Gunung Agung Awas, Pura Besakih Khawatir

Chaerunnisa

Sabtu, 14 Oktober 2017 | 07:49 WIB
Gunung Agung Awas, Pura Besakih Khawatir
Anggota Brimob berjaga di kawasan Pura Besakih saat aktivitas Gunung Agung masih pada level awas di Karangasem, Bali, Rabu (4/10).

Pria yang saat itu baru berumur tujuh tahun itu mengaku masih terngiang dalam ingatan bagaimana awan panas dan lahar mengalir di sungai dekat Desa Muncan yang merenggut korban jiwa, termasuk penduduk daerah perdesaan yang saat itu masih sangat jarang jumlahnya.

Ketika Gunung Agung mulai menandakan akan meletus, warga yang berdiam di sekitar lereng Gunung Agung tidak serta merta mengungsi. Banyak yang tetap bertahan di rumah masing-masing bahkan hingga enam bulan setelah letusan pertama terjadi.

Hal itu jauh berbeda dengan kondisi sekarang belum apa-apa masyarakat sudah menjauh, bukan hanya penduduk dari 28 desa yang masuk kawasan rawan bencana (KRB), namun juga masyarakat lain, sehingga pengungsi membeludak hingga mencapai 150.000 jiwa, padahal perkiraan KRB yang wajib menjauh hanya sekitar 70.000 jiwa.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan, jika masyarakat dibiarkan mengungsi akan dikhawatirkan beban pemerintah dan tim penanggulangan bencana menjadi semakin berat. Untuk itu perlu kesadaran dan pengertian masyarakat untuk kembali dan mengikuti instruksi dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) setempat.

Ke-28 desa yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung yang diwajibkan mengungsi terdiri atas tujuh desa di Kecamatan Kubu meliputi Desa Tulamben, Kubu, Dukuh, Baturinggit, Sukadana dan Tianyar (Tianyar tengah dan barat aman).

Lima desa di Kecamatan Abang terdiri atas Desa Pidpid (bagian atas), Nawekerti, Kesimpar, Datah (bagian atas) dan Ababi (atas dan barat). Di Kecamatan Karangasem, tiga desa meliputi Padangkerta, Subagan dan Kelurahan Karangasem (dekat Tukad Janga).

Di Kecamatan Bebandem terdapat empat desa yang warganya harus mengungsi meliputi Buwana Giri (bagian atas), Budekeling (dekat Sungai Embah Api), Bebandem (bagian atas) dan Jungutan.

Warga dari desa-desa di Kecamatan Selat dan Rendang juga wajib mengungsi yakni Duda Utara, Amerta Buwana, Sebudi, Peringsari, Muncan, Besakih, Menanga dan Pembatan.

Mengungsi Jalan Kaki Gubernur Bali Made Mangku Pastika berkali-kali menekankan masyarakat jangan terlalu khawatir yang berlebihan akan kondisi Gunung Agung. Jika dibandingkan dengan tahun 1963, saat Gunung Agung terakhir meletus, kondisi saat ini tentu berbeda.

baca juga

Hal itu berkat mitigasi bencana sudah lebih bagus, peranan pemerintah lebih antisipatif tidak seperti dulu, juga teknologi informasi makin canggih sehingga akan mampu menekan sekecil mungkin jika terjadi hal yang terburuk.

Oleh sebab itu, daerah tujuan wisata Pulau Bali selalu dalam kondisi baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalaupun Gunung Agung meletus semua sudah siap diantisipasi.

Made Tunas mengenang peristiwa pahit yang pernah dialami 54 tahun silam itu dengan tidak serta merta mengungsi begitu Gunung Agung statusnya ditingkatkan dari Siaga menjadi Awas sejak 22 September 2017.

Ia sendiri bertahan di rumah tempat tinggalnya sambil mengurus ternak piaraannya, meskipun istri dan anak-anaknya sudah mengungsi ke GOR Swecapura, Kabupaten Klungkung.

Berdasarkan pengalaman letusan Gunung Agung tahun 1963, saat dirinya berumur tujuh tahun bersama ayahnya baru mengungsi enam bulan setelah letusan pertama sampai ke "desa tetangga" yakni Desa Nongan.

Saat itu, mereka mengungsi dengan berjalan kaki sekitar 15 kilometer akibat tidak ada sarana transportasi berupa kendaraan. Dalam berjalan kaki yang cukup jauh itu, banyak warga masyarakat yang kehausan dan terpaksa minum air sungai.

Tak beberapa lama kemudian masyarakat yang sempat minum air sungai itu tewas yang diduga akibat minum air sungai yang tercemari zat berbahaya yang berasal dari material letusan Gunung Agung.

Namun, masyarakat di lereng Gunung Agung sekarang ini belum apa-apa sudah mengungsi, atau diimbau mengungsi yang tinggal di kawasan rawan bencana, padahal sewaktu letusan tahun 1963 itu aman-aman saja, masyarakat tidak mempunyai kekhawatiran yang berlebihan seperti sekarang ini.

