Sakai Sambayan Citra Metro di Ruang Publik

Metro

Kamis, 23 Juni 2022 | 10:28 WIB
Sakai Sambayan Citra Metro di Ruang Publik
DKV Itera

Manakah yang baik ruang kota yang gersang atau ruang kota yang ditumbuhi pepohonan?, Apa yang terjadi jika di tengah kota yang rindang dipajang karya seni? Bagaimana perasaan publik saat melihat karya seni di tengah kota dengan bentuk yang unik dan menggelitik? Karya seni seperti apa yang harusnya ditampilkan di ruang publik? Lalu bagaimana sebaiknya sikap pemangku kepentingan terhadap karya seni di ruang publik?

Pertanyaan demi pertanyaan seperti di atas akan terus muncul sebagai refleksi dan pengandaian ketika karya seni itu dipindahkan pemajangannya ke ruang publik di tengah kota. Karya seni tidak lagi ditata di dalam ruang pameran dengan tata lampu dan pembatas karya. Kini karya seni bisa dinikmati banyak orang yang biasanya hanya dengan indera mata saja, sekarang boleh disentuh atau diraba. Bahkan menjadi objek instagramable bagi para pemburu foto.

Kehadiran karya seni di ruang publik bentuknya bisa beraneka ragam. Mulai dari seni grafiti, mural, seni patung, seni instalasi, seni eksperimental atau seni ‘commision work’. Keseluruhan karya seni tersebut, bertujuan untuk merebut perhatian publik  untuk menyampaikan suatu isu atau gagasan tertentu melalui objek seni. Terlepas dari isu yang sedang dipersuasi oleh senimannya, publik memiliki hak untuk menata fantasi atas karya seni tersebut. 

Kemapanan karya seni publik bisa kita temui di kota-kota yang peradaban masyarakatnya sudah lebih baik memahami sebuah aktifitas kesenian. Semisal Jogjakarta, Bandung atau Jakarta. Tidak sedikit karya seni ditata di ruang publik seperti di taman kota, kawasan pedestrian, jalan-jalan protokol, pasar, stasiun, bandara dan lain sebagainya. Penataan karya seni di tengah keramaian memberikan ‘jeda’ pada mata untuk berelaksasi pada penglihatan yang berbeda. Atau pun timbul gugahan rasa damai dan tentram bagi individu masyarakat saat melihat atau menyetuh karya seni itu sendiri. Selain keuntungan karya seni di ruang publik di pusat kota bisa membantu menambah kualitas dari tata ruang dan wilayah kota dengan menata ‘apik’ lingkungan sekitar. Bisa juga menjadi media komunikasi visual untuk menyampaikan pesan.

Seperti di Jogjakarta, saat ini, sebuah kawasan tempat pembuangan akhir sampah di Pleret, Bantul sedang disulap menjadi kawasan riset dan wisata. Karya seni berukuran raksasa dibangun dengan material limbah plastik. Ini adalah projek seni ruang publik bertajuk ‘Monumen Antroposen’ yang digarap seniman Franziska Fennert dan Iwan Wijono serta dibantu kerja kolektif dari komunitas-komunitas. Gagasan karya seni ini berusaha untuk menjelajahi potensi nilai kebudayaan lokal yang dapat berpengaruh terhadap keharmonisan antar manusia, alam, dan ilahi secara holistic melalui material limbah. 

Karena bentuknya yang dibuat sangat besar sehingga karya ini memungkinkan menjadi tempat menginap, dalam rangka riset – edukasi. Juga menjadi lokasi wisata baru serta ekonomi kreatif baru bagi masyarakat sekitar karena akan menjadi lokasi produksi upcyling limbah sampah dan seni kerajinan lainnya sebagai penopang.

Nah, di kota kita karya seni ruang publik juga hadir cukup masif. Seni mural menjadi yang paling sering ditemui menghisasi warna-warni dinding-dinding di tengah dan sudut kota. Namun merayakan hari jadi Kota Metro, Lampung yang ke-85 tahun, diresmikan oleh penggagas Indonesia Mengajar Anies Rasyid Baswedan sebuah karya ruang publik. Karya tiga dimensi berupa seni patung bertema ‘Sakai Sambayan’ yang dibuat PG. Wisnu Wijaya. Karya dengan material utama berupa plat logam dan cor semen ini, merebut perhatian publik, bahkan memantik berbagai macam isu dikalangan masyarakat. Demikian karya seni memancarkan narasi-narasinya melalui kuasa simbol.

