Cerita Maulana, Sopir yang Dipecat saat Corona Jalan Kaki Jakarta - Solo

Reza Gunadha

Kamis, 21 Mei 2020 | 20:38 WIB
Cerita Maulana, Sopir yang Dipecat saat Corona Jalan Kaki Jakarta - Solo
[BBC]

Tanpa banyak pertimbangan, dia memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, Solo, Jawa Tengah.

Namun ini tidak mudah karena Jakarta sudah mberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Saya sudah mencoba (naik kendaraan umum), tapi mental semua, karena di jalur tol ada check point dan disuruh balik ke asal," ujarnya, getir.

'Saya istirahat tidur di POM bensin'

Setelah gagal mudik dengan angkutan umum maupun mobil pinjaman, dia memilih jurus pamungkas, yaitu nekat berjalan kaki.

Usai salat Subuh, Sabtu, 11 Mei, Rio memutuskan meninggalkan Cibubur dengan berjalan kaki seorang diri.

Ketika Lebaran kalahkan ketakutan akan Covid-19: 'Kalau sudah terjangkit saya pasrah saja' kata warga yang ikut berdesakan belanja Lebaran Covid-19, Lebaran prihatin, dan 'kejutan ekonomi': 'Mau marah, saya enggak bisa marah ke siapa-siapa' Mudik: Covid-19 tak halangi arus mudik jelang Lebaran, Menko Polhukam minta perketat pengawasan hingga jalur tikus

"Saya memutuskan untuk pulang pakai apa yang diberikan Allah, yakni kedua kaki saya sebagai alat trapsortasi balik ke Solo," ungkapnya.

Meskipun hanya dengan berjalan kaki, Rio mengaku sangat menikmatinya.

baca juga

Dia pun mengaku tetap berpuasa meski harus berpanas-panasan jalan kaki.

"Saya istirahat di tempat makan atau SPBU pada malam hari," katanya.

Pada hari pertama, dia berhasil menempuh perjalanan dari Cibubur hingga perbatasan Karawang-Pamanukan, Jawa Barat.

"Pada hari pertama itu saya sampai Jatisari di perbatasan Karawang dengan Pamanukan itu sekitar jam 02.00 WIB. Saya numpang istirahat di rest area truk Jatisari," ujarnya,

Rio kembali melanjutkan perjalanan hari kedua pada pukul 06.00 WIB dengan menyusuri jalanan dari Jatisari hingga Losari.

Virus corona meniadakan lebaran bagi para tenaga medis: 'mimpi yang sudah disimpan dalam lemari' Virus corona dan ramadan: Mengapa salat berjemaah di masjid masih digelar, walau MUI dan ormas Islam mengimbau salat di rumah? Virus corona: Salat tarawih berjemaah dan hukuman cambuk di Aceh tetap berlangsung, 'transmisi lokal hanya masalah waktu'

Namun selama perjalanan itu, rumah makan yang biasanya menjadi tempat pemberhentian bus pariwisata, tutup semua.

"Saya akhirnya istirahat di SPBU Losari karena rencana mau berhenti di rumah makan Kondang Roso pada malam hari, ternyata, semua rumah makan tempat pemberhentian bus wisata tutup, nggak ada yang buka," ungkapnya.

'Saya bersandal jepit karena nyaman'

Selama berjalan kaki menyusuri jalur Pantura (pantai utara pulau Jawa), Rio hanya berbekal dua tas, yakni tas gendong yang berisi pakaian dan tas selempang.

Sementara tas kresek yang digantungkan di depan berisi sepatu miliknya.

"Sepatu saya masukan kresek dan saya berjalan pakai sandal jepit ini karena lebih nyaman," kata Rio sambil menunjukkan sandal jepit berwarna kuning yang masih dipakainya.

Setiap hari dia mengaku bisa berjalan sekitar 100 kilometer dengan berjalan selama 12-14 jam.

