Kabar Eks Manusia Perahu Kampung Akuarium saat Pandemi Corona

Agung Sandy Lesmana | Yosea Arga Pramudita | Suara.com

Selasa, 12 Mei 2020 | 16:17 WIB
Kabar Eks Manusia Perahu Kampung Akuarium saat Pandemi Corona
Penampakan kawasan Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakut. (Suara.com/Arga).

Suara.com - MANUSIA perahu, pernah menjadi simbol buah dari penggusuran yang terjadi di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara pada 2016 silam. Saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menjadi Gubernur DKI Jakarta menggusur pemukiman di Kampung Akuarium dengan alasan revitalisasi dan menduduki tanah negara.

Masyarakat di Kampung Akuarium sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Mereka menggantungkan hidup dari laut. Laut bagi mereka tak sekedar hamparan air yang luas. Namun, lebih dari itu.

Laut adalah tempat mengadu nasib, mencari ikan atau makhluk hidup lainnya, bahkan sebagai pelerai rasa lapar. Alhasil, para nelayan menolak direlokasi ke Rusunawa Pulogebang, Jakarta Timur dan memilih menjadi 'manusia perahu' untuk sementara waktu.

Kisah ini dituturkan oleh Topaz Juanda, Ketua RT12, RW04, Penjaringan, Jakarta Utara.

Dia mengatakan, kekinian sudah tidak ada lagi warga yang menjadi 'manusia perahu'. Mereka yang pernah menjadi 'manusia perahu', kata Topaz, menolak direlokasi ke Rusunawa Pulogebang dengan satu alasan: jauh dari laut.

Artinya, perlu ada pengeluaran tambahan bagi para nelayan untuk sampai ke laut. Selain ongkos perjalanan, para 'manusia perahu' yang menolak direlokasi juga beralasan tidak ingin jauh dari kapal-kapal mereka.

"Karena pekerjaan mereka nelayan, kalau pindah ke sana bingung. Kalau mereka pulang ke Rusunawa terus yang jagain kapalnya siapa?" kata Topaz di Kampung Akuarium, Selasa (12/5/2020).

Jumlah warga yang menghuni Kampung Akuarium adalah 350 jiwa yang terdiri dari 103 Kepala Keluarga (KK). Hampir 20 persen masyarakat Kampung Akuarium adalah nelayan, mencari rezeki di laut.

Pascapenggusuran, ada sekitar 30 orang yang terdiri dari 15 KK yang memilih menjadi 'manusia perahu'. Mereka, saat itu, memilih tinggal sementara di perahu ketimbang pindah ke Rusunawa Pulogebang.

"Waktu itu ada sekitar 15 KK yang terdiri dari 30 orang yang menjadi manusia perahu. Total perahunya lebih dari sepuluh," sambung Topaz.

Warga Kampung Akuarium, Jakarta Utara. (Suara.com/Arga).
Warga Kampung Akuarium, Jakarta Utara. (Suara.com/Arga).

Topaz bercerita, warga yang memilih tinggal di perahu kini sudah memunyai tempat tinggal. Mereka --manusia perahu-- hanya dua bulan tinggal di perahu.

Tumbangnya rezim Ahok, melahirkan hikayat baru bagi masyarakat Kampung Akuarium. Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, terpilih menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta. Bersama Sandiaga Uno --yang sebelumnya menjadi wakilnya-- Anies dipercaya memimpin Ibu Kota untuk periode 2017 hingga 2022.

Terbitnya Anies memberi secerca harapan bagi para 'manusia perahu'. Pada bulan ketiga pascapenggusuran, munculah istilah shelter sementara Kampung Akuarium. Para 'manusia perahu' pindah ke shelter sementara Kampung Akuarium dan tak lagi tinggal di perahu.

"Mereka yang jadi manusia perahu itu pascapenggusuran, sebulan atau dua bulan setelah penggusuran. Kalau sekarang sudah enggak ada sih. Semenjak adanya shelter, mereka dipindahkan ke bangunan sementara. Untuk yang gubuk-gubuk juga sudah tidak ada. Jadi hanya sebulan dua bulan aja," ungkap Topaz.

Kekinian, ada tiga blok yang ada di shelter sementara Kampung Akuarium. Tiga blok yang berbentuk letter U ini masing-masing dihuni lebih dari 20 jiwa. Blok A, dihuni oleh 38 KK, Blok B dihuni 26 KK, dan Blok C dihuni 24 KK.

