- Microsoft dan Biji-biji Initiative meluncurkan program Microsoft Elevate for Educators untuk memperkuat kapasitas guru dalam mengintegrasikan AI secara aman.
- Program tersebut memperkenalkan tiga sumber belajar bagi pendidik guna membangun literasi AI, kemampuan berpikir kritis, serta keamanan digital siswa.
- Peluncuran yang melibatkan sekitar 100 pendidik ini menekankan pentingnya kolaborasi dalam melindungi data pribadi dan menghindari ketergantungan teknologi.
Suara.com - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan membuka peluang baru dalam proses belajar.
Namun, siswa juga perlu memahami cara memeriksa kebenaran informasi, menjaga data pribadi, dan menghindari ketergantungan berlebihan pada teknologi tersebut.
Guru memiliki peran penting untuk membimbing siswa agar tidak sekadar menggunakan AI untuk mencari jawaban, tetapi juga mampu berpikir kritis dan mengevaluasi informasi yang dihasilkan.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Microsoft bersama Biji-biji Initiative memperkenalkan Microsoft Elevate for Educators. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran secara aman, etis, dan bertanggung jawab.

Director Public Policy, Digital Safety Microsoft, Madeline Shepherd mengatakan, literasi digital menjadi salah satu fondasi penting dalam penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Menurut dia, siswa perlu memiliki keterampilan untuk menilai informasi secara kritis, mengenali konten yang direkayasa, memeriksa fakta, serta memahami risiko ketergantungan berlebihan pada AI.
“Terlepas dari apakah siswa sudah menggunakan AI saat ini, mereka perlu memiliki keterampilan untuk menilai informasi secara kritis, mengenali konten yang direkayasa, memeriksa fakta, dan memahami risiko ketergantungan berlebihan pada AI,” ujar Madeline.
Melalui program tersebut, Microsoft memperkenalkan tiga sumber belajar yang dapat dimanfaatkan pendidik untuk membangun literasi AI dan keamanan digital di lingkungan sekolah.
Pertama, AI Classroom Toolkit: Unlocking Generative AI Safely and Responsibly, yang ditujukan bagi pendidik dengan siswa berusia 13–15 tahun.
Materi ini mencakup teknik menyusun instruksi atau prompt, mengenali informasi keliru yang dihasilkan AI, memeriksa fakta, menjaga privasi, serta memahami bias dalam informasi yang disajikan teknologi tersebut.
Kedua, Sumber Daya Literasi AI dan Media Baru, yang mendorong siswa untuk memverifikasi informasi melalui latihan dan kuis interaktif.
Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan tidak menerima jawaban AI begitu saja, melainkan membandingkan informasi dan mengevaluasi hasilnya secara mandiri.
Ketiga, Behind the Chat: A Human Guide to Safe AI Conversations, yang membahas penggunaan AI sebagai pendamping percakapan.
Materinya mencakup risiko keterikatan emosional, ketergantungan berlebihan, privasi, serta kebiasaan membagikan informasi pribadi kepada AI.
Director Microsoft Elevate Capacity Building Solution ASEAN, Supahrat Juramongkol mengatakan, keberhasilan pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga kemampuan guru menggunakannya secara bijak.
“Hal yang terpenting adalah memberdayakan guru agar dapat memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab, sekaligus memperkuat kemampuan berpikir kritis, melindungi siswa, dan memastikan pertimbangan manusia tetap menjadi inti dari proses pembelajaran,” ujarnya.
Peluncuran Microsoft Elevate for Educators melibatkan sekitar 100 guru, tenaga kependidikan, dan pegiat pendidikan. Para peserta mengikuti diskusi dan lokakarya untuk mengeksplorasi penggunaan AI dalam pembelajaran, termasuk memeriksa akurasi informasi, memahami risiko privasi, dan menerapkan penggunaan AI yang aman di ruang kelas.
Direktorat Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kemkomdigi, Okky Robiana Sulaeman, mengatakan pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan perlu diiringi pemahaman mengenai keamanan digital, perlindungan data pribadi, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
“Guru memiliki peran penting dalam membantu siswa mengenali peluang sekaligus risiko di ruang digital. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan mitra pendidikan menjadi langkah penting untuk membangun lingkungan belajar yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus melindungi kepentingan peserta didik,” kata Okky.
Group CEO Biji-biji Initiative dan Mereka, Rashvin Pal Singh, menambahkan bahwa penguatan kompetensi AI di dunia pendidikan tidak sebatas memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga membangun komunitas pendidik yang dapat saling berbagi pengetahuan dan praktik baik.
Melalui kolaborasi ini, para pendidik diharapkan semakin siap membimbing siswa memanfaatkan AI untuk mendukung proses belajar tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis, keamanan digital, dan tanggung jawab.