Pengalaman yang menguras energi, ungkapnya, ketika melintasi jalur Karawang Timur sampai Tegal, lantaran pada jalur tersebut "hawanya begitu panas menyengat".

Tak pelak, kulitnya pun semakin terbakar. "Kulit saya menjadi hitam legam," Rio terkekeh.

"Cuaca mulai berangsur agak adem ketika memasuki Brebes dan Pekalongan," tambahnya.

Mengapa Rio menggakhiri aksi jalan kaki di Kota Batang?

Rio mengakhiri aksi jalan kaki pada saat hari keempat setelah memasuki perbatasan Batang-Kendal di Gringsing, Jawa Tengah.

Pada saat itu uang bekalnya sudah menipis.

Dia juga merasa ketar-ketir lantaran mendengar informasi bahwa akses menuju Semarang "diperketat".

Alhasil, sebagai anggota asosiasi Pengemudi Pariwisata Indonesia (Peparindo), dia kemudian memutuskan meminta bantuan rekan-rekannya untuk bisa membawanya ke kota Semarang.

"Saya di situ sudah kehabisan bekal dan ada informasi mau masuk razia di check point Mangkang, Semarang. Katanya ketat banget," kata Rio.

"Saya terus minta bantuan rekan-rekan dari Peparindo Pusat untuk membantu saya membawa ke Solo. Saya dimarahin semua karena aksi mudik jalan kaki itu."

Pengurus Peparindo Pusat kemudian berkoordinasi dengan Peparindo Korwil Jawa tengah, dan akhirnya dia dijemput menuju Semarang.

Di kota itu dia istirahat, mandi dan makan.

'Saya memilih tidur, ini kayak dendam'

Keesokan harinya, dia kemudian diantar pulang ke Solo, dan kemudian ditempatkan di lokasi karantina yang disediakan Pemerintah Kota Solo, yaitu di Grha Wisata Niaga.

"Saya tiba di karantina ini pada tanggal 15 Mei 2020 sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pendataan, terus saya masuk," akunya.

"Makannya enak dan terjamin. Semuanya sudah seperti keluarga di sini. Pokoknya Pak Wali Kota Solo sangat memanusiakan para penghuni karantina di sini," Rio menebar senyum.

Setelah menghuni karantina, dia mengisi hari-harinya dengan "tiduran".

"Ini semacam dendam," dia kembali tertawa.

Dia mengaku baru terasa pegal dan linu di bagian kakinya.

"Kaki saya masih terasa pegal padahal ini sudah dikasih obat oleh petugas medis di sini."

Rencananya setelah menjalani karantina selama 14 hari, Rio akan pulang ke rumah orangtuanya di kawasan Pasar Gede Timur, Kelurahan Sudiroprajan, Solo.

Sedangkan mengenai pekerjaan, ia mengaku akan menenangkan diri terlebih dahulu di Solo.

"Setelah masa karantina selesai akan pulang ke rumah di Sudiroprajan. Kemudian, saya akan ziarah ke makam kedua orangtua saya yang dimakamkan di Bonoloyo," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Update 21 Mei, 6.220 Orang di Jakarta Positif Corona, 1.536 Orang Sembuh

