Suara.com - Pemungutan suara yang berlangsung ricuh di Hongkong karena para tenaga kerja Indonesia (TKI) merasa dipersulit untuk memberikan hak suaranya menjadi perbincangan hangat di media sosial Twitter sejak semalam hingga pagi hari ini, Senin (7/7/2014).
Ketua Badan Litbang DPP Partai Golkar Indra Piliang melalui akun Twitter ?@IndraJPiliang mengaku kecewa dengan Badan Pengawas Pemilu yang menurutnya tidak memfasilitasi TKI yang sudah berjuang dengan mengantre demi memberikan hak pilih.
"WAKTU jadi masalah bagi penunaian hak warga negara ya? Padahal sudah antri. WAKTU telah merampas hak2 konstitusional penghasil devisa," katanya.
"Gegara WAKTU habis, warga negara yg berjuang keras di negara lain dg segala masalahnya, jadi korban. Kedaulatan warga negara cidera!"
"Bahkan Ketua Bawaslu dan anggota KPU Sigit Pamungkaspun tdk bisa berkompromi atas WAKTU bagi pemenuhan hak2 dasar warga negara," demikian pernyataan Indra.
Seorang technopreneur dan online strategist, Nukman Luthfie, melalui akun Twitter @nukman juga mengungkapkan kekecewaannya karena kejadian yang dialami TKI di Hong Kong.
"Kecurangan dilaporkan para TKI di Hong Kong, tak hanya terdengar di tempat, tapi juga digemakan warga di Indonesia," katanya.
Nukman menambahkan kasus kisruh gara-gara TKI ingin memberikan hak suaranya di pilpres Indonesia, tapi tidak difasilitasi oleh penyelenggara pemilu, akan terdengar di dunia.
"Jangan lupa, sebagian TKI di Hong Kong ngetwit dlm bhs Inggris shg gemanya interasional," katanya.
Pengguna Twitter bernama Ernest Prakasa melalui akun ?@ernestprakasa juga turut mengecam kejadian tersebut.
"TKI pemilih Jokowi dizolimi habis di Hong Kong. Brace yourself. Winter is coming," katanya.
Penyelenggara pemilu diminta untuk tidak membiarkan kasus tersebut berlarut-larut sehingga memunculkan citra negatif bagi Indonesia. Itu sebabnya, wartawan Tempo Arif Zulkifli melalui akun Twitter ?@arifz_tempo mendesak agar Komisi Pemilihan Umum segera turun tangan menyelesaikannya.
"KPU harus bertindak cepat untk atasi kisruh pmlhn di hongkong. Membiarkan keadaan akan buat KPU dinilai tak adil," katanya.
Seperti diketahui pemungutan suara pilpres yang diselenggarakan Panitia Pemungutan Luar Negeri di Hongkong berlangsung ricuh pada Minggu (6/7/2014) sore. Ratusan TKI yang sudah kesal, mengamuk dengan cara merobohkan pagar tempat pemungutan suara. Mereka mengamuk karena pagar sudah ditutup, padahal belum memberikan hak suara.