Mahfud MD Tuding Refrizal Terprovokasi Said Didu soal 'Garis Keras'

Rendy Adrikni Sadikin | Chyntia Sami Bhayangkara | Suara.com

Senin, 29 April 2019 | 13:01 WIB
Mahfud MD Tuding Refrizal Terprovokasi Said Didu soal 'Garis Keras'
Said Didu dan Mahfud MD. [Twitter/@mohmahfudmd]

Suara.com - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD terlibat perang argumen dengan anggota DPR Fraksi PKS Refrizal terkait pernyataannya soal 4 wilayah garis keras. Mahfud MD pun menuding Refrizal telah terprovokasi oleh mantan Sesmen BUMN M Said Didu.

Aksi perang argumen berawal saat akun Twitter Refrizal @refrizalskb menilai Mahfud MD telah menilai keempat wilayah yakni Sumatera Barat, Jawa Barat, Aceh dan Sulawesi Selatan sebagai wilayah Islam garis keras yang antikeberagaman. Ia pun menanyakan kepada Mahfud MD apakah ada kasus pembakaran gereja selama ini di Sumatera Barat.

"Pak MMD bilang di Jabar, Sumbar, Aceh dan Sulsel; Islam garis keras seolah-olah anti keberagaman. Apakah ada di Sumbar gereja dirusak dan dibakar?" kata Refrizal seperti dikutip Suara.com, Senin (29/4/2019).

Pertanyaan dari Refrizal pun dibalas oleh Mahfud MD. Mahfud MD menuding Refrizal telah terprovokasi oleh Said Didu sehingga ikut-ikutan menyerang dirinya.

"Pak Refrizal, akrena anda teman saya maka saya jelaskan. Anda belum melihat video yang saya katakan sehingga responnya buru-buru. Anda terprovokasi oleh @msaid_didu, hahaha.? Saya bilang, Pak Jokowi kalah di provinsi yang dulunya adalah tempat garis keras dalam keagamaan. Makanya Pak Jokowi perlu rekonsiliasi," balas Mahfud MD.

Lebih lanjut, Mahfud MD menjelaskan bila sebelumnya dikeempat wilayah itu pernah terjadi pemberontakan keagamaan, mulai dari DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, GAM di Aceh, PRRI di Sumatera Barat, DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Namun, kekinian banyak generasi sejak 1970-an tidak mengetahui sejarah itu.

"Pak Refrizal, generasi yang lahir sejak tahun 1970-an banyak yang tidak tahu bahwa 'dulu' ada itu. Sekarang sih tidak. Dimana salahnya saya mengatakan itu? Itu kan sejarah? Makanya saya usul agar Pak Jokowi merangkul mereka dengan rekonsiliasi segera agar pembelahan tidak berlanjut sampai 2024," ungkap Mahfud MD.

Mahfud MD pun meminta agar Refrizal menyaksikan terlebih dahulu video pernyataannya dari hasil wawancara dengan stasiun televisi swasta dan tidak terprovokasi oleh Said Didu. Pasalnya, menurut Mahfud MD kini isu tersebut menjadi panas dan diigoreng oleh banyak pihak hanya karena terprovokasi cuitan Said Didu.

"Isu tersebut menjadi panas dan digoreng kemana-mana karena banuak yang hanya membaca pertanyaan Pak @msaid_didu tanpa melihat videonya. Padahal VT diposting juga disitu. Pertanyaan dalam cuitan Pak Said itu tak memuat dua kata kunci yakni kata 'dulu' dan usul 'rekonsiliasi'. Lihat dong videonya," tegas Mahfud MD.

Sementara itu, Refrizal yang mengakui sebagai teman dekat Mahfud MD meminta agar Mahfud MD lebih berhati-hati dalam bicara dan tidak memantik keributan.

"Pak Prof Dr Mahfud MD yth, sebagai teman saya berhadap kepada bapak, supaya menahan diri bicara yang kontra produktif. Bagusnya bicara yang ngademinlah," ungkap Refrizal.

Sebelumnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyebutkan ada empat provinsi yang disebut sebagai provinsi garis keras. Di sanalah Calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menang perolehan suara di Pilpres 2019.

Provinsi-provinsi itu adalah Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan Sumatera Selatan. Mahfud MD menyatakan hal itu dalam sebuah rekaman wawancara dengan sebuah stasiun TV.

