Belajar Damai Natal dari Natsir dan Kasimo

Pebriansyah Ariefana | Suara.com

Selasa, 24 Desember 2019 | 19:20 WIB
Belajar Damai Natal dari Natsir dan Kasimo
Budayawan Antonius Benny Susetyo, di auditorium kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/8/2017). [Suara.com/Welly Hidayat]

Suara.com - Mantan pemimpin Partai Masyumi Mohammad Natsir dan pendiri Partai Katolik Indonesia Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono menjadi potret manusia toleran pasca kemerdekaan Indonesia. Utamanya soal menjaga toleransi di masa kini.

Rohaniwan Benny Susetyo menyampaikan bahwa Natal sejatinya menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk merajut tali persaudaraan. Di tengah isu intoleransi yang kian marak belakangan ini, pria yang akrab disapa Romo Benny ini mengimbau agar setiap individu dapat mengingat kembali semangat persatuan dalam diri masing-masing.

"Maka dalam perspektif umat Kristiani, Natal itu selalu terkait dengan Allah yang mau memberikan cinta-Nya kepada umat manusia agar umat manusia itu hidup saling bersahabat satu dengan yang lain. Tidak membedakan suku, agama, etnis. Jadi natal itu momentum bagi kita untuk merakit persaudaraan, meskipun berbeda agama, keyakinan, suku, etnis, kita tetap menjadi WNI yang mempunyai harapan bahwa persaudaraan itu akan memperkokoh persatuan," papar Romo Benny saat diwawancarai DW Indonesia, Senin (23/12/2019).

Lebih lanjut ia menyoroti maraknya isu intoleransi yang terjadi di hampir seluruh dunia. Menurutnya intoleransi terjadi karena sempitnya pemahaman yang dimiliki individu-individu pelaku tindakan intoleran. Semakin eksklusif dirinya terhadap kelompoknya, semakin tertinggal pula pelaku tindakan intoleran di era keterbukaan sekarang ini.

"Intoleransi itu pemaksaan kehendak seseorang, dan itu mendominasi. Seseorang harus ikut dia (pelaku intoleran), kalau tidak ikut berarti lawan. Paham ini tumbuh karena pemahaman agama yang sempit yang tidak melihat situasi konteks zaman pada waktu itu. Terjadi terus karena akibat dari orang tidak mau belajar, saling memahami, saling mengerti pada dunia global," jelas Romo Benny.

Romo Benny lantas menyampaikan bahwa Hari Natal mencerminan kehidupan beragama laiknya sebuah bahari. 

"Karena nenek moyang kita pelaut, bahari, berarti laut itu tempat perjumpaan kultur budaya. Natal itu perjumpaan manusia dengan segala ragam suku, etnis, budaya, dan perjumpaan Allah dan manusia dengan sikap baru, yaitu tidak ekslusif, tidak menganggap dirinya paling benar, terbuka, sikap mau mendengar, dan menjadi bijak."

Teladani Natsir dan Kasimo

Kepada DW Indonesia, Romo Benny mengaku tidak mempermasalahkan polemik larangan pengucapan selamat Natal oleh umat Muslim. Dia berpendapat, pengucapan selamat Natal merupakan hak setiap umat agama lain dan tidak dapat dipaksakan.

Dia pun berharap masyarakat dapat meneladani dua tokoh nasional besar dalam menghargai perbedaan antar umat beragama di Indonesia. Kedua tokoh tersebut yaitu mantan pemimpin Partai Masyumi Mohammad Natsir dan pendiri Partai Katolik Indonesia Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono.

"Dalam cerita bukunya Natsir itu jelas menceritakan bahwa Kasimo itu orang pertama yang memberi selamat Hari Raya Lebaran ketika Shalat Ied selesai. Kasimo menunggu di situ sampai selesai lalu memberi selamat Hari Lebaran. Sebaliknya Kasimo memberi kesaksian bahwa Natsir adalah orang pertama yang memberikan selamat Natal," papar Staf Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

Ramai menjadi perbincangan hangat ketika Sekretaris MUI Jatim Mocahamad Yunus memberikan imbauan bagi umat Muslim untuk tidak memberikan ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani.

Saat dikonfirmasi, Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid menjelaskan hingga detik ini MUI Pusat belum pernah mengeluarkan fatwa tentang memberi ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani. MUI pun mengembalikan masalah ini kepada umat Islam untuk mengikuti pendapat ulama yang sesuai dengan keyakinan mereka.

"MUI menghormati pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengucapkan selamat Natal itu hukumnya haram atau dilarang oleh agama. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa mengucapkan selamat natal itu bagian dari keyakinan agamanya. Begitu juga sebaliknya MUI menghormati pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengucapkan selamat natal itu hukumnya mubah atau boleh dan tidak dilarang oleh agama, karena didasarkan pada argumentasi bahwa hal itu bukan bagian dari keyakinan agama tetapi sebatas memberikan penghormatan atas dasar hubungan kekerabatan, bertetangga, dan relasi antarumat manusia," jelas Zainut kepada DW Indonesia, Senin (23/12/2019).

Zainut pun mengimbau kepada masyarakat untuk arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut dan tidak menjadikannya polemik berkepanjangan.

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dapat Ulos Dari Gereja HKBP Petojo, Anies: Akan Saya Pajang di Ruang Kerja

Dapat Ulos Dari Gereja HKBP Petojo, Anies: Akan Saya Pajang di Ruang Kerja

News | Selasa, 24 Desember 2019 | 19:12 WIB

Uniknya Pohon Natal Hidroponik di Gereja Kristus Raja Surabaya

Uniknya Pohon Natal Hidroponik di Gereja Kristus Raja Surabaya

Jatim | Selasa, 24 Desember 2019 | 18:55 WIB

5 Negara Rayakan Natal Meriah bak di Negeri Dongeng

5 Negara Rayakan Natal Meriah bak di Negeri Dongeng

Lifestyle | Selasa, 24 Desember 2019 | 19:00 WIB

Merawat Kerukunan Umat Beragama Kampung Tugu Lewat Musik Keroncong

Merawat Kerukunan Umat Beragama Kampung Tugu Lewat Musik Keroncong

News | Selasa, 24 Desember 2019 | 18:49 WIB

Bak Film Jurassic Park, Hutan di Magetan Ini Dihuni Puluhan Dinosaurus

Bak Film Jurassic Park, Hutan di Magetan Ini Dihuni Puluhan Dinosaurus

Lifestyle | Selasa, 24 Desember 2019 | 19:10 WIB

Terkini

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:41 WIB

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:38 WIB

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:33 WIB

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:34 WIB

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:00 WIB

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:50 WIB

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:38 WIB

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:31 WIB

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:20 WIB

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:01 WIB