Monumen Sakai Sambayan berbentuk rubrik sembilan bidang yang mengartikan ruang-ruang kota yang selayaknya menjadi ruang pergerakan komunitas. Menjadi ruang pertemuan dan percakapan antarindividu. Karena dengan saling bertatapanlah kebahagiaan sebagai warga kota bisa diwujudkan. Sebagaimana slogan ‘Tertata Kotanya, Bahagia Warganya”. Makna dan pesan angka Sembilan pada Sakai Sambayan mengartikan kesempurnaan.  Monumen ini menjadi lambang kemerdekaan kreatifitas dari kerja seni individu dan kolektif. 

Keberanian dan keterbukaan Pemerintah Kota Metro menghadirkan karya commission work di tengah ruang publik harus diapresiasi. Karena seni dilibatkan dalam memajukan peradaban sebuah kota. Bagi pekerja seni pun haruslah menjadi pemicu hidup dan terus hidupnya kehidupan kesenian di Metro. Penyeimbang dari keriuhan aktifitas publik. Melalui seni akan menjadi teduh dan netral kembali. 

Diapresinya karya seni monumen Sakai Sambayan setidaknya membuka beragam wacana positif. Satu, wacana seni publik di Lampung, khsusunya Kota Metro. Karya seni Sakai Sambayan yang digagas PG. Wisnu Wijaya dengan pekerja seni secara kolektif telah memberikan alternatif bagi pengalaman estetis masyarakat kota. Keberadaan karya seni tersebut telah menyeruak menjadi simbol keterbukaan pemerintah terhadap hadirya karya seni di tengah publik Kota Metro. Ini tanda-tanda Metro menjadi pintu gerbang seni di hilir pulau Sumatera. 

Jika melihat karya seni ruang publik di Metro seperti mural sangat massif sekali. Termasuk satu tahun terakhir, pameran-pameran karya seni di art space-art space acapkali diselenggarakan.  Paling tidak, Sakai Sambayan adalah momentum dari pergerakan aktifitas kesenian tersebut. Dimana dari pengalaman visual estetis warga kota, karya seni di Kota Metro sampai titik ini, bisa dianggap mengalamai kemajuan – keluar dari sekat-sekat ruang pamer dengan sorotan cahaya lampu yang terkesan ‘elitis’ menjadi ruang pamer kota yang ‘antropis’.

Kedua wacana partisipasi, juga tak lepas dari kehadiran karya seni ruang publik. Sakai Sambayan adalah produk dari partisipasi tersebut. Wacana partisipasi seyogyanya mempertemukan banyak orang dalam merancang dan menghadirkan suatu karya seni di ruang publik.  Sikap gotong royong dalama kebagaikan hadir dalam proyek seni ini. Menciptakan karya seni ruang publik secara kolektif menjadi medium untuk saling berjumpa dan bercerita tentang banyak pengalaman. Ilmu dan pengetahuan saling dipercakapkan, tesis dan anti-tesis saling memperbaharui. Selain menumbuhkan dan meningkatan kemampuan mengenal ruang dan lingkungan dimana karya seni itu dipresentasikan. Serta mengungkapkan perasaan – tentang banyak hal; kebahagian, kegelisahan, protes, pemberontakan ataupun tentang manisnya cinta warga kota terhadap kotanya dengan seni. 

Ketiga kota tentu membutuhkan wacana citra agar bisa dikenali dari keberbedaannya. Apalagi budaya masyarakat kontemporer adalah budaya citra. Karya seni ruang publik menjadi komunikasi alternatif untuk bisa mengucapkan bahasa visual dari perbedaan, keunikan dan kekhasan atas citarasa peradaban sebuah kota. Melalui simbolisasi karya seni citra kota menjadi elemen yang sangat setral dan penting. Karya seni publik berupa patung seni monument Sakai Sambayan adalah pemantik  dari citra masyarakat Kota Metro yang selalu bergotong-royong membangun perdaban kota yang lebih maju. (*)

Arif Budiman (Pengajar Program Studi Desain Komunikasi VisualInstitut Teknologi Sumatera, Lampung)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Eksklusivitas Komunitas Lari WNA di Bali: Menggugat Kedaulatan Ruang Publik Kita

Eksklusivitas Komunitas Lari WNA di Bali: Menggugat Kedaulatan Ruang Publik Kita

Your Say | Minggu, 26 Juli 2026 | 14:23 WIB

Dari MRT hingga Coffee Shop, Photobox Interaktif Kian Jadi Tren Bagi Gen Z di Ruang Publik

Dari MRT hingga Coffee Shop, Photobox Interaktif Kian Jadi Tren Bagi Gen Z di Ruang Publik

Lifestyle | Sabtu, 13 Juni 2026 | 11:05 WIB

Bukan Melalui Kekerasan, Militerisasi Masuk ke Ranah Sipil Lewat Jalur Administratif Halus

Bukan Melalui Kekerasan, Militerisasi Masuk ke Ranah Sipil Lewat Jalur Administratif Halus

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:34 WIB

Rano Karno Bawa Jakarta Kolaborasi dengan Milan, Ruang Publik Bakal Lebih Artistik

Rano Karno Bawa Jakarta Kolaborasi dengan Milan, Ruang Publik Bakal Lebih Artistik

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 07:17 WIB

Takbiran Keliling dan Negosiasi Ruang Publik

Takbiran Keliling dan Negosiasi Ruang Publik

Your Say | Jum'at, 06 Maret 2026 | 18:20 WIB

Mengapa Ruang Menyusui yang Layak Masih Sulit Ditemukan di Ruang Publik?

Mengapa Ruang Menyusui yang Layak Masih Sulit Ditemukan di Ruang Publik?

Your Say | Selasa, 03 Maret 2026 | 16:30 WIB

Di Balik Rimbun Hutan Cawang: Jerat Asusila, Tembok Beton, dan Ruang Publik yang Sekarat

Di Balik Rimbun Hutan Cawang: Jerat Asusila, Tembok Beton, dan Ruang Publik yang Sekarat

News | Selasa, 03 Maret 2026 | 09:25 WIB

Merokok di Ruang Publik, Aturan Kurang Ketat atau Kesadaran yang Minim?

Merokok di Ruang Publik, Aturan Kurang Ketat atau Kesadaran yang Minim?

Your Say | Minggu, 22 Februari 2026 | 13:05 WIB

Festival Musik dan Komodifikasi Ruang Publik: Mengapa Harga Tiket Kian Mahal?

Festival Musik dan Komodifikasi Ruang Publik: Mengapa Harga Tiket Kian Mahal?

Your Say | Jum'at, 13 Februari 2026 | 11:01 WIB

Ruang Publik yang Belum Ramah untuk Semua: Siapa yang Akhirnya Disingkirkan?

Ruang Publik yang Belum Ramah untuk Semua: Siapa yang Akhirnya Disingkirkan?

Your Say | Kamis, 12 Februari 2026 | 11:11 WIB

Terkini

Kumpul Jelang HUT RI, Sekjen Koalisi Prabowo Bahas Penguatan Kabinet dan Masalah Puluhan Tahun

Kumpul Jelang HUT RI, Sekjen Koalisi Prabowo Bahas Penguatan Kabinet dan Masalah Puluhan Tahun

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 08:08 WIB

Jembatan Putus Way Pengubuan Belum Juga Diperbaiki

Jembatan Putus Way Pengubuan Belum Juga Diperbaiki

Lampung | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 08:02 WIB

Nasib ABK WNI Pascaserangan kapal MV Tihamah di Selat Bab Al Mandeb Yaman Masih Dicari

Nasib ABK WNI Pascaserangan kapal MV Tihamah di Selat Bab Al Mandeb Yaman Masih Dicari

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Saham BUMN Ada yang Berpotensi Delisting, Danantara Mau Fokus Ini

Saham BUMN Ada yang Berpotensi Delisting, Danantara Mau Fokus Ini

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:54 WIB

Kinerja Bank Besar Melaju Pada Kuartal II, BFIN dan BBCA Jadi Saham Kejutan

Kinerja Bank Besar Melaju Pada Kuartal II, BFIN dan BBCA Jadi Saham Kejutan

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:50 WIB

Lockbox Terasa Seperti Dua Film yang Dipaksa Menjadi Satu

Lockbox Terasa Seperti Dua Film yang Dipaksa Menjadi Satu

Your Say | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:50 WIB

Pengamanan Diperketat, Helikopter dan Rantis Disiagakan Jelang Kedatangan Prabowo di DPR

Pengamanan Diperketat, Helikopter dan Rantis Disiagakan Jelang Kedatangan Prabowo di DPR

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:47 WIB

Pengamat: Amerika Serikat Kehabisan Cara Menekan Iran

Pengamat: Amerika Serikat Kehabisan Cara Menekan Iran

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:46 WIB

Prahara Chat Aborsi Viral: Karier Sang Duta Wisata Tio Ferdian Terjerembab

Prahara Chat Aborsi Viral: Karier Sang Duta Wisata Tio Ferdian Terjerembab

Jatim | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:45 WIB

Rilis iPhone 18 Bakal "Dicicil", Versi Standar Terpaksa Ngaret Sampai 2027? Ini Bocorannya!

Rilis iPhone 18 Bakal "Dicicil", Versi Standar Terpaksa Ngaret Sampai 2027? Ini Bocorannya!

Tekno | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:42 WIB

×