287 Korban Tenggelamnya Feri "Sewol" Masih Hilang

Ardi Mandiri | Suara.com

Jum'at, 18 April 2014 | 00:17 WIB
 287 Korban Tenggelamnya Feri "Sewol" Masih Hilang
Polisi mencari penumpang kapal Sewol yang tenggelam di perairan Korea Selatan, Rabu (16/4). [Reuters/Kim Hong-Ji]

Suara.com - Tim penyelamat harus berhadapan dengan angin, ombak besar dan air keruh, Kamis (17/4/2014), dalam pencarian ratusan orang --sebagian besar anak sekolah-- yang hilang setelah feri Korea Selatan tenggelam lebih dari 24 jam lalu.

Penjaga pantai, pasukan Angkatan Laut dan beberapa penyelam swasta melakukan pencarian di perairan tempat kejadian, sekitar 20 kilometer dari pantai baratdaya negara tersebut.

Sebelumnya, tim penyelamat memukul-mukul lambung kapal yang terbalik itu dengan harapan ada balasan dari siapa pun terjebak di dalamnya, namun tidak terdengar tanggapan apa pun.

Kapal yang membawa 475 penumpang dan kru itu tenggelam pada Rabu dalam perjalanan dari pelabuhan Incheon menuju pulau peristirahatan Jeju.

Menurut pemerintah Korsel, sembilan orang ditemukan tewas dan 179 lainnya berhasil diselamatkan, sementara 287 penumpang lain kemungkinan masih terjebak di dalam kapal.

Seorang orangtua korban Park Yung-suk mengatakan kepada Reuters di pelabuhan Jindo yang menjadi pusat operasi penyelamatan, ia melihat jasad guru anak perempuannya dibawa ke pantai.

"Jika saja saya bisa menyelam, saya akan masuk ke air dan mencoba menemukan anak saya," katanya.

Anak Yung-suk merupakan satu dari 340 siswa dan guru dari Sekolah Menengah Danwon di Ansan, pinggir kota Seoul, yang berada dalam kapal itu.

Seorang pejabat penjaga pantai mengatakan, kapten kapal Lee Joon-seok (69 tahun) menghadapi penyelidikan kriminal, di tengah berita yang belum dipastikan bahwa ia adalah orang yang pertama kali melompat untuk menyelamatkan diri dari kapal naas itu.

Pejabat tersebut tidak menjelaskan lebih lanjut, namun menurut media setempat, kapten kapal kemungkinan menghadapi dakwaan kelalaian yang menyebabkan kematian dan pelanggaran hukum yang mengatur tindakan kru kapal.

Beberapa korban selamat mengatakan bahwa Lee merupakan orang pertama yang diselamatkan namun tidak ada satupun yang melihatnya meninggalkan kapal.

Pihak penjaga pantai dan operator feri menolak berkomentar mengenai hal tersebut.

Meski perairan di lokasi kejadian relatif dangkal, kurang dari 50 meter, namun masih sangat berbahaya bagi sekitar 150 penyelam yang harus bekerja secepat mungkin, kata pakar.

Waktu hampir habis untuk bisa menyelamatkan mereka yang mungkin masih terjebak dalam kapal, kata mereka.

"Peluang untuk menemukan korban di sana bukan tidak ada," kata David Jardine-Smith, sekretaris Federasi Penyelamatan Maritim Internasional, seraya menambahkan bahwa kondisinya sangat sulit.

"Ada banyak arus dan lumpur dalam air yang berarti jarak pandang sangat terbatas," katanya.

Pemerintah mengatakan tidak akan menyerah untuk menemukan korban selamat.

"Kami menjalankan pencarian bawah air lima kali dari tengah malam hingga awal pagi, namun arus yang kuat serta air berlumpur banyak menjadi hambatan besar," kata menteri keamanan publik Kang Byung-kyu di Seoul.

Belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab tenggelamnya kapal, meski pemerintah telah melakukan penyelidikan resmi. Kapal yang dibuat di Jepang 20 tahun lalu itu, menyusuri rute perjalanan yang aman.

