Penembakan di Sinagoga, Delapan Tewas dan Belasan Luka-luka

Dythia Novianty
Penembakan di Sinagoga, Delapan Tewas dan Belasan Luka-luka
Penembakan di Sinagoga, Amerika Serikat tewaskan 8 orang, Sabtu (27/10/2018). [Dustin Franz / AFP]

Seorang lelaki bersenjata menewaskan sedikit-dikitnya delapan orang dan melukai 12 orang.

Suara.com - Seorang lelaki bersenjata menewaskan sedikit-dikitnya delapan orang dan melukai 12 lagi dalam serangan di Sinagoga di Pittsburgh, Amerika Serikat.

Menurut pihak berwenang dan laporan media setempat, penembakan itu terjadi saat ibadah perayaan Sabat berlangsung. Seorang tersangka ditahan dan kemungkinan dikenai dakwaan melakukan kejahatan atas dasar kebencian.

"Seorang lelaki berkulit putih dan berjanggut ditahan," kata televisi KDKA dengan mengutip sumber kepolisian.

Polisi di lapangan ditembaki dan tiga di antara mereka terluka. Namun, belum ada kejelasan apakah ketiganya adalah bagian dari 12 yang luka-luka, kata laporan tersebut.

Gubernur Pennsylvania Tom Wolf, yang dikatakan media setempat berada di lokasi kejadian, mengatakan di Twitter, "Kami mengerahkan para petugas penanganan darurat untuk membantu apa pun yang mereka butuhkan."

Pusat Medis Universitas Pittsburgh mengatakan, pihaknya sedang menangani sejumlah pasien di UPMC Presbyterian.

Sinagoga tersebut, yang bernama Pohon Kehidupan, sedang melangsungkan upacara Sabat, yang dimulai pada pukul 09.45 waktu setempat, menurut laman organisasi tersebut.

Ketua Pohon Kehidupan Sam Schachner mengatakan, melalui telepon bahwa ia belum dapat memberikan pernyataan sementara Michael Eisenberg, mantan ketua sinagoga tersebut, mengatakan kepada KDKA bahwa polisi biasanya hanya akan melakukan penjagaan di sinagoga tersebut pada hari-hari besar.

"Pada hari seperti ini, pintu terbuka, ini acara doa, siapa pun bisa masuk dan keluar," katanya.

Pada saat penembakan terjadi, gedung sinagoga itu akan digunakan oleh tiga kelompok jemaat, kata Eisenberg.

Sebagian besar anggota jemaat adalah orang-orang yang lebih tua, menurut seorang mantan pendeta Yahudi yang diwawancarai media setempat.

Tidak lama setelah laporan soal penembakan itu muncul, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencuit bahwa ia melihat peristiwa yang disebutnya "parah". Trump kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa penembakan maut itu mungkin bisa dicegah kalau ada penjaga bersenjata di gedung tersebut. [Antara]

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS