Pelajar Indonesia di Belanda Berdiskusi Tentang Desentralisasi RI

Adhitya Himawan | Suara.com

Jum'at, 24 Februari 2017 | 13:53 WIB
Pelajar Indonesia di Belanda Berdiskusi Tentang Desentralisasi RI
Diskusi Pelajar Indonesia di Belanda mengenai desentralisasi di Indonesia. [Dok Perhimpunan Pelajar Indonesia]

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda dan PPI Amsterdam menggelar diskusi bertajuk Understanding Indonesia: Exploring Decentralization in a Highly Pluralistic Nation dengan mengundang Elizabeth Pisani sebagai narasumber. Diskusi rutin yang diberi nama Lingkar Inspirasi ini dihadiri tidak kurang dari 50 pelajar Indonesia maupun internasional yang tengah menuntut ilmu di Belanda. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin (20/2/2017) pukul 18.00 waktu setempat, berlokasi di gedung Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda.

Elizabeth Pisani merupakan seorang jurnalis dan epidemiologist berkebangsaan United Kingdom dan Amerika Serikat yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia sejak ia memulai karir di kantor berita international Reuters di London.

Lingkar Inspirasi dibuka oleh Ketua PPI Amsterdam, Fahmi Fathurrahman, serta dilanjutkan sambutan dari Wakil Kepala Perwakilan KBRI di Belanda, Bapak Ibnu W. Wahyutomo, yang secara ringkas menyambut baik kedatangan Elizabeth Pisani dan para pembicara serta menyampaikan bahwa diskusi tersebut diharapkan dapat semakin membuka wawasan para pelajar Indonesia di Belanda mengenai topik terkait.

Dalam diskusi kali ini, Elizabeth mengemukakan pengetahuan serta pemikirannya mengenai desentralisasi di Indonesia, dimulai dari sejarah hingga sisi positif dan negatif pemberlakuan otonomi daerah bagi masyarakat. Dalam sudut pandang Elizabeth, desentralisasi muncul sebagai buah dari aspirasi rakyat yang ingin mengeksistensikan keberadaan daerahnya sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tak melulu konsep Jakarta atau Jawa-sentris yang ditawarkan. "Alasan lainnya ialah demi peningkatan ekonomi terkait pemberdayaan sumber daya alam dan manusia yang dimiliki daerah tersebut," kata Elizabeth.

Sebelum era reformasi dimulai pada tahun 1999, Indonesia memiliki sekitar 295 kabupaten dan kota. Kini, Indonesia telah memiliki 514 kabupaten dan kota dengan sistem pemilihan kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh warga. Setiap kepala daerah memiliki gaya kepemimpinan masing-masing. Hal positif dari adanya desentralisasi inilah yang kemudian mampu memunculkan kepala-kepala daerah yang potensial dan beragam.

Dalam kaitannya dengan masyarakat yang pluralis, Elizabeth berkata, “Frase ‘putra-putri daerah’ dan ‘pendatang’ sering ‘ku dengar selama aku berkeliling ke pelosok di Indonesia”. Pluralisme yang tengah terjadi hingga level daerah ini menurutnya merupakan kesempatan besar dari segi peningkatan perekonomian. Namun, sesungguhnya yang terjadi saat ini adalah masih banyaknya daerah yang porsi keterlibatan dalam perekonomian antara warga lokal dan pendatang tidak terintegrasi dengan baik dibandingkan dengan kota-kota besar. "Ditambah lagi dengan level pendidikan yang berbeda, kesempatan bisnis dicemaskan akan lebih bertumpu kepada pendatang. Hal ini tentunya merupakan tantangan yang patut disorot," ujar Elizabeth.