Meski pada kawasan yang lebih luas terdapat bebatuan dan perairan dangkal, namun bebatuan itu tidak berdekatan dengan laluan yang normal.

Menurut catatan industri perkapalan Korea, kapal feri tersebut pada 2012 dinyatakan memiliki tiga kekurangan dari segi keamanan, termasuk satu yang berkaitan dengan navigasi, namun berhasil lolos dari pemeriksaan keamanan pada 2013 dan 2014.

Kapasitas kapal feri itu ditingkatkan dari 800 menjadi lebih dari 900 orang saat diimpor dari Jepang pada akhir 2012, kata sumber di industri perkapalan. Namun peningkatan kapasitas itu sudah melalui semua uji keselamatan.

Kapal, penumpang dan kargo berada di bawah dua jaminan asuransi terpisah, kata sumber di industri perkapalan.

Stasiun penyiaran milik pemerintah YTN mengutip pejabat penyelidikan yang mengatakan bahwa kapal tersebut keluar dari jalur biasanya dan dihantam oleh angin berputar sehingga menyebabkan kontainer yang disusun di atas dek bergeser.

Rekaman televisi menunjukkan, kapal itu menjadi berat sebelah dan penumpang yang mengenakan pelampung berada di laut menunggu kapal penyelamat.

Kapal itu tenggelam dalam tempo sekitar dua jam. Menurut saksi mata dan media, hanya dua sekoci penyelamat yang bisa diturunkan. Laporan sebelumnya bahkan menyebutkan hanya satu sekoci yang berhasil diturunkan.

Oeprator kapal, Chonghaejin Marine Co Ltd yang berpusat di Incheon mengeluarkan pernyataan singkat, meminta maaf atas tragedi itu namun tidak memberikan komentar lebih lanjut.

Operator yang memiliki empat kapal lain tersebut dilaporkan mengalami kerugian sebanyak 785 juta won (756 dolar AS) tahun lalu.

Sebuah perusahaan bernama Web Solus menyediakan gratis peralatan bawah air untuk memeriksa kondisi dalam kapal dimana korban selamat bisa ditemukan.

"Keluarga dan tim penyelamat hanya mencari di permukaan laut. Kita harus bekerja cepat dan setidaknya melihat sebagian kapal yang berada di bawah air," kata operator perusahaan itu Ko Se-jin.

Diantara penumpang kapal tersebut terdapat dua warga Tiongkok, menurut media Tiongkok, satu warga Rusia, dan dua warga Filipina.

Warga Filipina tersebut dilaporkan selamat namun korban warga asing lain belum diketahui nasibnya.

Harapan saat ini ditumpukan pada kemungkinan penumpang di dalam bisa menemukan kantong udara, kata Jardine-Smith, "Bukan tidak mungkin ada korban yang selamat, namun tragisnya, sepertinya tidak banyak yang telah dilakukan." (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Cari Penumpang Hilang, Tim Penyelamat Gedor Lambung Feri

