Psikolog Duga Anak SMA Perusak Kelamin Audrey Meniru Kelakuan Orangtua

Pebriansyah Ariefana
Psikolog Duga Anak SMA Perusak Kelamin Audrey Meniru Kelakuan Orangtua
Psikolog Klinis Anak, Violetta Hasan Noor. (Antara)

Kejadian tersebut diduga bukan karena kejadian tunggal, melainkan sebuah fenomena kasuistik.

Suara.com - Belasan anak SMA yang mengeroyok Audrey diduga berbuat keji karena mencontoh orangtuanya. Itu berdasarkan analisa Psikolog Klinis Anak, Violetta Hasan Noor.

Audrey yang merupakan anak SMP dikeroyok 12 orang anak SMA. Bahkan dalam pengeroyokan itu, kelamin Audrey dirusak. Hal itu terjadi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Violetta Hasan Noor mengatakan kejadian tersebut diduga bukan karena kejadian tunggal, melainkan sebuah fenomena kasuistik di mana orangtua secara tidak sadar menanamkan perilaku tersebut ke anak sejak kecil.

Violetta Hasan Noor menjelaskan peranan orangtua dalam tumbuh kembang anak dilingkungannya memainkan peranan penting dalam membentuk anak apakah akan menjadi seorang perundung atau tidak.

“Itu terjadi karena anak terekspos bully juga, melihat orangtua memarahi orang dan anak menjadi peniru karena merasa ternyata kalau marah kita boleh seperti itu. Atau ketika anak marah, tidak diarahkan oleh orangtua cara yang benar untuk mengelola amarahnya atau anger management,” kata Violetta, Rabu (10/4/2019).

Violetta menilai, banyak kasus perundungan terjadi di sekolah bukan berarti institusi pendidikan jadi sumber permasalahan itu. Pangkal masalah sesungguhnya adalah di rumah, lingkungan tempat anak tinggal, dan sekolah menjadi media penyaluran agresi anak melakukan perundungan.

“Kasus bullying banyak disekolah, tapi awal mula bukan di sekolah intinya. Sekolah hanya jadi media penyaluran karena itu tempat anak bersosialisasi lebih luas,” ujarnya.

“Contoh paling sederhana adalah membiasakan menimpakan kesalahan ke orang lain. Misalkan orangtua memarahi orang lain, mencaci-maki orang, memukuli anak juga, sehingga anak menganggap hal itu boleh dilakukan,” lanjut Violetta.

Fenomena remaja yang kini lebih banyak cenderung gampang marah, emosian dan agresif, tidak lepas dari lemahnya peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai luhur sejak dini. Orangtua di zaman modern terlalu sibuk dengan dunia kerja, minim memberikan sentuhan perhatian bahwa anak harus diajarkan tentang empati, gotong royong dan toleransi.

“Kita tidak bisa membendung kemajuan teknologi dan dampak negatifnya. Tapi kita bisa ajarkan anak kita bagaimana cara bersosialisasi yang bagus, bagaimana berempati, sehingga ketika anak melihat sesuatu yang buruk secara otomatis akan difilternya,” katanya.

Kasus yang menimpa Audrey menjadi perhatian nasional karena menyebar luas di dunia maya atau viral, bahkan tagar #justiceforAudrey menjadi topik bahasan utama selama dua hari terakhir.

Penanganan kasus ini dilakukan oleh pihak kepolisian bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati, pengroyokan dan perundungan terhadap AU dilatarbelakangi motif asmara.

Menurut dia, proses penyelesaian kasus tersebut harus dilandaskan pada Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) yang menyebutkan Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) adalah anak pelaku, korban dan saksi. SPPA lahir dengan prinsip "restorative justice" atau pemulihan situasi anak pada kondisi semula. (Antara)

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS