Namun, disisi lain, saya bersedih, Bersedih, karena, kedua orang yang amat saya sayangi, tidak bisa lagi ikut bersyukur dan berbahagia di hari yang istimewa ini, 9
September 2019.
Para sahabat, dengan mukadimah seperti itu, Ijinkan saya untuk menyampaikan Pidato Kontemplasi saya. Semoga hadirin sekalian berkenan mendengarkannya.
Kontemplasi yang hendak saya sampaikan ini berangkat dari apa yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya selama ini. Dalam bentangan waktu 70 tahun usia saya, saya hidup dalam 3 penggal sejarah yang berbeda Era Presiden Soekarno, Era Presiden Soeharto, dan Era
Reformasi.
Kita tahu, masing-masing era memiliki semangat zaman, kehidupan, dan corak sejarah yang berbeda-beda.
Dari sisi profesi dan pengabdian, 20 tahun saya menjadi warga sipil dan seorang pemuda yang menempuh pendidikan awal, 30 tahun menjadi prajurit dan perwira militer yang bertugas menjaga kedaulatan dan keutuhan negara, 15 tahun mengabdi di jajaran pemerintahan, baik sebagai menteri maupun presiden, dan kemudian, 5 tahun terakhir ini saya kembali ke pangkuan masyarakat sipil.
Dalam kurun waktu yang panjang inilah, saya mengarungi berbagai ragam kehidupan yang dinamis, sarat dengan pasang dan surut, suka dan duka, serta sukses dan gagal
Namun, saya bersyukur karena dapat memetik berbagai hikmah dan pelajaran, dan menjadikan perjalanan hidup saya sebagai universitas yang abadi
Mungkin para sahabat akan bertanya, lantas apa hikmah dan pelajaran yang saya petik?
Jawaban saya, tentu banyak. Banyak sekali. Karena banyak, dalam kontemplasi ini saya ingin memilih beberapa.
Dan, pilihan saya adalah hikmah dan pelajaran apa yang saya dapatkan dalam kehidupan bemasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri tercinta ini, baik dalam kapasitas saya sebagai rakyat, maupun sebagai pemimpin.
Pemimpin dalam berbagai tingkatan, Mulai dari tingkat bawah hingga puncak. Juga pemimpin dalam berbagai cabang kehidupan, militer, politik dan pemerintahan.
Berbicara tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, cakupannya bisa sangat luas, elemennya juga banyak.
Karenanya, saya ingin mendekatinya dengan pikiran dan pertanyaan yang sederhana Mari kita renungkan bersama, dan apa jawaban kita terhadap pertanyaan seperti ini "Ingin menjadi manusia seperti apa diri kita?”
Hampir pasti setiap orang punya jawabannya sendiri-sendiri. Yang jelas, apapun narasinya, setiap orang pasti ingin menjadi manusia yang baik, hidupnya baik, dan membawa pula kebaikan bagi yang lain.Kalau kita lebarkan dan tingkatkan cakupannya, misalnya “Lantas masyarakat seperti apa yang kita inginkan?”
Jawabannya, pastilah kita ingin memiliki dan menjadi masyarakat yang baik, "A Good Society” Demikian juga kalau kita lanjutkan, bangsa dan negara seperti apa yang kita tuju dan kita bangun, jawabannya akan serupa “A Good Nation, A Good Country”.
Kalau kita membaca literatur dan mempelajarai definisi dan kriteria apa itu masyarakat yang baik (good society) dan negara yang baik (good country), akan kita dapati bahwa rumusannya ada yang sifatnya universal, namun ada juga yang khas negara tertentu
Tentu, kontemplasi saya ini tidak hendak menguraikan apa rumusan yang sering dirujuk oleh banyak negara itu bukan.
Justru di sinilah, saya ingin menyampaikan apa yang saya pelajari dan dapatkan sendiri, dari berbagai pengalaman dan pelajaran kehidupan dan pengabdian di negeri ini.
Untuk mempersingkat uraian saya, saya ingin langsung memberi judul dan rumusan seperti ini: “Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti apa yang sepatutnya kita anut dan jalankan, agar masyarakat kita menjadi “the good society”, dan agar pada gilirannya, Indonesia menjadi “the good country”.
Yang ingin saya kedepankan ini adalah pandangan dan pendapat saya, berangkat dari pengamatan dan pengalaman yang panjang. Tentulah, hadirin bisa
bersetuju atau tidak.
Saya akan mulai dari yang pertama, yaitu tentang bagaimana masyarakat yang baik dapat kita hadirkan. Kita tahu, masyarakat dan bangsa Indonesia amat majemuk.
Majemuk dari segi identitas, misalnya berbeda agama, suku, etnis dan kedaerahan. Juga mejemuk dari segi paham dan aliran, baik politik maupun ideologi, serta dari segi strata sosial-ekonomi.
Sejarah menunjukkan, bahwa kemajemukan ini di satu sisi adalah anugerah kekayaan dan kekuatan.
