Filep Karma: Hanya Gus Dur yang Paling Memahami Rakyat Papua

Rendy Adrikni Sadikin

Jum'at, 23 Agustus 2019 | 09:37 WIB
Filep Karma: Hanya Gus Dur yang Paling Memahami Rakyat Papua
Filep Karma [suara.com/Siswanto]

Suara.com - Aktivis Papua Filep Karma dengan lantang menyebut Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang paling memahami rakyat Papua.

Pernyataan tersebut dilontarkan Filep Karma dalam tayangan Mata Najwa Trans 7 bertajuk 'Nyala Papua' yang tayang Rabu (21/8/2019).

Dalam tayangan itu, Filem Karma diberikan pertanyaan oleh tim Mata Najwa: "Dari semua presiden, siapa yang paling memahami rakyat Papua?"

Filep Karma pun menyebut hanya Gus Dur yang paling memahami dan paling mengerti apa yang diinginkan rakyat Papua sehingga membuka peluang dialog.

"Saya kira hanya Gus Dur saja. Beliau bisa mengerti apa yang bangsa Papua inginkan, sehingga beliau membuka peluang itu untuk kami," ujar Filep Karma.

Menurut Filep Karma, Gus Dur adalah sosok yang mengembalikan identitas mereka sebagai bangsa Papua dan bisa menempuh dengan cara dialog.

"Gus dur lah yang mengembalikan identitas kami sebagai bangsa papua, bisa berdialog dengan orang Papua," kata Filep Karma.

Gus Dur (Tangkapan layar/ islami.co)
Gus Dur (Tangkapan layar/ islami.co)

Orang Papua dan kursi Gus Dur

Bicara soal Papua, tak lepas dari nama Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau yang karib disapa Gus Dur. Pun sebaliknya. Bicara soal Gus Dur, tentunya teringat sepak terjangnya mengembalikan nama Papua.

baca juga

Dalam sewindu Haul Gus Dur di UIN Sunan Kalijaga, pada 2018 silam, putri Gus Dur, Alissa Wahid sempat melontarkan cerita tentang tetua adat Papua dan kursi kosong yang ditinggalkan Gus Dur.

Alisa Wahid berkisah, "Suatu hari pada 2013 atau 2015. Saya lupa. Datang serombongan tetua adat dari Papua ke gedung PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama--RED)."

Para tetua adat Papua itu minta izin masuk ke ruangan Gus Dur. Ruangan itu memang sengaja dibiarkan sama seperti ketika Gus Dur masih hidup. Ada kursi kosong. Kursi itu biasa diduduki oleh Gus Dur.

"Mereka meminta izin masuk ke ruangan Gus Dur yang dibiarkan masih sama seperti dulu. Ada kursi yang selalu diduduki Gus Dur dan beberapa kursi yang kosong," ucap Alissa Wahid.

Tetua adat itu meminta izin untuk duduk di kursi-kursi kosong itu. Kursi kosong Gus Dur dibiarkan. Mereka lalu berbicara kepada kursi kosong yang biasa diduduki Gus Dur tersebut.

"Dan mereka minta izin untuk duduk di sana. Para pemuka adat berlima. Lalu mereka mulai berbicara kepada kursi yang kosong itu, seakan-akan sedang berbicara dengan Gus Dur," ujar Alissa Wahid.

Alissa Wahid bercerita, "Mereka berkeluh kesah. Mereka menangisi operasi militer yang waktu itu baru saja terjadi dan menimbulkan korban lima orang di pedalaman papua. Mereka merasa yang paling bisa memahami mereka adalah Gus Dur."

Di akhir lawatan, mereka merampungkan dengan doa dan perkataan, meski Gus Dur sudah tiada, mereka masih percaya sosok kiai NU itu tetap menjaga mereka. Mereka menyebut Gus Dur 'leluhur' mereka.

