16:19 WIB

4 Rekomendasi Lulur Mandi Viva dan Daftar Harganya untuk Kulit Lebih Cerah

4 Rekomendasi Lulur Mandi Viva dan Daftar Harganya untuk Kulit Lebih Cerah

Lifestyle | Rabu, 22 April 2026 | 17:03 WIB

Terkini

Manchester United Diambang Degradasi, Siapa Pelatih yang Mau Gantikan Carrick?

Manchester United Diambang Degradasi, Siapa Pelatih yang Mau Gantikan Carrick?

Bola | Minggu, 01 November 2026 | 16:55 WIB

AC Milan Hajar Inter 3-1, Derby Jadi Titik Balik Rossoneri dan Tamparan bagi Chivu

AC Milan Hajar Inter 3-1, Derby Jadi Titik Balik Rossoneri dan Tamparan bagi Chivu

Bola | Minggu, 01 November 2026 | 16:49 WIB

Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup

Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 16:45 WIB

Pemain Ini Dianggap Biang Kerok Kekalahan Memalukan Manchester United dari Chelsea

Pemain Ini Dianggap Biang Kerok Kekalahan Memalukan Manchester United dari Chelsea

Bola | Minggu, 01 November 2026 | 16:42 WIB

Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim

Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 16:41 WIB

5 Retinol Serum untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Atasi Kerutan dan Flek Hitam

5 Retinol Serum untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Atasi Kerutan dan Flek Hitam

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 16:21 WIB

Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah

Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 16:15 WIB

Viva Face Tonic Boleh Dipakai Umur Berapa? Simak Hal yang Perlu Diketahui

Viva Face Tonic Boleh Dipakai Umur Berapa? Simak Hal yang Perlu Diketahui

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 16:13 WIB

Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 16:12 WIB

Jejak Kontroversi Willie Salim: dari Rendang Hilang, Giveaway Settingan hingga Viral di Bundaran HI

Jejak Kontroversi Willie Salim: dari Rendang Hilang, Giveaway Settingan hingga Viral di Bundaran HI

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 16:05 WIB

×