- Musisi asal Indonesia, Jesica Yap, memenangkan penghargaan Best of North America di ICMA 2026.
- Komposisi instrumental terbarunya yang berjudul What the Mind Keeps masuk pertimbangan GRAMMY Awards 2027.
- Ia memperkenalkan karya kreatif Indonesia dan memimpin akademi musik yang siswanya tampil di panggung dunia.
Suara.com - Musisi asal Pematangsiantar, Sumatera Utara, Jesica Yap, terus mengembangkan kiprahnya di industri musik Amerika Serikat. Berkarier sebagai komposer, pianis, penyanyi-penulis lagu, dan produser musik, Jesica telah meraih sejumlah penghargaan internasional melalui karya orisinalnya.
Perjalanan musikal Jesica dimulai sejak usia enam tahun, ketika ia belajar piano klasik. Seiring waktu, ketertarikannya terhadap musik berkembang ke bidang komposisi, penulisan lagu, hingga produksi musik. Minat tersebut kemudian membawanya menempuh pendidikan Film Scoring di Berklee College of Music.
Salah satu pencapaian terbarunya diraih pada 2026 melalui ajang InterContinental Music Awards (ICMA), kompetisi musik internasional berbasis di Los Angeles yang diikuti musisi dari berbagai negara dan genre. Jesica memenangkan penghargaan Best of North America untuk kategori R&B melalui lagu orisinalnya, You Are Beautiful.
Lagu tersebut mengangkat pesan tentang penerimaan dan penghargaan terhadap diri sendiri. Selain itu, karya Jesica lainnya, Holding Strong, menjadi finalis kategori Pop dengan tema harapan dan keteguhan hati.
Penghargaan ICMA menambah rekam jejak Jesica di kancah musik internasional. Sebelumnya, ia dua kali memenangkan Hollywood Music in Media Awards (HMMA) melalui komposisi musik untuk film pendek berbahasa asing.
Ia juga meraih dua Bronze Medal dari Global Music Awards serta memperoleh nominasi Jerry Goldsmith Awards dan Hollywood Independent Music Awards melalui sejumlah karya orisinalnya.

Eksplorasi musikal Jesica tidak terbatas pada lagu berlirik. Pada Agustus 2026, ia merilis What the Mind Keeps, komposisi instrumental yang memadukan unsur minimalisme, neo-soul, jazz, dan R&B.
Melalui karya ini, ia mengeksplorasi tema ingatan dan pengalaman emosional dalam bentuk musik tanpa lirik.
“Bagi saya, musik selalu berkaitan dengan cerita dan pengalaman hidup. Melalui karya orisinal, saya memiliki kebebasan untuk menyampaikan gagasan dan perasaan, baik melalui lagu berlirik maupun komposisi instrumental,” ungkap Jesica.
Kiprah Jesica di Amerika Serikat juga menjadi bagian dari pengenalan talenta kreatif Indonesia di luar negeri.
Pada 7 Oktober 2026, ia terlibat dalam Indonesian Creative Diaspora Gathering yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Los Angeles, sebagai bagian dari rangkaian 4th Indonesia–U.S. Digital Technology Forum: Creative Economy.
Dalam kegiatan tersebut, What the Mind Keeps diperkenalkan melalui tayangan visual bersama karya dan pencapaian pelaku industri kreatif Indonesia lainnya. Pertemuan ini menjadi wadah untuk menampilkan potensi diaspora kreatif Indonesia yang berkarya di Amerika Serikat.
“Walaupun kini tinggal dan berkarya di Los Angeles, Indonesia tetap menjadi bagian penting dari identitas saya. Musik memberi saya kesempatan untuk terhubung dengan orang-orang dari berbagai budaya dan latar belakang,” ujar Jesica.
Selain berkarya, Jesica tercatat sebagai anggota dengan hak suara (Voting Member) di Recording Academy, organisasi penyelenggara GRAMMY Awards. Karya What the Mind Keeps juga masuk dalam materi For Your Consideration (FYC) untuk kategori Best Instrumental Composition pada musim penghargaan GRAMMY Awards 2027. Materi FYC merupakan bagian dari proses pertimbangan penghargaan, bukan penanda bahwa sebuah karya telah masuk nominasi resmi.
Di luar aktivitas penciptaan musik, Jesica turut membagikan pengalamannya melalui pendidikan. Ia mengelola Jesica Yap Music Academy di Los Angeles, tempat ia membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan dan kreativitas musikal dengan pendekatan yang mencakup piano klasik, komposisi, penulisan lagu, dan film scoring.
Sejumlah siswa yang dibimbingnya telah tampil di panggung ternama dunia, antara lain Walt Disney Concert Hall di Los Angeles, Carnegie Hall di New York, dan Musikverein di Wina, Austria.
Bagi Jesica, berkarya, mengajar, dan mengeksplorasi berbagai bentuk musik merupakan bagian dari perjalanan yang saling melengkapi. Ia memandang musik bukan sekadar medium ekspresi, melainkan juga cara untuk menyampaikan cerita dan mempertemukan pengalaman manusia dari latar belakang yang berbeda.
Informasi mengenai perjalanan kreatif dan karya terbaru Jesica dapat diakses melalui Instagram @jesicayap dan situs web www.jesicayap.com.