"Oleh sebab itu, saya pilih tinggal di rumah sambil merawat ternak sapi piaraan, meskipun semua anggota keluarga sudah mengungsi," ujar Made Tunas, seperti diwartakan Antara.

Pengalaman Made Tunas itu membuktikan antisipasi itu penting, namun kekhawatiran berlebihan itu tidak penting, karena itu masyarakat perlu mengikuti arahan petugas dari jajaran pemerintahan, sehingga tidak perlu bersikap berlebihan. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pemantauan Kawah Gunung Agung Gagal

Pemantauan Kawah Gunung Agung Gagal

Foto | Kamis, 12 Oktober 2017 | 19:06 WIB

Tiga Pesawat Nirawak Dikerahkan Pantau Gunung Agung

Tiga Pesawat Nirawak Dikerahkan Pantau Gunung Agung

News | Rabu, 11 Oktober 2017 | 06:40 WIB

Di Tengah Erupsi, Pengungsi Gunung Agung Buat Kerajinan

Di Tengah Erupsi, Pengungsi Gunung Agung Buat Kerajinan

News | Sabtu, 07 Oktober 2017 | 13:35 WIB

Sudah Siaga, Pengungsi Gunung Agung Masih Urus Ternak

Sudah Siaga, Pengungsi Gunung Agung Masih Urus Ternak

News | Sabtu, 07 Oktober 2017 | 09:51 WIB

Status Siaga Darurat Gunung Agung Diperpanjang Hingga 16 Oktober

Status Siaga Darurat Gunung Agung Diperpanjang Hingga 16 Oktober

News | Sabtu, 07 Oktober 2017 | 08:31 WIB

Pura Besakih Masih Ditutup

Pura Besakih Masih Ditutup

Foto | Rabu, 04 Oktober 2017 | 15:07 WIB

Satu Pengungsi Gunung Agung di Tabanan Meninggal Dunia

Satu Pengungsi Gunung Agung di Tabanan Meninggal Dunia

News | Selasa, 03 Oktober 2017 | 14:11 WIB

Terkini

Strategi Mitsubishi Fuso Perkuat Hubungan Konsumen dan Edukasi Perawatan Mesin B50 di GIIAS 2026

Strategi Mitsubishi Fuso Perkuat Hubungan Konsumen dan Edukasi Perawatan Mesin B50 di GIIAS 2026

Otomotif | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:47 WIB

Solusi Dana PIP Tidak Cair, Ini Informasi Resmi dari Kemendikdasmen

Solusi Dana PIP Tidak Cair, Ini Informasi Resmi dari Kemendikdasmen

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:45 WIB

OJK Jatuhkan Sanksi Rp91,09 Miliar kepada 104 Pihak di Pasar Modal

OJK Jatuhkan Sanksi Rp91,09 Miliar kepada 104 Pihak di Pasar Modal

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:36 WIB

Ulasan Agent Kim Reactivated: Saat Mantan Agen Rahasia Kembali demi Menyelamatkan Anaknya

Ulasan Agent Kim Reactivated: Saat Mantan Agen Rahasia Kembali demi Menyelamatkan Anaknya

Your Say | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Isuzu D-Max Tampil Lebih Tangguh dengan Mesin Baru dan Teknologi 4x4 di GIIAS 2026

Isuzu D-Max Tampil Lebih Tangguh dengan Mesin Baru dan Teknologi 4x4 di GIIAS 2026

Otomotif | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:25 WIB

Selamatkan Uang Pajak Rakyat! Prabowo Didesak Segera Pisahkan Dana MBG dari Anggaran Pendidikan

Selamatkan Uang Pajak Rakyat! Prabowo Didesak Segera Pisahkan Dana MBG dari Anggaran Pendidikan

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:23 WIB

IHSG Menguat ke 6.400? Cek Saham-saham Bluechip yang Diserok Asing Ini

IHSG Menguat ke 6.400? Cek Saham-saham Bluechip yang Diserok Asing Ini

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:21 WIB

Pemilik Kendaraan di DIY Bebas Denda Pajak hingga 30 September, Tunggak 10 Tahun Cukup Bayar 5 Tahun

Pemilik Kendaraan di DIY Bebas Denda Pajak hingga 30 September, Tunggak 10 Tahun Cukup Bayar 5 Tahun

Jogja | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:16 WIB

BPK Bongkar 6 Hambatan Government 5.0, WTP Tak Lagi Cukup untuk Wujudkan Indonesia Emas

BPK Bongkar 6 Hambatan Government 5.0, WTP Tak Lagi Cukup untuk Wujudkan Indonesia Emas

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Polusi Kendaraan Renggut Satu Nyawa Setiap 12 Menit di Indonesia, Studi Soroti Dampak Seriusnya

Polusi Kendaraan Renggut Satu Nyawa Setiap 12 Menit di Indonesia, Studi Soroti Dampak Seriusnya

Jawa Tengah | Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:09 WIB

×