Di Balik Pemblokiran Telegram, 17 Kasus Terorisme ada di Sini

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 18 Juli 2017 | 07:12 WIB
Di Balik Pemblokiran Telegram, 17 Kasus Terorisme ada di Sini
Ilustrasi aplikasi Telegram. (Shutterstock)

Dia menambahkan, komunikasi lewat layanan berbagi pesan seperti ini dianggap sangat efektif untuk memberikan doktrin ‎radikal.

Sehingga, fenomena "lone wolf self radicalisation" bisa muncul dengan mudah lewat Telegram. Karenanya, Polri memberikan rekomendasi agar Pemerintah memblokir layanan ini.

"Karena ‎ini tidak face to face, ini lebih berbahaya. Karena kalau ketemu didoktrin face to face akan dipahami dan dideteksi intelijen, tapi kalau dengan aplikasi, sulit untuk dideteksi," kata dia.

Selain sulit dideteksi, aparat keamanan juga kesulitan untuk melakukan penetrasi ke grup radikal dalam layanan tersebut.‎ Sebab, kata Tito, setiap kali aparat keamanan berupaya menyamar, selalu ketahuan oleh kelompok tersebut dan berakhir kepada kegagalan penyamaran.

"Kalau (kita) menyamar, mereka (kelompok radikal) mengerti teknik-teknik itu untuk meng-counter. Maka yang kita lakukan adalah meminta untuk dilakukan penutupan," kata Tito sambil menambahkan akan ada pro kontra dari penutupan ini.

Dia menambahkan, pola teroris sekarang ini juga sudah berubah. Kalau dahulu doktrin dilakukan secara‎ tatap muka. Sekarang, doktrin bisa dilakukan hanya lewat membaca pesan di Telegram atau internet.

"Mulai 2-3 tahun ini, sejak ada ISIS, fenomenanya non struktur, yang dilakukan orang-orang dengan membaca Telegram, kemudian terjadi self radikalisasi, kemudian latihan membuat bom yang namanya online training. Ini kan bahaya," kata Tito.

Kepolisian Indonesia mencatat ada 31 satu kasus terorisme dari Tahun 2015 sampai Juni 2017. ‎Dari kasus itu, ada 336 orang tersangka yang ditangkap. Sebagian besar dari tersangka ditangkap saat proses pencegahan.

"Jadi kalau kita lihat 336 tersangka sebagian besar dalam proses pencegahan dibandingkan penangkapan tapi yang terekspos kalau yang sudah meledak," kata Tito.

baca juga

Dari dua tahun ini, pola terorisme mulai berubah. Sekarang adalah bergerak sendirian dan teradikalisasi melalui internet‎. Lewat internet ini pula, kata Tito, pelaku bisa training cara menyerang lawan, membuat bom dan lainnya tanpa tatap muka.

"Dan ini berbeda dengan fenomena bom Bali, dulu," kata dia.

Dengan pola seperti itu, Tito menegaskan, proses pencegahannya juga harus berbeda. Tito mengatakan, pencegahan model jaringan teroris seperti ini dengan cara menguatkan kerja intelijen.

"Kalau untuk kasus ini maka kunci utama kekuatan intelijen. Nah sekarang dengan fenomena lone wolf kita perkuat cyber kita mengawasi aktivitas dunia maya. Melakukan langkah langkah untuk menekan sistem komunikasi mereka dan melakukan counter di dunia maya. ini namanya perang di dunia maya," kata Tito.

Saat ini, tambah Tito, sejumlah kelompok sudah teridentifikasi polisi. Polisi pun tengah melakukan langkah antisipasi untuk kelompok-kelompok ini.

