Tak Terima Anak Dapat Teguran, Orang Tua Murid Pukuli Guru

Suwarjono | Suara.com

Rabu, 10 Agustus 2016 | 19:34 WIB
Tak Terima Anak Dapat Teguran, Orang Tua Murid Pukuli Guru
Ilustrasi kekerasan di lembaga pendidikan. (shutterstock)

Suara.com -  Oknum orang tua murid memukuli guru SMK Negeri 2 di Jalan Pancasila, Makassar, hingga berdarah-darah karena tidak terima anaknya Alif Syahdan ditegur tidak menyetorkan tugas sekolah.

Oknum orang tua murid itu Adnan Achmad (38) sedangkan guru yang dianiaya, Dahrul (45).

"Saya hanya menegur dia (Alif) tidak membawa buku gambar dan tidak mengerjakan tugas rumah, lalu dia marah dan menendang pintu dan berbicara kotor. Saya kasih pelajaran karena tidak menghargai guru, eh kemudian menelepon orang tuanya dan terjadi insiden ini," tutur Dahrul di Polsek Tamalate, Rabu.

Dirinya menjelaskan bahwa tadinya ingin memberikan ajaran kesopanan kepada Alif, namun keburu orang tuanya datang ke sekolah dan mengejar dirinya dipukuli dua kali sampai hidungnya berdarah dan terjatuh, bahkan pelaku sempat masuk ke ruangan kelas melampiaskan amarahnya.

"Saya dipukuli dua kali, satu dihidung sampai berdarah. Dia juga berteriak-teriak dan memaki-maki seolah-olah saya punya kesalahan besar. Inilah yang selalu kami takutkan orang tua siswa saat ini tidak memberikan kepercayaan kepada kami guru untuk mendidik mereka," ulas dia kepada wartawan dengan baju penuh darah.

Kepala Polsek Tamalate Kompol Azis Yunus mengatakan saat ini pelaku sedang di periksa penyidik dan dimintai keterangan terkait kasus pemukulan tersebut. Sementara korban yang menderita luka diwajah sudah di bawa ke rumah sakit dan mendapatkan visum sebagai bagian dari pemeriksaan.

Pelaku diamankan polisi saat adanya laporan masuk terjadi insiden perkelahian. Keduanya kemudian dibawa ke kantor polisi yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Korban saat itu, lanjut dia, mengalami pendarahan pada bagian hidung dan wajahnya.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, penganiyaan itu akibat salah paham. Pelaku dengan penuh emosi mendatangi sekolah SMK Negeri 2 jalan Pancasila dan langsung mencari korban lalu memukulinya. Dari keterangan sementara korban menegur anak pelaku yakni Alif karena tidak menyetorkan tugas rumah.

Kemudian ditegur malah anak pelaku melontarkan kata-kata kotor dan tidak sopan sembari menedang pintu, karena tidak terima diperlakukan seperti itu oleh muridnya korban memberikan pelajaran dengan menampar pipi anak tersebut secara spontan, lalu menelepon orang tuanya dan terjadi kejadian itu.

"Tim penyidik masih melakukan pemeriksaan baik korban maupun pelaku pemukulan. Kasus ini sedang dalam proses penyelidikan," ucap Azis.

Bahkan pelaku sempat ingin dikeroyok siswa karena melihat gurunya dipukuli secara tidak beradab di lingkungan sekolah. Namun hal itu bisa segera dicegah karena tim Polsek Tamalate segera tiba di lokasi kejadian lalu mengevakuasi keduanya di kantor polisi.

Pelaku, Adnan mengakui bahwa kejadian itu begitu cepat dan menyulut emosinya hingga memukuli guru dihadapan murid-murid di sekolah anaknya karena mendengar anaknya disakiti.

"Saya emosi saat itu dan langsung ke sekolah, kemudian saya melihat guru yang menampar anak saya lalu dikejar dan terjadilah kejadian ini," ujar dia.

Kejadian ini pun memancing reaksi anggota DPRD Kota Makassar Mudzakkir Ali Djamil. Dia menyesalkan terjadinya kasus pemukulan guru yang semestinya tidak terjadi bila diselesaikan dengan kepala dingin baik orang tua siswa maupun guru sekolah setempat.

