Mengapa Barat Memuji Malala Tapi Mengabaikan Ahed?

Reza Gunadha

Minggu, 31 Desember 2017 | 10:04 WIB
Mengapa Barat Memuji Malala Tapi Mengabaikan Ahed?
Ahed Tamimi

Bahkan, Ahed juga mengorbankan pribadinya. Hingga kekinian, Ahed sudah kehilangan paman dan sepupunya akibat pendudukan Israel. Ibu, ayah, dan saudara laki-lakinya juga sudah berkali-kali ditangkap dan dianiaya Israel.

"Ibu Ahed pernah tertembak di kaki. Ahed pada usia masih sangat belia juga terekam menggigit tangan militer Israel yang menyeret saudara laki-lakinya. Video itu viral dua tahun lalu, tapi tak ada yang peduli," tuturnya.

Menurut Shenila, ada sejumlah faktor yang membuat kaum feminis, pembela HAM, politikus, maupun tokoh dunia, cenderung diam terhadap kasus Ahed.

Pertama, 'membisunya' dunia terhadap Ahed karena terdapat kecenderungan publik melegalisasi kekerasan yang dilakukan oleh negara—dalam kasus ini adalah Israel yang diakui sebagai negara sah oleh dunia Barat.

Publik barat, kata Shenila, cenderung peduli dan marah kalau seseorang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh aktor nonnegara seperti Taliban atau Boko Haram.

Shenila mengkritik kecenderungan seperti itu. Sebab, kekerasan terhadap perempuan atau warga bukan hanya dalam bentuk penyerbuan militer, penangkapan sewenang-wenang, atau brutalitas polisi, tapi juga perampasan sumber daya alam.

Ahed Tamimi [Middle East Monitor]

"Negara menjustifikasi tindakan-tindakan brutal ini dengan mempresentasikan warga yang sebenarnya korban ketidakadilan sebagai ancaman terhadap negara," terangnya.

Shenila lantas meminjam pemikiran filsuf Italia kontemporer, Giorgio Agamben, yakni "Ketika sudah dianggap ancaman oleh suatu negara, korban akan lebih mudah dijadikan sebagai individu tanpa harga politik, dan menjadi target kejahatan penguasa. Maka, serangan terhadap mereka tanpa proses pengadilan dapat dilakukan tanpa memancing banyak perhatian dari publik," jelasnya.

baca juga

Menurutnya, Israel juga menggunakan strategi seperti itu. Ahed ditangkap Israel dengan alasan gadis tersebut sangat "berbahaya" bagi kelangsungan pemerintah.

Ahed Tamimi, gadis Palestina berusia 16 tahun saat digiring oleh polisi Israel ke ruang persidangan, Kamis (28/12/2017). Ahed Tamimi menjadi ikon perlawanan Palestina terhadap penjajahan Israel. [Ahmad Gharabli/AFP]

“Menangkap remaja tak bersenjata seperti Ahed—yang hanya karena ingin melindungi keluarganya dengan tamparan—dan diperlakukan seperti teroris adalah tindakan yang tak dapat dimengerti,” kecamnya.

Penangkapan Ahed justru membuka jalan untuk otorisasi penyisksaan berlebihan. Shenila memisalkan, Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett mengecam dan berharap Ahed beserta keluarga "menyelesaikan hidup mereka di penjara".

Alhasil, Shenila menyimpulkan bahwa kasus penangkapan Ahed turut membongkar konstruksi humanisme Barat yang memunyai kecenderungan selektif. Para humanis Barat memunyai kriteria sendiri terhadap situasi atau peristiwa apa yang layak mereka intervensi.

”Kasus-kasus kelaparan, brutalitas polisi atau tentara, pengangguran, kejahatan terhadap perempuan, kerapkali dinilai tak layak untuk mendapat perhatian mereka. Sebab, isu-isu seperti itu dianggap tak terelakkan. Karenanya, Ahed dipandang tak cocok mendapat perhatian dari badan-badan transnasional,” jelasnya.

Tak hanya itu, Shenila menegaskan, Ahed dianggap kaum feminis, pemantau HAM, politikus, maupun negarawan Barat tak cocok dengan stereotipe ”perempuan pemberani” versi mereka.

“Ahed, perempuan yang melawan kolonialisme dan memunyai visi atas rakyatnya, bukan tipologi pemberdayaan perempuan yang ingin dilihat Barat. Ahed mencari keadilan melalui cara melawan penjajah, bukan pemberdayaan yang hanya untuk dirinya sendiri,” nilainya.

“Feminisme Ahed bersifat politis. Kekuatan dia sebagai perempuan untuk menyingkap paras buruk kolonialisme. Karenanya, ia dianggap ’berbahaya’. Keberanian dan tekatnya untuk tak gentar justru meretas semua ketidakberesan penjajah,” tuturnya.

Shenila lantas mendesak agar aktivis maupun lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan di Barat melakukan otokritik dan mengubah paradigma mengenai perjuangan perempuan terhadap penindasan.

Ia mengutip pernyataan revolusioner sekaligus presiden pertama Afrika Selatan Neslon Mandela untuk menutup kritiknya: ”Semua tahu pasti bahwa kebebasan kita tak akan pernah lengkap tanpa kebebasan Palestina.” 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Diprotes Israel, NBA Hapus Palestina dari Daftar Negara

Diprotes Israel, NBA Hapus Palestina dari Daftar Negara

News | Minggu, 31 Desember 2017 | 07:53 WIB

Sniper Israel Tembak Mati Pemuda Palestina

Sniper Israel Tembak Mati Pemuda Palestina

News | Minggu, 31 Desember 2017 | 06:01 WIB

Putri Kecilnya Ditangkap Israel, Ini Surat Mengharukan Ayah Ahed

Putri Kecilnya Ditangkap Israel, Ini Surat Mengharukan Ayah Ahed

News | Jum'at, 29 Desember 2017 | 20:28 WIB

Panas! Makanan Khas Palestina Diklaim Milik Israel

Panas! Makanan Khas Palestina Diklaim Milik Israel

News | Jum'at, 29 Desember 2017 | 18:48 WIB

5 Tahun Dilanda Kekeringan, Ribuan Yahudi Israel Doa Minta Hujan

5 Tahun Dilanda Kekeringan, Ribuan Yahudi Israel Doa Minta Hujan

News | Jum'at, 29 Desember 2017 | 15:25 WIB

Terkini

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:28 WIB

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:12 WIB

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Bogor | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Banten | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:49 WIB

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:37 WIB

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

Bri | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:28 WIB

×