"Ini shelter sementara, nanti ada pembangunan selanjutnya. Jadi shelter ini per blok. Ada blok A, B, dan C di dalam satu kampung akuarium. Ini sejak awal 2018. Pak Anies yang bangun. Bentuknya letter U nih," tambahnya.

Penampakan PAUD di kawasan Kampung Akuarium yang diliburkan karena pandemi Corona. (Suara.com/Arga).
Penampakan PAUD di kawasan Kampung Akuarium yang diliburkan karena pandemi Corona. (Suara.com/Arga).

Topaz menambahkan, sebagian besar eks 'manusia perahu' kini tinggal di Blok C. Sebab, Blok C merupakan wilayah yang paling dekat dengan laut. Posisinya langsung berhadapan dengan laut.

Sedikit berseloroh, Topaz menyebut eks 'manusia perahu' memilih tinggal di Blok C karena lokasinya dekat dengan laut. Jiwa mereka, kata Topaz, adalah laut.

"Mungkin balik lagi ke jiwanya ya, haha. Harus lihat laut. Nggak ngerti juga sih, namanya juga nelayan, harus melihat laut lah ya. Nah di Blok C ini posisinya menghadap laut," beber dia.

*****

Pandemi corona berdampak bagi sektor perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Hal itu juga berdampak bagi masyarakat Kampung Akuarium.

Sebagian besar masyarkat Kampung Akuarium adalah nelayan. Topaz mengatakan, para nelayan --yang juga pernah menjadi manusia perahu-- hingga kini masih tetap melaut meski pandemi Corona melanda.

Menurut Topaz, aktivitas para nelayan masih berjalan normal seperti sebelum virus Corona datang sebagai tamu tak diundang. Mungkin, kata Topaz, para nelayan masih berani melaut karena tidak ada kerumunan orang banyak di tengah laut.

"Kalau nelayan, mereka masih bisa ke laut karena di laut enggak ada kegiatan kerumunan massa. Jadi kalau sih nelayan masih melaut," kata Topaz.

Penampakan kawasan Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakut. (Suara.com/Arga).
Penampakan kawasan Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakut. (Suara.com/Arga).

Saya, Yonanes -rekan sesama jurnalis, dan Topaz sempat berkeliling menuju Blok C, tempat tinggal sebagian besar eks 'manusia perahu'. Namun, sebagian besar nelayan sedang melaut, hanya ada satu nelayan yang ada di rumah.

Saat kami datang ke kediaman sang nelayan itu, rupanya dia sedang terlelap. Semalaman dia melaut dan baru kembali siang tadi. Alhasil, kisah nelayan pada saat pandemi corona kembali ditururkan Topaz.

Topaz mengatakan, sebagian besar warganya yang berprofesi sebagai nelayan menjerit karena pandemi corona. Penghasilan para nelayan, kata dia, merosot tajam akibat berkurangnya konsumen.

Alhasil, harga jual ikan turut menurun, jadi murah. Bahkan, para masyarakat di Kampung Akuarium lebih memilih makan dengan lauk telur atau mie instan ketimbang makan ikan ditengah impitan pandemi corona.

"Ada nelayan yang bilang harga jualnya jadi rendah. Harga ikan jadi murah kayaknya. Yang beli kurang soalnya. Karena kebanyakan warga mengirit pengeluaran, ada yang pilih makan pakai telur atau mi instan ketimbang beli daging atau ayam," tambahnya.

Topaz mengatakan, para nelayan yang menghuni Kampung Akuarium bisanya menjual ikan hasil tangkapannya di pelelangan. Mereka menjual baik ikan maupun cumi dalam skala besar di Pelelangan Ikan Muara Baru dan Muara Angke, Jakarta Pusat.

"Sebagian memang dia (nelayan) langsung ke pelelangan Muara Baru atau Muara Angke karena mereka langsung dari laut," ucap Topaz.

Terkadang, ada pihak pelelang ikan yang langsung menghampiri para nelayan ke tengah laut untuk mengambil hasil tangkapan. Istilah bekennya adalah sistem jemput bola.

"Atau ada juga yang langsung jemput bola katanya, jadi ada yang 'makelar' ikannya langsung jemput ke tengah laut," beber Topaz.