Cari Penumpang Hilang, Tim Penyelamat Gedor Lambung Feri

News | Kamis, 17 April 2014 | 12:03 WIB

Penumpang Feri "Sewol" Kirim Pesan Pendek Kepada Keluarganya

Penumpang Feri "Sewol" Kirim Pesan Pendek Kepada Keluarganya

News | Kamis, 17 April 2014 | 06:57 WIB

Pencarian Penumpang Feri "Sewol" Dilanjutkan

Pencarian Penumpang Feri "Sewol" Dilanjutkan

News | Kamis, 17 April 2014 | 06:26 WIB

284 Penumpang Feri Sewol Belum Ditemukan

284 Penumpang Feri Sewol Belum Ditemukan

News | Rabu, 16 April 2014 | 21:43 WIB

Kapal "Sewol" Tenggelam

Kapal "Sewol" Tenggelam

Foto | Rabu, 16 April 2014 | 14:21 WIB

Kapal Feri Tenggelam, Dua Orang Tewas, 300 Lainnya Masih Hilang

Kapal Feri Tenggelam, Dua Orang Tewas, 300 Lainnya Masih Hilang

News | Rabu, 16 April 2014 | 14:18 WIB

Sebelum Tenggelam, Penumpang Feri Dengar Suara Tabrakan Keras

Sebelum Tenggelam, Penumpang Feri Dengar Suara Tabrakan Keras

News | Rabu, 16 April 2014 | 12:02 WIB

Angkut Ratusan Pelajar, Kapal Feri Tenggelam

Angkut Ratusan Pelajar, Kapal Feri Tenggelam

News | Rabu, 16 April 2014 | 09:42 WIB

 Kecelakaan Maut di Meksiko, 36 Tewas Mengenaskan

Kecelakaan Maut di Meksiko, 36 Tewas Mengenaskan

News | Senin, 14 April 2014 | 04:47 WIB

Via Twitter, Presiden SBY Ucapkan Belasungkawa untuk Keluarga Korban Bus Wisata

Via Twitter, Presiden SBY Ucapkan Belasungkawa untuk Keluarga Korban Bus Wisata

News | Minggu, 06 April 2014 | 10:17 WIB

Terkini

400 Tentara AS Terluka dalam Perang Iran

400 Tentara AS Terluka dalam Perang Iran

News | Rabu, 15 April 2026 | 16:16 WIB

Disenggol Soal Paus Leo XIV hingga Tak Dibantu di Selat Hormuz, Trump Tantrum ke PM Italia

Disenggol Soal Paus Leo XIV hingga Tak Dibantu di Selat Hormuz, Trump Tantrum ke PM Italia

News | Rabu, 15 April 2026 | 16:16 WIB

Anak Palestina Dilarang Sekolah, Israel Tembak Gas Air Mata ke 55 Siswa SD

Anak Palestina Dilarang Sekolah, Israel Tembak Gas Air Mata ke 55 Siswa SD

News | Rabu, 15 April 2026 | 16:12 WIB

Usai Kasus Foto AI PPSU, Pramono Benahi Sistem JAKI dan Batasi Akses Laporan ASN

Usai Kasus Foto AI PPSU, Pramono Benahi Sistem JAKI dan Batasi Akses Laporan ASN

News | Rabu, 15 April 2026 | 16:11 WIB

Senyap, Iran Siap-siap Stok Rudal dan Drone di Tengah Gencatan Senjata

Senyap, Iran Siap-siap Stok Rudal dan Drone di Tengah Gencatan Senjata

News | Rabu, 15 April 2026 | 16:01 WIB

Bukan di Bawah Menteri, Baleg DPR Sepakat Bentuk Badan Baru Untuk Kelola Satu Data Indonesia

Bukan di Bawah Menteri, Baleg DPR Sepakat Bentuk Badan Baru Untuk Kelola Satu Data Indonesia

News | Rabu, 15 April 2026 | 16:00 WIB

Petisi Tembus 1 Juta Tanda Tangan, Warga Eropa Desak Uni Eropa Putus Hubungan dengan Israel

Petisi Tembus 1 Juta Tanda Tangan, Warga Eropa Desak Uni Eropa Putus Hubungan dengan Israel

News | Rabu, 15 April 2026 | 15:57 WIB

Kasus ISPA Sempat Naik, Pancoran Perkuat Edukasi Kesehatan Lewat 125 Kader

Kasus ISPA Sempat Naik, Pancoran Perkuat Edukasi Kesehatan Lewat 125 Kader

News | Rabu, 15 April 2026 | 15:45 WIB

Lobi Prabowo ke Putin Berhasil Amankan Pasokan BBM, Eddy Soeparno: Indonesia Masuk Zona Aman

Lobi Prabowo ke Putin Berhasil Amankan Pasokan BBM, Eddy Soeparno: Indonesia Masuk Zona Aman

News | Rabu, 15 April 2026 | 15:37 WIB

Iran Perketat Aturan Selat Hormuz Hadapi Blokade AS di Teluk Persia

Iran Perketat Aturan Selat Hormuz Hadapi Blokade AS di Teluk Persia

News | Rabu, 15 April 2026 | 15:31 WIB