Korban Tewas Gelombang Panas di India Terus Bertambah

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 28 Mei 2015 | 12:50 WIB
Korban Tewas Gelombang Panas di India Terus Bertambah
Ilustrasi kekeringan. (Shutterstock)

Suara.com - Korban tewas gelombang panas di India terus bertambah. Sampai, Kamis (28/5/2015) ini jumlah korban mencapai 1.400 orang, sebelumnya 800 sampai 1.100 orang. Itu korban selama sepekan terakhir.

Cuaca ekstrim itu bahkan mencairkan aspal di jalan-jalan India. Suhu panas di Odisha, salah satu kota di India misalnya. Di sana suhu naik hingga 47 derajat celcius.

Di kawasan selatan India paling banyak menyumbang korban jiwa. Jumlahnya mencapai 1.270 orang. Kawasan itu adalah Telangana dan Andhra Pradesh. Panas di sana mencapai 46,9 derajat celcius. Banyak pengangguran dan tunawisma yang tewas karena tak punya tempat berteduh.

"Panas yang begitu mengerikan, saya tidak keluar siang hari. Saya berendam diri dengan air dingin dan cairan lainnya seharian," kata Prakash Rao, seorang karyawan pensiunan di Kabupaten Krishna seperti dilansir Hindustan Times, Kamis (28/5/2015).

Di Kolkata, panas ekstrim menghalangi produksi batubara. Bahkan pemerintah meminta pekerja untuk berhenti produksi sejenak. Terutama untuk pekerja di siang hari.

Masih dilansir Hindustan Times, jumlah kematian akibat cuaca ekstrim ini meningkat 61 persen dibanding kurun waktu 2004-2013. Selama 10 tahun terakhir ada 9734 orang tewas di seluruh negeri akibat gelombang panas. Andhra Pradesh dan Telangana menjadi penyumbang terbesar. Yaitu sampai 1.723 kematian di antara tahun 2004 sampai 2013.

Sementara akibat cuaca ekstim itu listrik dipadamkan padam hingga 10 jam sehari. Panas juga mengganggu pasokan air pipa di beberapa tempat.

Pihak yang paling terdampak langsung dari pans itu adalah kaum gelandangan di daerah kumuh dan para pekerja jalanan, termasuk pekerja konstruksi atau buruh bangunan.

Salah satunya, Latha. Kepada NDTV dia mengatakan tidak akan mendengar ajuran pemerintah untuk tidak keluar rumah. Jika itu dilakukan, dia tidak bisa mendapatkan uang dan tidak bisa memberi makan keluarganya.

"Kami mendapatkan sekitar Rs250 (USD 3,90) per hari. Jika saya tidak bekerja, bagaimana kami akan bertahan?" dia berkata.

Namun di beberapa kawasan di Telangana, termasuk Hyderabad hujan mulai rutun. Begitu distrik Nellore pada, Rabu (28/5/2015) malam. (Hindustan Times/IBTimes)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ratusan Orang Tewas karena Gelombang Panas di India

Ratusan Orang Tewas karena Gelombang Panas di India

News | Rabu, 27 Mei 2015 | 17:16 WIB

Tak Ada Satu pun yang Tertarik Bekerja di Maskapai Ini

Tak Ada Satu pun yang Tertarik Bekerja di Maskapai Ini

Bisnis | Senin, 16 Maret 2015 | 13:04 WIB

Miss India Indonesia Kembali Digelar

Miss India Indonesia Kembali Digelar

Lifestyle | Selasa, 27 Januari 2015 | 19:07 WIB

Terkini

Usai Bertemu Wapres Gibran, Pengurus BEM UBK Akui Terima Uang: Baru Cair 20 Persen!

Usai Bertemu Wapres Gibran, Pengurus BEM UBK Akui Terima Uang: Baru Cair 20 Persen!

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 08:16 WIB

Kronologi BEM FH UBK Diinterogasi, Diduga Terima Uang Usai Bertemu Wapres Gibran

Kronologi BEM FH UBK Diinterogasi, Diduga Terima Uang Usai Bertemu Wapres Gibran

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 08:05 WIB

Tragis di Negeri Rantau, PMI Asal Aceh dan Bayinya Tewas Diduga Dibunuh di Malaysia

Tragis di Negeri Rantau, PMI Asal Aceh dan Bayinya Tewas Diduga Dibunuh di Malaysia

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 07:15 WIB

Iran vs Barat: Skema Asuransi Selat Hormuz Bisa Lumpuhkan Perdagangan Dunia

Iran vs Barat: Skema Asuransi Selat Hormuz Bisa Lumpuhkan Perdagangan Dunia

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 04:50 WIB

Profil Andy Burnham Calon PM Inggris: Penganut Manchesterism yang Diteriaki Bukan Messiah

Profil Andy Burnham Calon PM Inggris: Penganut Manchesterism yang Diteriaki Bukan Messiah

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 00:52 WIB

Tangis Tertahan Keir Starmer: Mundur sebagai PM Inggris, Tekanan Partai Jadi Pemicu

Tangis Tertahan Keir Starmer: Mundur sebagai PM Inggris, Tekanan Partai Jadi Pemicu

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 00:36 WIB

Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Roy Suryo dan dr Tifa Segera Disidang di PN Jakarta Timur!

Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Roy Suryo dan dr Tifa Segera Disidang di PN Jakarta Timur!

News | Senin, 22 Juni 2026 | 23:03 WIB

Akses KRL ke JIS Sudah Aktif: Ini Rute dan Jam Operasionalnya!

Akses KRL ke JIS Sudah Aktif: Ini Rute dan Jam Operasionalnya!

News | Senin, 22 Juni 2026 | 22:39 WIB

Niat ke Lombok Malah Dibuang ke Terminal Bayangan, WNA Uzbekistan Terlunta-lunta Ditipu Taksi Gelap

Niat ke Lombok Malah Dibuang ke Terminal Bayangan, WNA Uzbekistan Terlunta-lunta Ditipu Taksi Gelap

News | Senin, 22 Juni 2026 | 22:31 WIB

Ungkap Alasan Vonis 8 Tahun Bos Grup BJU Hendarto, Hakim: Hasil Korupsi Dipakai Judi!

Ungkap Alasan Vonis 8 Tahun Bos Grup BJU Hendarto, Hakim: Hasil Korupsi Dipakai Judi!

News | Senin, 22 Juni 2026 | 22:14 WIB