Main hakim sendiri, kata pria disapa akrab Muda ini menyayangkan perbuatan dan perilaku orang tua murid yang tidak mempercayakan anaknya dididik oleh guru. Apalagi gurub hanya menegur lantas dibalas dengan umpatan kata-kata kasar.

Meski demikian guru juga tidak selayaknya menegur anak didiknya dengan kata-kata cukup kasar sehingga anak-anak bisa melakukan perlawanan, mengingat anak-anak zaman ini terlalu lemah dan dimanjakan orang tua, berbeda pendidikan di masa lalu.

"Guru di sekolah kan pengganti orang tua. Seharusnya orang tua mempercayakan anaknya dididik guru. Kalau tidak mau dididik, silahkan saja orang tuanya mendidiknya sendiri. Guru juga sebagai wali orang tua harus pintar-pintar membaca psikologis anak, sebab tidak semua sama. Berbeda dengan kita dulu sekolah, mau diapakan pun tetap kita patuh, sekarang sudah berubah," ungkapnya.

Ketua Komisi D DPRD Makassar itu menuturkan guru punya hak dan peran vital untuk mengembangkan potensi peserta didiknya, sehingga tenaga pengajar di sekolah sebagai tulang punggung pendidikan bagi anak-anak.

"Bila kejadiannya seperti ini maka guru dan tenaga pengajar akan merasa sedih, apalagi mereka mengajarkan anak-anak budi pekerti malah dijadikan pelampiasan emosi orang tuanya. Sudah banyak kasus yang terjadi, orang tua masih jarang percaya kepada guru dalam hal mendidik mereka," tambah politisi PKS Makassar itu. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terkini

Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor

Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 13:29 WIB

Kata-kata Pemerintah Indonesia Tahu Aktivis Global Sumud Flotilla Disiksa Israel

Kata-kata Pemerintah Indonesia Tahu Aktivis Global Sumud Flotilla Disiksa Israel

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 13:25 WIB

Menko PMK Pratikno Mengaku Selalu Ketakutan Setiap Ditelepon Menteri PPPA, Ada Apa?

Menko PMK Pratikno Mengaku Selalu Ketakutan Setiap Ditelepon Menteri PPPA, Ada Apa?

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 12:58 WIB

Dukung Prabowo Sikat Oknum 'Coklat' dan 'Hijau' Beking Kejahatan, Sahroni: Pecat dan Pidana!

Dukung Prabowo Sikat Oknum 'Coklat' dan 'Hijau' Beking Kejahatan, Sahroni: Pecat dan Pidana!

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 12:40 WIB

KPK: Seharusnya MBG Dilakukan Secara Selektif, Bukan Masif

KPK: Seharusnya MBG Dilakukan Secara Selektif, Bukan Masif

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 12:26 WIB

KPK Beberkan 1.720 Laki-laki Terjerat Korupsi, Perempuan Lebih 'Tahan Iman'?

KPK Beberkan 1.720 Laki-laki Terjerat Korupsi, Perempuan Lebih 'Tahan Iman'?

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 12:23 WIB

Israel Siksa Aktivis Global Sumud Flotilla, Distrum Hingga Tulang Rusuk Patah dan Sulit Nafas

Israel Siksa Aktivis Global Sumud Flotilla, Distrum Hingga Tulang Rusuk Patah dan Sulit Nafas

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 11:49 WIB

Menteri PPPA Serukan Perang Lawan Kekerasan: 1 dari 2 Anak Pernah Jadi Korban

Menteri PPPA Serukan Perang Lawan Kekerasan: 1 dari 2 Anak Pernah Jadi Korban

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 11:40 WIB

Indonesia Harusnya Bisa Lobi Israel Bebaskan 9 WNI yang Ditangkap Karena Ini

Indonesia Harusnya Bisa Lobi Israel Bebaskan 9 WNI yang Ditangkap Karena Ini

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 11:25 WIB

Sebut Kelas Menengah Makin Rentan, Sosiolog UGM: Apabila Tak Diatasi Cepat, Dampaknya Akan Beruntun

Sebut Kelas Menengah Makin Rentan, Sosiolog UGM: Apabila Tak Diatasi Cepat, Dampaknya Akan Beruntun

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 11:21 WIB