Nilai tanaman Bambu, Pisang dan Kelapa bagi masyarakat Jawa akan dibahas tentang program Landbouw-Kolonisatie dan hubungannya dengan tradisi budidaya tanaman. 3 tanaman ini sendiri adalah pisang, bambu, dan kelapa. Mengapa 3 tanaman ini sangat penting bagi masyarakat Jawa?, karena terkait dengan manfaat dari 3 tanaman tersebut.Ketiga tanaman ini hampir selalu ada dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Jawa di Provinsi Lampung.
Desain pemukiman cukup seragam di Metro termasuk desain tanaman Bambu, Pisang dan Kelapa yang selalu tersedia di halaman belakang mereka. Oleh karena itu dapat menjadi bukti nilai dari ketiga tanaman ini sangat penting bagi masyarakat Jawa. Sepertinya mereka mendapat nilai-nilai dari nenek moyang mereka di pulau Jawa. Di hampir semua ritual adat Jawa, tanaman ini juga selalu ada. Masyarakat Jawa merupakan suku bangsa yang hidup dengan menggunakan filsafat dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan ini adalah hasil dari studi literatur dan berdasarkan pengamatan, diskusi, dan bercerita dari generasi pertama dan kedua di lokasi.
Tentang Landbouw-Kolonisatie dan Tradisinya
Landbouw-kolonisatie adalah pemukiman kembali. Ini merujuk pada migrasi orang dari pulau Jawa ke pulau lain. Program tersebut untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Sekaligus juga meningkatkan produksi tanaman pangan. Program ini erat kaitannya dengan pembukaan kawasan pertanian baru, sehingga disebut Landbouw-Kolonisatie.
Sebelum melaksanakan proyek tersebut, selain Lampung, ada beberapa provinsi yang menjadi kandidat. Sawah Lunto di Sumatera Barat, Kepahiang di Bengkulu, dan beberapa lokasi di Kalimantan dan Sulawesi. Lampung merupakan pilihan terbaik saat itu, karena Lampung memiliki kepadatan penduduk paling rendah di antara calon lokasi lainnya.
Migrasi dari Jawa ke Lampung di pulau Sumatera memiliki beberapa alasan. Pertama, distribusi penduduk. Pulau Jawa memiliki populasi yang lebih padat. Sedangkan Lampung masih “kosong”. Kedua, adalah kesejahteraan. Sebagian besar masyarakat Jawa adalah petani kecil dengan lahan yang terbatas. Dan banyak dari mereka juga hanya menjadi pekerja bagi petani yang lebih kaya. Ketiga, alasan ekonomi. Sumatera adalah hutan hujan dataran rendah dengan beberapa sungai besar dan memiliki tanah yang subur. Lahan yang menjanjikan untuk ditanami banyak tanaman. Keempat, Lampung memiliki kepadatan penduduk yang rendah dan masyarakat Lampung bersifat welcome terhadap penjajah (masyarakat yang tergabung dalam program kolonisatie).
Orang Jawa Datang Dalam Beberapa Gelombang
Dua gelombang pertama proyek kolonisatie diselesaikan pada tahun 1905 dan 1921. Pertama, pada tahun 1905, 155 orang dari Bagelen-Kedu Jawa Tengah tiba di Gedong Tataan-Pasawaran. Kedua, angkatan berikutnya dilaksanakan pada tahun 1921. Rombongan keluarga Jawa selanjutnya berlokasi di Wonosobo – Tangamus. Kedua batch ini menggunakan sistem anak perusahaan. Setiap keluarga yang bergabung, akan mendapatkan makanan dan logistik lainnya sambil mempersiapkan lahan untuk memproduksi kebutuhan mereka sendiri.
Gelombang ketiga dimulai pada tahun 1932. Proyek ini dilakukan setelah ada kesepakatan antara pemerintah dan dua kelompok keluarga (Marga Unyi dan Marga Buay Nuban). Rombongan masyarakat Jawa menuju lokasinya di Desa Gedong Dalam melalui Gunung Sugih. Mereka tinggal dekat dengan masyarakat Lampung di Gedong Dalam. Lokasi mereka sekarang bernama Jojog di Pekalongan Lampung Timur. Jojog berasal dari kata jujug atau jujugan (dalam bahasa jawa berarti tempat tujuan).
Setelah hutan bersih dan siap untuk ditanami, barulah mereka ditempatkan ke pemukiman mereka. Lokasi pemukiman sekarang disebut Rancang Purwo. Rancang Purwo adalah pemukiman pertama. Istilah ini kemudian dikenal dengan nama bedeng. Nomor bedeng masih populer hingga saat ini bagi masyarakat yang tinggal di Metro.
