Dalam hal ini, Nasdem ingin membuktikan bahwa mengusung Anies bisa disambut baik oleh Partai Demokrat dan PKS yang merupakan parpol di luar pemerintahan Jokowi.
Selain fokus membahas cawapres, hingga saat ini tidak pernah ada hal lain yang dibahas dan dipublikasikan oleh ketiga parpol tersebut.
Keempat, Kornas menilai koalisi antara Nasdem, Demokrat, dan PKS tidak memiliki visi, misi, dan program yang jelas sebagai perekat koalisi.
Ketiga parpol itu dinilai hanya sibut membahas figur cawapres yang akan mendampingi Anies sehingga koalisi sangat rapuh.
Aksi saling sindir dan muda "baper" dari ketiga elit parpol merupakan bukti bahwa "koalisi perubahan" itu kosong dari pertukaran ide, gagasan, serta jauh dari semangat "perubahan".
Ketiganya hanya menunjukkan sifat kekanak-kanakan untuk mencari perhatian publik untuk dijadikan bahan pembicaraan publik.
Terakhir, tokoh-tokoh politik orde baru seperti Surya Paloh, Muhammad Jusuf Kalla (JK), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diyakini mengambil peran sebagai aktor intelektual koalisi parpol ini.
Maka kegaduhan yang dipublikasikan tersebut bagian dari siasat menarik perhatian publik. Kornas melihat bahwa Surya Paloh pasti paham mengatur isu yang harus dimainkan untuk menarik perhatian media, sehingga menjadi bahan berita, sementara SBY paham stratagi playing victim dan berpengalaman yang berhasil mengantarkannya menjadi presiden dua periode.
Di sisi lain, JK memiliki kemampuan untuk melakukan penetrasi ke berbagai lapisan masyarakat dan lintas wilayah.
Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Suara.com dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.