- Dudung menegaskan pemerintah tidak melakukan intimidasi terhadap masyarakat sipil yang kritis di Jakarta.
- Prabowo menyatakan kesediaannya menerima kritik sebagai bentuk bantuan berharga untuk menjaga dan mengamankan jalannya pemerintahan.
- Dudung mengimbau masyarakat untuk menjaga persatuan nasional dan menghindari narasi tidak benar yang memutarbalikkan fakta mengenai demokrasi.
Suara.com - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman menepis keras isu adanya tekanan atau intimidasi dari pemerintah terhadap masyarakat sipil yang kritis.
Dudung menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto justru sangat menghargai setiap masukan dari rakyat.
Hal ini disampaikan Dudung menanggapi hasil survei terkait iklim demokrasi di pelataran Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (13/5).
Menurutnya, pemerintah tidak pernah menutup pintu bagi kritik yang membangun.
"Bapak Presiden (Prabowo Subianto, red.) mau setiap saat minta masukan. Beliau menyampaikan: Kita harus berani bicara, kita harus berani berpendapat, tetapi kita harus berani mendengarkan pendapat orang lain," ujar Dudung mengungkapkan sikap sang Presiden.
Jangan Membuat Kesan Menakutkan
Mantan Kasad ini menyayangkan adanya narasi yang seolah-olah menggambarkan pemerintah anti-koreksi. Ia meminta semua pihak untuk tidak menciptakan kesan adanya intimidasi yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
"Jangan kemudian seakan-akan ada intimidasi. Kalau ada intimidasi berarti juga mengklaim bahwa pemerintah ini tidak mau dikoreksi. Janganlah dibuat-buat seperti itu," tegasnya.
Ia juga memperingatkan agar tidak ada pihak-pihak yang mencoba memutarbalikkan fakta demi kepentingan tertentu.
"Jangan kemudian dipelintir seakan-akan (Presiden, red.) tidak mau menerima masukan," sambung Dudung.
Pesan Persatuan dan Warisan Gus Dur
Dalam kesempatan tersebut, Dudung mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah.
![Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Mensesneg Prasetyo Hadi (kedua kiri), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea (kiri), dan Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat (kanan) menyapa massa buruh dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/nz]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/01/60792-perayaan-mayday-2026-di-monas-hari-buruh-di-monas-prabowo-subianto.jpg)
Ia pun mengutip pesan bijak dari Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
"Gus Dur pernah menyampaikan bahwa sebenar apa pun yang kamu lakukan, sebaik apa pun yang kamu kerjakan, pasti ada kebencian orang lain," ungkapnya.
Sikap keterbukaan ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan. Dalam pidatonya di acara Puncak Perayaan Natal awal tahun 2026 lalu, Prabowo menyatakan bahwa kritik adalah bantuan berharga bagi kepemimpinannya.