- Kementerian BUMN meluncurkan program Relawan Bakti BUMN pada 2022 agar karyawan dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat.
- MIX MarComm dan SWA Media Group mengangkat topik kesukarelawanan karyawan dalam Communication & Sustainability Forum 2026 di Jakarta.
- Sejumlah perusahaan global berpartisipasi dalam kategori Employee Volunteering pada ajang Indonesia's Best Corporate Sustainability Initiatives 2026.
Suara.com - Bekerja tidak selalu harus berkaitan dengan target, pencapaian karier, atau urusan pekerjaan sehari-hari. Karyawan juga bisa menemukan makna lain dari aktivitas profesional mereka dengan terlibat dalam kegiatan sosial dan memberikan kontribusi langsung bagi masyarakat.
Salah satu upaya yang mendorong keterlibatan tersebut adalah program Relawan Bakti BUMN yang diluncurkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 2022, saat Erick Thohir menjabat sebagai Menteri BUMN. Melalui program ini, karyawan BUMN didorong menjadi relawan dalam berbagai kegiatan sosial perusahaan.
Konsep tersebut dikenal sebagai employee volunteering, yaitu inisiatif yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menyumbangkan waktu, tenaga, keterampilan, maupun keahlian bagi suatu gerakan atau tujuan sosial.
Bentuk kegiatannya beragam. Karyawan bisa terlibat dalam kegiatan pendidikan, mendampingi komunitas, membantu masyarakat yang membutuhkan, melakukan donor darah, hingga ikut menjaga kelestarian lingkungan.
Berbeda dengan donasi yang lebih menitikberatkan pada bantuan materi, employee volunteering mengajak karyawan terlibat secara langsung. Mereka tidak hanya memberikan sesuatu, tetapi juga hadir, berinteraksi, dan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk membantu orang lain.
Dalam lima tahun terakhir, praktik ini semakin berkembang di lingkungan perusahaan Indonesia. Namun, penerapannya masih memiliki tingkat kematangan yang berbeda.
Lis Hendriani dari MIX MarComm mengatakan bahwa kegiatan kerelawanan karyawan sebenarnya sudah dilakukan perusahaan-perusahaan Indonesia sebelum 2022. Hanya saja, pelaksanaannya belum terstruktur seperti di sejumlah perusahaan global.
Beberapa perusahaan multinasional bahkan telah memasukkan kegiatan employee volunteering ke dalam perencanaan sumber daya manusia (human resources plan). Mereka memiliki platform khusus agar karyawan bisa memantau keterlibatan dalam berbagai aktivitas sukarela.
Ada pula perusahaan yang menyelenggarakan Global Volunteering Day, yakni kegiatan kerelawanan yang dilakukan serentak di berbagai negara tempat perusahaan beroperasi.
Sementara itu, kegiatan sukarela di sejumlah perusahaan Indonesia masih banyak dilakukan secara insidental, seperti mengunjungi panti asuhan, berbagi sembako, donor darah, atau menanam pohon.
Padahal, kegiatan ini berpotensi menjadi bagian dari budaya kerja apabila dirancang secara berkelanjutan. Perusahaan dapat memfasilitasi karyawan melalui pembentukan tim relawan, memberikan kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan sosial, hingga menyediakan waktu khusus untuk menjalankan aktivitas sukarela.
Karyawan pun bisa berkontribusi sesuai keahlian masing-masing. Mereka yang memiliki kemampuan mengajar dapat berbagi pengetahuan, sementara karyawan dengan keahlian teknologi bisa membantu komunitas memahami keterampilan digital.
Menurut Lis, perkembangan employee volunteering menjadi perhatian dalam Communication & Sustainability Forum 2026 yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Forum yang digelar MIX MarComm bersama SWA Media Group tersebut mengangkat tema volunteerism atau kesukarelawanan karyawan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari penyelenggaraan Indonesia's Best Corporate Sustainability Initiatives 2026. Sejumlah perusahaan global yang beroperasi di Indonesia, seperti Bank DBS, Citi, Standard Chartered, Zurich, Schneider Electric, OCBC, Allianz, dan AXA, tercatat berpartisipasi dalam kategori Employee Volunteering.
Melalui apresiasi terhadap berbagai inisiatif tersebut, perusahaan diharapkan semakin terdorong mengembangkan kegiatan kerelawanan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Sebab, kepedulian sosial tidak harus selalu dimulai dari program besar. Kesediaan meluangkan waktu, berbagi pengetahuan, dan menggunakan keahlian untuk membantu sesama juga bisa menjadi langkah sederhana untuk menciptakan dampak positif.