Update 21 Mei, 6.220 Orang di Jakarta Positif Corona, 1.536 Orang Sembuh

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 16:11 WIB

Qiu Haibo: Perilaku Virus Corona Berubah, Beda dari Kasus Wuhan

Qiu Haibo: Perilaku Virus Corona Berubah, Beda dari Kasus Wuhan

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 17:45 WIB

Minta Anies Setop PSBB, DPRD DKI: Masalah Perut dan Kesehatan sama Penting

Minta Anies Setop PSBB, DPRD DKI: Masalah Perut dan Kesehatan sama Penting

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 15:38 WIB

Jumlah Kasus Covid-19 Meningkat, Brasil Perluas Penggunaan Obat Klorokuin

Jumlah Kasus Covid-19 Meningkat, Brasil Perluas Penggunaan Obat Klorokuin

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 13:14 WIB

Antisipasi Gelombang Kedua Covid-19, Wuhan Larang Warga Makan Binatang Liar

Antisipasi Gelombang Kedua Covid-19, Wuhan Larang Warga Makan Binatang Liar

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 11:00 WIB

Terinfeksi Covid-19, Pria Ini Jadi Kurus Kehilangan 23 Kg Berat Badan

Terinfeksi Covid-19, Pria Ini Jadi Kurus Kehilangan 23 Kg Berat Badan

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 10:30 WIB

Wagub Ariza: PSBB Berlaku untuk Semua, Gubernur Kalau Langgar Ditindak

Wagub Ariza: PSBB Berlaku untuk Semua, Gubernur Kalau Langgar Ditindak

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 06:44 WIB

PSBB Berjalan, Kota Manakah yang Warganya Paling Patuh?

PSBB Berjalan, Kota Manakah yang Warganya Paling Patuh?

Otomotif | Kamis, 21 Mei 2020 | 06:35 WIB

Kepala Bappenas: PSBB Jakarta Bisa Berakhir Jika...

Kepala Bappenas: PSBB Jakarta Bisa Berakhir Jika...

News | Rabu, 20 Mei 2020 | 23:59 WIB

Tambah Dikit, Pasien Positif Corona di Jakarta 6.150 Orang

Tambah Dikit, Pasien Positif Corona di Jakarta 6.150 Orang

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 02:05 WIB

Terkini

Soal Infertilitas: Sperma Kosong, Bayi Tabung hingga Mitos Gaya Hubungan Intim

Soal Infertilitas: Sperma Kosong, Bayi Tabung hingga Mitos Gaya Hubungan Intim

Video | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:00 WIB

Liburan ke Malioboro Makin Asyik, Becak Listrik Gratis Kembali Beroperasi

Liburan ke Malioboro Makin Asyik, Becak Listrik Gratis Kembali Beroperasi

Foto | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:00 WIB

Jalur Bab el-Mandeb Membara: Harga Minyak Dunia Mengamuk di Tengah Gempuran 11 Malam AS ke Iran

Jalur Bab el-Mandeb Membara: Harga Minyak Dunia Mengamuk di Tengah Gempuran 11 Malam AS ke Iran

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 08:58 WIB

Kebencian Salah Sasaran: Mengapa Perempuan Memusuhi Perempuan Lain?

Kebencian Salah Sasaran: Mengapa Perempuan Memusuhi Perempuan Lain?

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jatuh Cinta pada MRT Jakarta dan Semangat Baru Bertransportasi Umum

Jatuh Cinta pada MRT Jakarta dan Semangat Baru Bertransportasi Umum

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 08:49 WIB

Youri Tielemans Tak Sabar Main di Old Trafford Usai Gabung Manchester United

Youri Tielemans Tak Sabar Main di Old Trafford Usai Gabung Manchester United

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 08:48 WIB

Rahasia Lipat Gandakan Omzet Lewat Ekosistem AI dan GrabModal

Rahasia Lipat Gandakan Omzet Lewat Ekosistem AI dan GrabModal

Tekno | Rabu, 22 Juli 2026 | 08:44 WIB

Nanik S Deyang Mundur dari Ketua BGN, Apakah Dapat Tunjangan Seumur Hidup?

Nanik S Deyang Mundur dari Ketua BGN, Apakah Dapat Tunjangan Seumur Hidup?

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 08:43 WIB

Berangkat Cerdas: Mengubah Lelah Menjadi Faedah di Bangku Transportasi Umum

Berangkat Cerdas: Mengubah Lelah Menjadi Faedah di Bangku Transportasi Umum

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 08:41 WIB

Ulasan Novel Perundungan Maut, Pembalasan Dendam Para Korban Perundungan

Ulasan Novel Perundungan Maut, Pembalasan Dendam Para Korban Perundungan

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 08:35 WIB

×