Kematian satu keluarga di Kalideres masih menjadi misteri dan teka teki hingga saat ini. Berbagai kejanggalan muncul dari kematian satu keluarga itu, sampai-muncul dugaan dari kriminolog bahwa korban bisa jadi menganut ajaran apokaliptik.
Sehubungan dengan hal tersebut, psikolog forensik Reza Indragiri memiliki pandangan tersendiri dari kematian misterius satu keluarga di Kalideres, Jakarta Barat.
Reza menjelaskan soal faktor atau penyebab kematian ke dalam 4 kategori, yakni NASH (Natural/alami, Accident/kecelakaan, Suicide/bunuh diri, Homicie/dibunuh).
Dalam kasus ini, dia menduga bahwa kematian tersebut adalah kombinasi dari suicide/bunuh diri dan homicide/pembunuhan.
Dia memberikan contoh dan mengandaikan bahwa tiga orang dalam keluarga itu dipaksa lapar dan tidak diperbolehkan makan hingga akhirnya mereka meninggal dunia.
Sementara pihak yang memaksa lapar dan melarang makan diduga ikut menghabisi hidupnya sendiri.
"Maka alih-alih ini faktor alami (kelaparan), justru terkesan sebagai kombinasi antara suicide (bunuh diri) dan homicide (pembunuhan)," jelas Reza dikutip dari metrotvnews, Minggu (20/11/2022).
Reza menjelaskan bahwa tepatnya diawali oleh pembunuhan, yang kemudian diikuti oleh bunuh diri.
Kendati demikian, Reza menyebut bahwa dugaan itu merupakan pikiran spekulatif. Artinya, dugaan itu satu dari sekian opsi yang tetap perlu diuji oleh pihak kepolisian.
Baca Juga: 3 Hal yang Tidak Perlu Masuk dalam Ekspektasimu
Dugaan kombinasi pembunuhan dan bunuh diri itu dijelaskan Reza dari kondisi rumah dan jasad korban.
Pertama adalah kondisi rumah korban relatif dalam keadaan tertata rapi. Meski ada tumpukan sampah, hal itu tak berarti adanya perkelahian atau kekerasan.
Lalu, yang kedua adalah pihak keluarga yang sengaja memutuskan aliran listrik. Dalam hal ini, keluarga disinyalir tak ingin aliran listrik tetap menyala dan memunculkan kewajiban finansial.
Selanjutnya, Reza menyebutkan soal kondisi jenazah korban yang berada di titik-titik tertentu dengan kondisi cenderung tertata.
"Dari tiga hal ini, saya berspekulasi bahwa entah sebagian atau seluruh jenazah tersebut semasa hidup memang berniat untuk rest in peace, mengakhiri hidup mereka dengan penuh kedamaian," jelas Reza.
"Dengan kata lain, tidak ada kegaduhan, tidak ada kepanikan, tidak ada ketakutan, tidak ada pergesekan yang bisa kita pandang sebagai hal-hal yang negatif atau hal-hal yang paling tidak mencurigakan dari sistem penegakan hukum," pungkasnya.