Meski demikian, Topaz tak mengetahui lebih detil istilah makelar ikan yang dia sebut. Sebab, profesi Topaz bukanlah seorang nelayan.

Terkadang, para warga ada memesan ikan atau cumi secara langsung kepada nelayan. Singkatnya, sebagian hasil tangkapan ada yang disisihkan para nelayan untuk dijual kepada warga Kampung Akuarium.

"Tapi kalau warga mau langsung pesan, 'ikan dong atau cuminya dong gue beli nih'. Jadi sama nelayan di bawa pulang. Misalnya saya nih mau goreng ikan tinggal langsung bilang aja, nanti di bawain sama mereka," papar Topaz.

Kenyataan berbeda justru dialami warga Kampung Akuarium yang bukan berprofesi sebagai nelayan. Para warga yang bekerja sebagai buruh harian merasakan dampak ekonomi yang nyata.

Kata Topaz, warga Kampung Akuarium yang bekerja sebagai buruh harian kekinian sudah dirumahkan. Topaz berkisar, dari 30 warga Kampung Akuarium yang bekerja, kini hanya tersisa 10 sampai 15 orang saja. Sisanya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

"Dari sekitar 20 sampai 30 orang yang awalnya bekerja, mungkin sampai sekarang hanya tinggal 10 atau 15 orang saja yang bekerja. Tapi ada juga yang di PHK lebih banyak juga yang di PHK," tutup Topaz.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hari Pertama Jadi Kapolda Bengkulu, Teguh Sarwono Dikarantina COVID-19

Hari Pertama Jadi Kapolda Bengkulu, Teguh Sarwono Dikarantina COVID-19

News | Selasa, 12 Mei 2020 | 16:07 WIB

Peran Ibnu Sina Bantu Perangi Virus Corona dari Akhirat

Peran Ibnu Sina Bantu Perangi Virus Corona dari Akhirat

News | Selasa, 12 Mei 2020 | 15:57 WIB

PKL Tanah Abang Berjejer di Trotoar, Pedagang-Pembeli Tak Ada Jaga Jarak

PKL Tanah Abang Berjejer di Trotoar, Pedagang-Pembeli Tak Ada Jaga Jarak

News | Selasa, 12 Mei 2020 | 15:39 WIB

Hari Perawat Internasional: Kisah 2 Perawat Berjuang selama Wabah Corona

Hari Perawat Internasional: Kisah 2 Perawat Berjuang selama Wabah Corona

Health | Selasa, 12 Mei 2020 | 16:10 WIB

Transportasi Dibuka, Harga Tiket Bus AKAP di Pulo Gebang Naik 100 Persen

Transportasi Dibuka, Harga Tiket Bus AKAP di Pulo Gebang Naik 100 Persen

News | Selasa, 12 Mei 2020 | 15:30 WIB

Wali Kota Risma Dikecam Ngeluh RS Surabaya Banyak Merawat Warga Luar Daerah

Wali Kota Risma Dikecam Ngeluh RS Surabaya Banyak Merawat Warga Luar Daerah

Jatim | Selasa, 12 Mei 2020 | 15:30 WIB

Empat Bulan Mendekam di Penjara Iran, 15 ABK Asal Indonesia Dibebaskan

Empat Bulan Mendekam di Penjara Iran, 15 ABK Asal Indonesia Dibebaskan

News | Selasa, 12 Mei 2020 | 15:27 WIB

Meski Ada Corona, Pemprov DKI: Perusahaan Harus Bayar THR Karyawan

Meski Ada Corona, Pemprov DKI: Perusahaan Harus Bayar THR Karyawan

News | Selasa, 12 Mei 2020 | 15:27 WIB

Kiat Komunal Kampung Akuarium Tangkal Pandemi Corona

Kiat Komunal Kampung Akuarium Tangkal Pandemi Corona

Video | Selasa, 12 Mei 2020 | 14:42 WIB

Klaim Zero Case, Jurus Penangkal Corona di Kampung Akuarium

Klaim Zero Case, Jurus Penangkal Corona di Kampung Akuarium

News | Selasa, 12 Mei 2020 | 14:29 WIB

Terkini

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:41 WIB

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:38 WIB

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 23:33 WIB

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:34 WIB

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 22:00 WIB

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:50 WIB

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:38 WIB

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:31 WIB

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:20 WIB

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 21:01 WIB