"Mereka melakukan dan menyebut cyber jihad, cyber terorism. Dan kita harus melakukan cyber counter terorism disamping kegiatan kontra radikalisasi untuk mencegah masyarakat yang rentan terkena terpengaruh radikal," kata dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Jangan Sampai Pemblokiran Telegram Jadi Backfire ke Pemerintah

Jangan Sampai Pemblokiran Telegram Jadi Backfire ke Pemerintah

News | Senin, 17 Juli 2017 | 18:08 WIB

Ini Sosok Pengusul Pemblokiran Telegram

Ini Sosok Pengusul Pemblokiran Telegram

Tekno | Senin, 17 Juli 2017 | 17:36 WIB

Telegram Diblokir, Polisi Lacak Media Baru Propaganda Teroris

Telegram Diblokir, Polisi Lacak Media Baru Propaganda Teroris

News | Senin, 17 Juli 2017 | 12:35 WIB

Presiden Jokowi Beberkan Alasan Tutup Telegram

Presiden Jokowi Beberkan Alasan Tutup Telegram

Tekno | Senin, 17 Juli 2017 | 05:44 WIB

Blokir Telegram, Pengamat Sebut Pemerintah Gagal Paham

Blokir Telegram, Pengamat Sebut Pemerintah Gagal Paham

Tekno | Senin, 17 Juli 2017 | 00:17 WIB

Kenapa Teroris Gunakan Aplikasi Telegram, Ini Jawabannya

Kenapa Teroris Gunakan Aplikasi Telegram, Ini Jawabannya

News | Minggu, 16 Juli 2017 | 19:42 WIB

Dihubungi Telegram, Kominfo Siap Duduk Bersama Bahas Pemblokiran

Dihubungi Telegram, Kominfo Siap Duduk Bersama Bahas Pemblokiran

Tekno | Minggu, 16 Juli 2017 | 17:26 WIB

Telegram Akan Tutup Channel-channel Berisi Konten Radikal

Telegram Akan Tutup Channel-channel Berisi Konten Radikal

Tekno | Minggu, 16 Juli 2017 | 14:41 WIB

Telegram Jadi Sarang Teroris, Tito Jabarkan Penyebabnya

Telegram Jadi Sarang Teroris, Tito Jabarkan Penyebabnya

News | Minggu, 16 Juli 2017 | 14:03 WIB

Terkini

BSU 2026 Kapan Cair? Ini Update Resmi Kemnaker, Segera Cek Status Penerima

BSU 2026 Kapan Cair? Ini Update Resmi Kemnaker, Segera Cek Status Penerima

Bisnis | Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:17 WIB

Anak Krakatau Kembali Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Tertinggi 500 Meter

Anak Krakatau Kembali Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Tertinggi 500 Meter

News | Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:15 WIB

Dilema Kebijakan Pangan: Mengapa Diversifikasi Pangan Belum Jadi Kebiasaan?

Dilema Kebijakan Pangan: Mengapa Diversifikasi Pangan Belum Jadi Kebiasaan?

Your Say | Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:15 WIB

Sunscreen Wardah SPF 35 vs SPF 50, Mana yang Cocok untuk Kulit Berminyak?

Sunscreen Wardah SPF 35 vs SPF 50, Mana yang Cocok untuk Kulit Berminyak?

Lifestyle | Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:11 WIB

5 Zodiak Paling Banyak Ditaksir tapi Memilih Tetap Jomblo, Nyaman dengan Kebebasan

5 Zodiak Paling Banyak Ditaksir tapi Memilih Tetap Jomblo, Nyaman dengan Kebebasan

Lifestyle | Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:09 WIB

Novel Ghosting Writer: Ketika Popularitas Dibalap oleh Pesaing Misterius

Novel Ghosting Writer: Ketika Popularitas Dibalap oleh Pesaing Misterius

Your Say | Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:00 WIB

3 Varian Sariayu Facial Foam Lengkap dengan Review Pembeli, Harga di Bawah 40 Ribu

3 Varian Sariayu Facial Foam Lengkap dengan Review Pembeli, Harga di Bawah 40 Ribu

Lifestyle | Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:54 WIB

Bedak Apa yang Makin Berkeringat Makin Glowing? Cek 5 Pilihan Murah di Bawah Rp100 Ribu

Bedak Apa yang Makin Berkeringat Makin Glowing? Cek 5 Pilihan Murah di Bawah Rp100 Ribu

Lifestyle | Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:54 WIB

Kronologi Kader PDIP Musyafirin Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai Berujung Usulan Pemecatan

Kronologi Kader PDIP Musyafirin Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai Berujung Usulan Pemecatan

News | Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:47 WIB

Tren Bahasa Gen Z: Campur Aduk, Makin Asyik, atau Malah Bikin Pusing?

Tren Bahasa Gen Z: Campur Aduk, Makin Asyik, atau Malah Bikin Pusing?

Your Say | Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:45 WIB

×