Selain Elizabeth Pisani, dua pembicara lain turut didatangkan untuk melengkapi topik diskusi, yakni Fredrick Dermawan Purba (PhD Candidate - Medical Psychology and Psychotherapy, Erasmus Medical Center Rotterdam), yang mengupas penelitiannya tentang kualitas kehidupan masyarakat Indonesia pada beberapa regional di Indonesia, termasuk masyarakat yang tinggal di pinggir Kali Ciliwung. Pembicara berikutnya ialah Retna Hanani (PhD Candidate - Social Science, Universiteit van Amsterdam) yang mengangkat topik pelayanan kesehatan dan peningkatan kesejahteraan sebagai isu ‘primadona’ pada kampanye pemilihan kepala daerah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu hal menarik yang disampaikan oleh Fredrick atau yang akrab dipanggil Jecky, bahwa dalam kasus masyarakat pinggir Kali Ciliwung tidak terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat kebahagiaan, sebagai salah satu faktor kualitas kehidupan, dengan tingkat pendapatan. “Hal ini mungkin disebabkan oleh tipikal masyarakat Indonesia yang bersyukur terhadap apapun yang dimiliki”, imbuhnya. Salah satu peserta, Abellia Anggi Wardani, turut menambahkan bahwa ia pernah melakukan penelitian sejenis dan dapat diketahui bahwa kebahagiaan masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai disebabkan pula oleh tingginya sense of belonging antar warga.

Menyambung topik kualitas kehidupan masyarakat, dalam diskusi kali ini Retna Hanani atau yang biasa dipanggil Hana berbagi pemikirannya mengenai perbedaan pendekatan yang dilakukan oleh kepala daerah dalam menyusun kebijakan perihal kesehatan di daerah masing-masing. Contoh yang disebutkan adalah Kota Jakarta, Kabupaten Jembrana, dan Kabupaten Tabanan. Di samping itu, Hana turut mengemukakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan kebijakan kepala daerah tersebut, di antaranya keberadaan mafia di balik layar yang mendukung kandidat tertentu, mass mobilization, atau pengaruh dari mesin politik.

Tingginya antusiasme peserta dalam mengikuti diskusi nampak dari banyaknya pertanyaan yang dikemukakan, termasuk pertanyaan dari WNI yang sedang berada di Indonesia, Awangga Lazuardi Rendra, yang ia kemukakan melalui akun instagram PPI Amsterdam yang tengah melakukan siaran langsung Lingkar Inspirasi melalui feature Instagram Live. Ia bertanya mengenai pandangan Elizabeth terhadap keberagaman agama di Indonesia yang dikaitkan dengan politik serta cara masyarakat Indonesia menghadapinya. Secara umum, Elizabeth menanggapi bahwa apabila terdapat kisruh destruktif yang terjadi, maka hal ini tidak mencerminkan karakter mayoritas dari masyarakat Indonesia yang pluralis. Oleh karena itu, tidak sepatutnya masyarakat menaruh banyak porsi perhatian terhadap isu tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Indonesia-Belanda Konkretkan Kerjasama Riset dan Pendidikan

Indonesia-Belanda Konkretkan Kerjasama Riset dan Pendidikan

News | Jum'at, 17 Februari 2017 | 12:46 WIB

Puluhan Profesor Kelas Dunia ke Indonesia, Ada Apa?

Puluhan Profesor Kelas Dunia ke Indonesia, Ada Apa?