"Kalau dilihat kemenangannya di provinsi yang agak panas pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi kemenangan pak Prabowo dulunya dianggap sebagai provinsi garis keras yah dalam hal agama, misalnya Jawa Barat, Sumbar, Aceh dan sebagainya, Sulsel juga. Sehingga rekonsiliasi ini penting untuk menyadarkan kita bahwa bangsa ini bersatu. Karena bangsa ini bersatu karena kesadaran akan keberagaman dan bangsa ini akan maju kalau bersatu," kata Mahfud MD dalam video itu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ungkap Alasan 'Garis Keras', Mahfud MD: Dulu Dikuasai GAM, DI/TII dan PRRI

Ungkap Alasan 'Garis Keras', Mahfud MD: Dulu Dikuasai GAM, DI/TII dan PRRI

News | Senin, 29 April 2019 | 12:40 WIB

Mahfud Tuding Garis Keras Prabowo, PD: Efek Baju Jahitan Ketinggalan

Mahfud Tuding Garis Keras Prabowo, PD: Efek Baju Jahitan Ketinggalan

News | Senin, 29 April 2019 | 11:45 WIB

Jawab Pernyataan Mahfud MD, BPN Ungkap Alasan Orang Minang Tak Pilih Jokowi

Jawab Pernyataan Mahfud MD, BPN Ungkap Alasan Orang Minang Tak Pilih Jokowi

News | Senin, 29 April 2019 | 10:16 WIB

Terkini

Hubungan Memanas, Militer Iran Klaim Miliki Bukti AS Siapkan Konflik Baru

Hubungan Memanas, Militer Iran Klaim Miliki Bukti AS Siapkan Konflik Baru

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:23 WIB

Arief Pramuhanto Disebut Korban Kriminalisasi Terberat, Pengacara: Tak Ada Aliran Dana

Arief Pramuhanto Disebut Korban Kriminalisasi Terberat, Pengacara: Tak Ada Aliran Dana

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:23 WIB

Skandal Chromebook, Prof Suparji: Langkah JPU Tuntut Penjara Ibrahim Arief Tepat

Skandal Chromebook, Prof Suparji: Langkah JPU Tuntut Penjara Ibrahim Arief Tepat

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:40 WIB

Sentil 'Akal-akalan' Aplikator, Driver Ojol: Potongan Terasa 30 Persen, Berharap pada Perpres Baru

Sentil 'Akal-akalan' Aplikator, Driver Ojol: Potongan Terasa 30 Persen, Berharap pada Perpres Baru

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:05 WIB

May Day 2026, Menaker Yassierli Tegaskan Negara Komitmen Lindungi Pekerja hingga ke Tengah Laut

May Day 2026, Menaker Yassierli Tegaskan Negara Komitmen Lindungi Pekerja hingga ke Tengah Laut

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 19:21 WIB

Tak Ditemui Pemerintah karena Demo di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Bubarkan Diri Janji Balik Lagi

Tak Ditemui Pemerintah karena Demo di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Bubarkan Diri Janji Balik Lagi

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 18:40 WIB

Tak Puas Sampaikan Aspirasi di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Sempat Bakar Ban Coba Terobos Barikade

Tak Puas Sampaikan Aspirasi di Patung Kuda, Massa Mahasiswa Sempat Bakar Ban Coba Terobos Barikade

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 18:21 WIB

Momentum Hardiknas, BEM SI Demo di Patung Kuda Sampaikan 10 Tuntutan, Ini Isinya

Momentum Hardiknas, BEM SI Demo di Patung Kuda Sampaikan 10 Tuntutan, Ini Isinya

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 17:33 WIB

Megawati Ingatkan Republik Milik Bersama, Tolak Alasan Biaya Mahal untuk Ubah Sistem Pemilu

Megawati Ingatkan Republik Milik Bersama, Tolak Alasan Biaya Mahal untuk Ubah Sistem Pemilu

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 17:25 WIB

Momentum Hardiknas, BEM SI Gelar Demo di Patung Kuda Kritisi Soal Pendidikan

Momentum Hardiknas, BEM SI Gelar Demo di Patung Kuda Kritisi Soal Pendidikan

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 16:34 WIB