Angkatan Keempat
Gelombang keempat dilakukan pada tahun 1935 hingga 1941, ribuan orang Jawa secara bertahap tiba di Metro. Tempat persembunyian mereka merupakan hutan dataran rendah yang terbentang di antara 2 sungai besar (Way Sekampung dan Way Seputih). Di antara dua sungai besar ini terdapat 3 sungai kecil, Way Raman, Way Batanghari, dan Way Bunut. Hutan datar yang sangat luas ini merupakan cikal bakal kawasan yang kemudian populer dengan sebutan Metro.
Gelombang keempat ini adalah proyek yang paling sukses. Proyek Kolonisasi menjadi menarik bagi masyarakat Jawa lainnya untuk bergabung. Batch selanjutnya poplar karena menggunakan sistem Bawon. Bawon adalah istilah untuk gaji kerja setelah orang membantu proses panen padi dari penduduk yang datang lebih awal. Bawon biasanya 1/5 sampai 1/7 bagian dari hasil kerja mereka. Beberapa pencapaian terbesar dari batch ini adalah: sekitar 18 kilometer jalan antara Tegineneng dan Metro, bendungan Argoguruh, dan sistem irigasi yang mendistribusikan air dari sungai Way Sekampung ke lokasi budidaya baru.
Tradisi Menarik
Bambu, pisang, dan kelapa ditanam hampir di semua desa koloni di Metro. Lampung merupakan salah satu hotspot keanekaragaman tumbuhan pohon tersebut. Secara alami mereka hanya tumbuh liar. Pohon kelapa melimpah di daerah pesisir, sedangkan pisang dan bambu ada dimana-mana di hutan dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Dan ketiga tanaman ini dibudidayakan di halaman belakang koloni. Nilai tanaman Bambu, Pisang dan Kelapa bagi masyarakat Jawa terkait dengan tradisi mereka.
Meskipun Bambu memiliki nilai penting bagi masyarakat Jawa, para penjajah tidak secara langsung menemukan/memanfaatkan bambu pada tahap pertama kedatangannya. Ketika penjajah tiba, mereka harus membangun tempat berlindung. Tempat penampungan itu bersifat sementara sebelum mereka bisa membangun rumah adat yang lebih besar. Struktur shelter dan rumah berasal dari kayu. Bahan-bahannya melimpah di sekitar tempat berlindung mereka. Bambu dibudidayakan setelah rumah dan ladang siap. Dan akhirnya bambu menjadi salah satu tanaman yang selalu dibudidayakan di desa-desa penjajah
Lampung sendiri memiliki banyak jenis pisang. Tapi kebanyakan mereka tumbuh liar. Sejak penjajah tiba, mereka secara bertahap menanam lebih banyak pisang di dekat pemukiman mereka. Di seluruh pekarangan kampung penjajah kita bisa dengan mudah menjumpai berbagai pohon pisang. Buah pisang sangat penting bagi masyarakat Jawa. Mereka menggunakan buah pisang dalam ritual dan pesta tradisi mereka.
Dalam tradisi Jawa, kelapa merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Penjajah Jawa memiliki kepercayaan bahwa semua bagian kelapa berguna untuk kehidupan mereka. Kayu adalah salah satu bahan terbaik untuk struktur rumah. Daun muda untuk pembungkus makanan yang direbus, sedangkan daun tua untuk bahan atap. Buahnya untuk minyak dan juga makanan.
Kawasan desa kolonisatie terletak di sekitar Metro (sekarang termasuk Lampung Tengah, kota Metro, dan Lampung Timur. Sebenarnya hingga tahun 1990-an nama-nama desa kurang populer dibandingkan dengan nomor-nomor persil. Jika ke desa-desa tersebut, masyarakat lebih mengenalnya. nomor dari pada nama desa, hal ini terjadi karena pada saat pembuatan nomor tempat tidur orang mengenal dan hapal sebelum nama desa dibuat.
Ditanam untuk Kebutuhan sehari-hari
Jika Anda pergi ke lokasi, tanaman pohon ini ada di mana-mana. Mereka sebagian besar tersedia di halaman belakang. Dan tanaman ini juga ditemukan di semua desa Jawa di Provinsi Lampung. Pisang, bambu, dan kelapa ditanam di sekitar rumah mereka. Namun fakta yang menarik adalah, bahwa mereka membudidayakan tanaman pohon tersebut untuk kepentingan pribadi mereka. Bukan untuk tujuan komersial. Jadi nilai tanaman tersebut bagi masyarakat Jawa sangatlah penting.
Muryanto Paiman (Peminat Sejarah,lahir dan menghabiskan 23 tahun pertama saya di Landbouw-kolonisatie, di bedeng 30A. Saya adalah generasi ketiga dari kelompok angkatan keempat. Kakek dan keluarga saya tiba di Metro pada tahun 1939 dan berasal dari Jawa Timur )
Artikel ini diterjemahkan bebas dari artikel aslinya berjudul The value of BBC plants for Javanese peoples in the “Landbouw-kolonisatie” in Metro, Lampung Province