"Lalu mereka mengakhirinya dengan berkata seperti ini: 'Bapak (Gus Dur), walaupun sudah tidak ada, kami percaya leluhur kami tetap menjaga kami. Dan Bapak termasuk leluhur kami. Tolong doakan kami,'" ujar Alissa Wahid menirukan omongan mereka.

Gus Dur dan nama Papua

Peran Presiden ke-empat Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tak kuasa dilepaskan dalam memberikan spirit kemanusiaan di Tanah Papua agar terbebas dari diskriminasi, marjinalisasi dan krisis di segala bidang.

Seperti dilansir Suara.com dari NU Online, Senin (19/8/2019), seorang santri Gus Dur asal Kudus, Nuruddin Hidayat mengatakan, pada 30 Desember 1999 atau 2 bulan 10 hari setelah dilantik menjadi presiden, Gus Dur berkunjung ke Papua (saat itu Irian Jaya).

Lawatan Gus Dur bukan tanpa alasan. Ada dua tujuan dalam kunjungan tersebut. Pertama: berdialog dengan berbagai elemen di Papua. Kedua: melihat matahari terbit pertama milenium ke-dua pada 1 Januari 2000.

Persamuhan dengan berbagai elemen digelar pada 30 Desember 1999 jam 20.00 waktu setempat.

Lokasinya di gedung pertemuan Gubernuran di Jayapura. Meski dengan cara perwakilan, banyak sekali yang datang karena penjagaan tidak ketat.

Gus Dur mempersilakan mereka berbicara terlebih dulu. Mereka angkat suara dari yang sangat keras dengan tuntutan merdeka dan tidak mempercayai lagi pemerintah Indonesia hingga yang memuji tapi dengan berbagai tuntutan.

Kemudian, Gus Dur merespons mereka. Banyak hal ditanggapi. Tapi yang penting ini, Gus Dur mengatakan: "Saya akan mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua, alasannya?”

Gus Dur lantas mengatakan, "pertama, nama Irian itu jelek." "Kata itu berasal dari bahasa Arab yang artinya telanjang. Dulu ketika orang-orang Arab datang ke pulau ini, menemukan masyarakatnya masih telanjang, sehingga disebut Irian."

Lalu, Gus Dur melanjutkan, "kedua, dalam tradisi orang Jawa kalau memiliki anak sakit-sakitan, sang anak akan diganti namanya supaya sembuh. Biasanya sih namanya Slamet, tapi saya sekarang ganti Irian Jaya menjadi Papua."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Soal Trans Papua, Lukas Enembe: Kami Butuh Kehidupan, Bukan Pembangunan

