Mengapa Indonesia Marak Ijazah Palsu? Ini Penjelasan Ilmuwan

Siswanto, Dian Kusumo Hapsari

Minggu, 24 Mei 2015 | 18:34 WIB
Mengapa Indonesia Marak Ijazah Palsu? Ini Penjelasan Ilmuwan
Ilustrasi ijazah (shutterstock)

Belum lama ini, Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi M. Nasir mengungkapkan adanya praktek jual beli ijazah di 18 kampus di Indonesia. Bahkan, praktek tersebut sudah berlangsung dalam lima tahun terakhir.

Melihat kondisi tersebut, ilmuwan angkat bicara. Ketua Akademisi Ilmu Pengetahuan Indonesia Sangkot Marzuki mengatakan fenomena ijazah palsu muncul karena adanya permintaan dari pasar. Ketika persyaratan pegawai negeri maupun swasta lebih mengandalkan gelar atau ijazah, masyarakat pun akan menyiatinya.

“Ini kan karena adanya permintaan pasar, jadi karena permintaan pasar tinggi maka akan ada pasarnya sendiri. Pembelinya ya yang bisa beli. Karena kan kalau di Indonesia mau naik pangkat atau segala macam harus ada latar belakang gelarnya, ini sudah menjadi penyakit di Indonesia,” kata Sangkot di Jakarta, Minggu (24/5/2015).

Menurut Sangkot bagi mereka yang tidak memiliki gelar atau ijazah sarjana, sementara persyaratan diterima kerja minimum S1, maka mereka akan mencari ijazah bagaimana pun caranya.

Dia menambahkan demikian pula dengan ijasah S3, juga akan mereka usahakan dengan cara apapun, jika persyaratan-persyaratan tertentu mengutamakan yang berpendidikan S3.

“Karena persayaratan yang ada seperti itu, maka marak peredaran ijasah palsu. Ini memang sudah menjadi penyakit di Indonesia,” kata dia.

Berbeda dengan di Australia atau negara-negara tetangga lainnya. Menurut Sangkot di Australia jika seseorang ingin melamar sekolah S2 atau naik jabatan, yang dilihat bukan ijazah atau nilai IPK yang diraih orang tersebut, melainkan lebih secara personal.

“Kalau di Australi itu, kalau kita mau melamar S2 kita itu ditanya siapa supervisornya, siapa yang mengeluarkan. Ini lebih personal. Kalau di Indonesia tidak, makanya ini marak pegawai yang menggunakan ijazah palsu,” katanya.

Selain itu, masih banyak universitas yang bahkan berani memberikan gelar profesor palsu kepada sembarang orang.

“Adalah  pihak yang memberikan ijazah dengan gelar palsu, misalnya profesor kehormatan. Mana ada orang dapat profesor kehormatan. Gelar itu berarti kalau di luar negeri ada honorary profesor itu bukan berarti bukan diangkat sebagai kehormatan, tapi dia diangkat sebagai profesor, tapi tidak dibayar. Itu artinya, kalau di Indonesia itu guru besar kehormatan, bukan guru besar luar biasa. Karena guru besar itu adalah pekerjaan. Kalau dia sudah selesai maka gelar itu tidak dipakai lagi,” katanya.

Sangkot berharap kepada pemerintah untuk lebih peduli masalah ini. Indonesia harus bisa mencontoh negara-negara lain agar lebih maju dan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.

“Ya angka itu kan sebenarnya enggak terlalu penting. Buktinya bisa dikutak-katik. Yang penting adalah  lebih mengenal secara personal kalau mau merekrut SDM,” kata dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pembuat Ijazah Palsu Pelacur Intelektual

Pembuat Ijazah Palsu Pelacur Intelektual

News | Kamis, 21 Mei 2015 | 00:43 WIB

Terkini

Penutupan Piala Dunia 2026 Jam Berapa? Ini Jadwal Closing Ceremony FIFA World Cup

Penutupan Piala Dunia 2026 Jam Berapa? Ini Jadwal Closing Ceremony FIFA World Cup

Lifestyle | Minggu, 19 Juli 2026 | 08:05 WIB

Mencekam! Hujan Rudal Iran Sasar Hanggar Pesawat Tempur Amerika Serikat

Mencekam! Hujan Rudal Iran Sasar Hanggar Pesawat Tempur Amerika Serikat

News | Minggu, 19 Juli 2026 | 08:02 WIB

Warga Menteng Berharap Liga Aspal Tak Lagi Digelar di Jalanan

Warga Menteng Berharap Liga Aspal Tak Lagi Digelar di Jalanan

News | Minggu, 19 Juli 2026 | 08:00 WIB

Terancam Sanksi FIFA, Argentina Diinvestigasi usai Selebrasi Kontroversi

Terancam Sanksi FIFA, Argentina Diinvestigasi usai Selebrasi Kontroversi

Your Say | Minggu, 19 Juli 2026 | 07:50 WIB

5 Zodiak dengan Horoskop Terbaik 19 Juli 2026, Siap-siap Cuan Besar

5 Zodiak dengan Horoskop Terbaik 19 Juli 2026, Siap-siap Cuan Besar

Lifestyle | Minggu, 19 Juli 2026 | 07:46 WIB

Warga Diminta Waspada! Dinamika Atmosfer Picu Hujan Lebat dan Petir di Sejumlah Kota

Warga Diminta Waspada! Dinamika Atmosfer Picu Hujan Lebat dan Petir di Sejumlah Kota

News | Minggu, 19 Juli 2026 | 07:46 WIB

Tentara Israel Larang Azan Subuh di Betlehem, Usir Paksa Jemaah Masjid Desa Husan

Tentara Israel Larang Azan Subuh di Betlehem, Usir Paksa Jemaah Masjid Desa Husan

News | Minggu, 19 Juli 2026 | 07:45 WIB

Donald Trump Siap Serahkan Trofi Juara di Final Piala Dunia 2026

Donald Trump Siap Serahkan Trofi Juara di Final Piala Dunia 2026

News | Minggu, 19 Juli 2026 | 07:34 WIB

Skandal Investasi? Pejabat AS Raup Untung Fantastis dari IPO SpaceX

Skandal Investasi? Pejabat AS Raup Untung Fantastis dari IPO SpaceX

Bisnis | Minggu, 19 Juli 2026 | 07:29 WIB

Review Series A Good Girl's Guide to Murder, Misteri Hilangnya Siswi Populer

Review Series A Good Girl's Guide to Murder, Misteri Hilangnya Siswi Populer

Your Say | Minggu, 19 Juli 2026 | 07:25 WIB

×