Tekno | Senin, 19 Desember 2016 | 05:00 WIB

PM Belanda: Indonesia Mitra Penting Belanda

PM Belanda: Indonesia Mitra Penting Belanda

Bisnis | Rabu, 23 November 2016 | 17:50 WIB

Indonesia-Belanda Perkuat Kerjasama Infrastruktur

Indonesia-Belanda Perkuat Kerjasama Infrastruktur

Bisnis | Rabu, 23 November 2016 | 17:38 WIB

Jokowi Terima Kunjungan PM Belanda

Jokowi Terima Kunjungan PM Belanda

Foto | Rabu, 23 November 2016 | 15:09 WIB

PM Belanda Beri Keris ke Jokowi

PM Belanda Beri Keris ke Jokowi

News | Rabu, 23 November 2016 | 14:52 WIB

Belanda Desak RI Cari Bangkai Kapal Perang Dunia II di Laut Jawa

Belanda Desak RI Cari Bangkai Kapal Perang Dunia II di Laut Jawa

News | Sabtu, 19 November 2016 | 03:02 WIB

Belanda Ditahan Imbang Belgia di Amsterdam Arena

Belanda Ditahan Imbang Belgia di Amsterdam Arena

Bola | Kamis, 10 November 2016 | 05:39 WIB

Manfaatkan Teknologi, Presiden Jokowi Sapa WNI di Sydney

Manfaatkan Teknologi, Presiden Jokowi Sapa WNI di Sydney

News | Senin, 07 November 2016 | 11:13 WIB

Cerita dari Amerika, Seribuan WNI Kumpul Bareng Dihibur Dorce

Cerita dari Amerika, Seribuan WNI Kumpul Bareng Dihibur Dorce

News | Senin, 17 Oktober 2016 | 19:20 WIB

Terkini

2 Masalah Besar Ini Jadi Alasan Donald Trump Pilih Damai Sementara dengan Iran

2 Masalah Besar Ini Jadi Alasan Donald Trump Pilih Damai Sementara dengan Iran

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:58 WIB

Perubahan Iklim Memperluas Risiko Kebakaran Hutan: Ribuan Spesies Terancam Punah

Perubahan Iklim Memperluas Risiko Kebakaran Hutan: Ribuan Spesies Terancam Punah

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:55 WIB

Biaya Penerbangan Haji Terancam Naik hingga 51 persen, Pemerintah Pastikan Tak Bebani Jemaah

Biaya Penerbangan Haji Terancam Naik hingga 51 persen, Pemerintah Pastikan Tak Bebani Jemaah

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:54 WIB

Keracunan MBG di Jakarta Timur Berangsur Pulih, Mayoritas Pasien Segera Pulang

Keracunan MBG di Jakarta Timur Berangsur Pulih, Mayoritas Pasien Segera Pulang

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:48 WIB

BPOM Perluas Vaksin Campak untuk Dewasa, Tenaga Kesehatan Jadi Prioritas

BPOM Perluas Vaksin Campak untuk Dewasa, Tenaga Kesehatan Jadi Prioritas

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:41 WIB

Dalih AI Tak Mempan! JK Resmi Polisikan Rismon Sianipar: Dia Hanya Bantah Pembuatnya, Bukan Isinya!

Dalih AI Tak Mempan! JK Resmi Polisikan Rismon Sianipar: Dia Hanya Bantah Pembuatnya, Bukan Isinya!

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:40 WIB

30 Negara Bersatu Rancang Strategi Pembukaan Selat Hormuz Pasca Gencatan Senjata

30 Negara Bersatu Rancang Strategi Pembukaan Selat Hormuz Pasca Gencatan Senjata

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:36 WIB

KPK Ungkap Ada Saksi Kasus Suap Ijon Bekasi Diintimidasi, Rumahnya Dibakar

KPK Ungkap Ada Saksi Kasus Suap Ijon Bekasi Diintimidasi, Rumahnya Dibakar

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:28 WIB

Terungkap! AS Sudah 'Ngemis' Minta Ampun Sejak Hari ke-10 Perang, Kini Tunduk pada 10 Syarat Iran

Terungkap! AS Sudah 'Ngemis' Minta Ampun Sejak Hari ke-10 Perang, Kini Tunduk pada 10 Syarat Iran

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:28 WIB

Unggah Pernyataan Iran di Medsos Pribadi, Donald Trump Diledek Jadi 'Jubir Iran'

Unggah Pernyataan Iran di Medsos Pribadi, Donald Trump Diledek Jadi 'Jubir Iran'

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:22 WIB