Soal Trans Papua, Lukas Enembe: Kami Butuh Kehidupan, Bukan Pembangunan

News | Jum'at, 23 Agustus 2019 | 09:11 WIB

YLBHI: 33 Pelanggaran HAM Timpa Mahasiswa Papua, Paling Banyak di Surabaya

YLBHI: 33 Pelanggaran HAM Timpa Mahasiswa Papua, Paling Banyak di Surabaya

News | Jum'at, 23 Agustus 2019 | 07:33 WIB

FKPPI Pecat Tri Susanti Korlap Aksi di Asrama Papua

FKPPI Pecat Tri Susanti Korlap Aksi di Asrama Papua

News | Jum'at, 23 Agustus 2019 | 05:28 WIB

Mahasiswa Papua Tolak Pemberian Minuman Keras Dari Polisi

Mahasiswa Papua Tolak Pemberian Minuman Keras Dari Polisi

Jabar | Jum'at, 23 Agustus 2019 | 01:11 WIB

Dinilai Menghina, Polwan Berikan Miras Kepada Mahasiswa Papua Saat Aksi

Dinilai Menghina, Polwan Berikan Miras Kepada Mahasiswa Papua Saat Aksi

Jabar | Jum'at, 23 Agustus 2019 | 00:45 WIB

Terkuak, Ini 4 Alasan Mengapa Malaria Sulit Dibasmi di Papua

Terkuak, Ini 4 Alasan Mengapa Malaria Sulit Dibasmi di Papua

Health | Kamis, 22 Agustus 2019 | 22:31 WIB

Putri Gus Dur Minta Maaf kepada Rakyat Papua

Putri Gus Dur Minta Maaf kepada Rakyat Papua

News | Kamis, 22 Agustus 2019 | 21:44 WIB

Kirim Surat Kawat, Mendagri Perintahkan PNS di Papua Tak Ikut Demo

Kirim Surat Kawat, Mendagri Perintahkan PNS di Papua Tak Ikut Demo

News | Kamis, 22 Agustus 2019 | 21:02 WIB

Berita Sport Populer: Gregoria Terhenti, Jari Petarung Cantik Nyaris Putus

Berita Sport Populer: Gregoria Terhenti, Jari Petarung Cantik Nyaris Putus

Sport | Jum'at, 23 Agustus 2019 | 08:05 WIB

Terkini

Perawatan Ibu Hamil Tak Cuma Soal Fisik, Kesehatan Mental Juga Perlu Dijaga

Perawatan Ibu Hamil Tak Cuma Soal Fisik, Kesehatan Mental Juga Perlu Dijaga

Health | Sabtu, 26 September 2026 | 04:03 WIB

6 Perbedaan Night Cream dan Sleeping Mask, Apakah Harus Dipakai Dua-duanya?

6 Perbedaan Night Cream dan Sleeping Mask, Apakah Harus Dipakai Dua-duanya?

Lifestyle | Jum'at, 25 September 2026 | 23:39 WIB

Day Trading Bukan Sekadar Kejar Cuan, Risiko Justru Jadi Kunci

Day Trading Bukan Sekadar Kejar Cuan, Risiko Justru Jadi Kunci

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 23:30 WIB

Dituduh Huni 'Rumah Khusus' di Lapas Cibinong, Pengacara Ferdy Sambo Buka Suara

Dituduh Huni 'Rumah Khusus' di Lapas Cibinong, Pengacara Ferdy Sambo Buka Suara

Bogor | Jum'at, 25 September 2026 | 23:14 WIB

DPRD Banten Soroti Tukin Kepala Sekolah SMA dan SMK Rp14,5 Juta, Minta Dievaluasi

DPRD Banten Soroti Tukin Kepala Sekolah SMA dan SMK Rp14,5 Juta, Minta Dievaluasi

Banten | Jum'at, 25 September 2026 | 22:55 WIB

Ponaryo Astaman Prediksi FIFA ASEAN Cup 2026 Bakal Berlangsung Ketat

Ponaryo Astaman Prediksi FIFA ASEAN Cup 2026 Bakal Berlangsung Ketat

Jabar | Jum'at, 25 September 2026 | 22:35 WIB

Ferdy Sambo Buka Suara soal Sel Mewah di Lapas Cibinong

Ferdy Sambo Buka Suara soal Sel Mewah di Lapas Cibinong

News | Jum'at, 25 September 2026 | 22:33 WIB

Finex Perluas Pembayaran Lokal, QRIS Jadi Andalan Trader

Finex Perluas Pembayaran Lokal, QRIS Jadi Andalan Trader

Bisnis | Jum'at, 25 September 2026 | 22:30 WIB

Bukan Cuma Alat Bayar, BRIZZI Keychain Pestapora 2026 Wajib Masuk Wishlist Koleksi!

Bukan Cuma Alat Bayar, BRIZZI Keychain Pestapora 2026 Wajib Masuk Wishlist Koleksi!

Bri | Jum'at, 25 September 2026 | 22:27 WIB

Pakar Hukum Desak Pembebasan Bersyarat Mas Bechi Dicabut

Pakar Hukum Desak Pembebasan Bersyarat Mas Bechi Dicabut

News | Jum'at, 25 September 2026 | 22:25 WIB

×