Namun, di sisi lain adalah kerawanan, sumber konflik dan juga kelemahan.
Karenanya, tak ada resep ajaib untuk menjaga persatuan dan kerukunan, kecuali secara sadar kita memperkuat 2 nilai fundamental dan kemudian menjalankannya
dengan sungguh-sungguh, Apa itu?
Pertama adalah kasih sayang (love) di antara kita, dan bukan kebencian (hatred),
Kedua adalah rasa persaudaraan (brotherhood) yang kuat di antara kita, sesama bangsa Indonesia,dan bukan membangun jarak dan permusuhan (hostility) diantara
masyarakat yang berbeda identitas.
Terus terang, tahun-tahun terakhir ini kasih sayang dan rasa persaudaraan ini melemah, sementara kebencian, jarak dan permusuhan diantara komponen bangsa yang berbeda identias menguat Ini lampu kuning. Ini sebuah fenomena dan arus buruk yang membahayakan
masyarakat dan bangsa kita.
Kita semua, harus mengambil tanggung jawab untuk menghentikan dan membalikkan fenomena dan arus yang salah ini, Untuk selanjutnya kembali ke arah
yang benar.
Ini yang pertama, yang berkaitan dengan kehidupan sosial kita. Berikut ini adalah yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi. Para pendiri republik, para “founding fathers”, menggariskan sebuah cita-cita besar untuk membangun masyarakat dan bangsa yang adil dan makmur.
Nilai dan perilaku kehidupan penting yang mesti kita anut adalah marilah kita berihtiar seraya bergandengan tangan, agar bisa makmur bersama-sama.
Kalau semua makmur, semua sejahtera, rasa keadilan akan datang dan bersemi di negeri ini. Realistiknya adalah yang miskin makin berkurang, dan ketimpangan sosial
ekonomi tidak semakin menganga.
Yang kaya mesti ingat yang miskin, yang kuat mesti ingat yang lemah
Sementara itu, di arena kehidupan politik, ada pula yang harus kita jaga secara bersama.
Esensinya, Ke depan, politik kita harus makin menjadi politik yang baik Bagi bangsa yang majemuk, Yang juga menganut sistem demokrasi multi partai, politik kita harus makin guyub, makin inklusif, dan makin teduh.
Demokrasi tak harus selalu diwarnai dan diselesaikan dengan “one person one vote”, tapi juga ada semangat yang lain.
Kompromi dan konsensus yang adil dan membangun bukanlah jalan dan cara yang buruk.
Prinsip “the winner take all” yang ekstrim, seringkali tidak cocok dengan semangat kekeluargaan dan keterwakilan bagi masyarakat dan bangsa yang majemuk.
Nilai-nilai dan perilaku kehidupan seperti itulah, yang menurut pandangan dan pendapat saya mesti dibangun dan dimekarkan di negeri ini.
Jika sungguh kita lakukan, insya Allah, kita akan benar-benar bisa menghadirkan “Masyarakat yang baik”, “Ekonomi yang baik” dan “Politik yang baik”.
Terakhir, ini adalah forum dan kesempatan yang baik bagi saya untuk menyampaikan satu hal yang harus menjadi pemahaman Bersama Membangun bangsa dan negara bukanlah pekerjaan sekali jadi, apalagi instan.
Diperlukan waktu yang panjang, serta ihtiar dan kerja besar yang mesti dilakukan secara terus menerus.
Tak ada perjalanan dan pembangunan bangsa yang bebas dari rintangan, termasuk dinamika dan pasang surutnya. Karenanya, kita harus bersabar, tak putus asa dan lekas menyerah.
Namun, kita harus sungguh gigih, dan bekerja sekuat tenaga, agar Indonesia semakin maju dan berjaya di masa depan.
Pemilihan Umum baru selesai kita lakukan. Rakyat telah memberikan mandatnya kepada kepemimpinan yang baru.
Dalam kapasitas saya selaku pribadi dan pemimpin Partai Demokrat, saya mengajak saudara-saudara kami rakyat Indonesia, untuk memberikan kesempatan dan dukungan kepada pemimpin dan pemerintahan yang baru, agar sukses dalam mengemban amanah rakyat.
Melalui mimbar kecil di Cikeas ini, saya menitipkan harapan kepada Bapak Presiden Jokowi beserta jajaran
pemerintahan yang beliau pimpin, agar kiranya materi kontemplasi yang saya sampaikan malam ini, dapat melengkapi agenda, kebijakan dan langkah tindakan yang diambil oleh negara dan pemerintahan mendatang.
Saya tahu, membangun nilai dan perilaku menuju terciptanya masyarakat yang baik, bangsa yang baik, dan negara yang baik, adalah merupakan agenda berkesinambungan, dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya, dan dari satu generasi ke generasi yang lain,
namun, semuanya harus dimulai dari sekarang.
Demikian pidato kontemplasi saya, atas kesabaran dan perhatian hadirin saya ucapkan terima kasih.