Penjelasan Kemendikbud Soal Siswa dan Guru Terpapar Corona

Bangun Santoso, Stephanus Aranditio

Jum'at, 14 Agustus 2020 | 07:51 WIB
Penjelasan Kemendikbud Soal Siswa dan Guru Terpapar Corona
Sebagai ilustrasi: Guru dan siswa melakukan simulasi kegiatan belajar tatap muka di SMPN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (7/8/2020). [ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang]

Suara.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membantah adanya klaster baru pasien virus corona pada siswa dan guru akibat kebijakan pembukaan sekolah di zona kuning sejak 7 Agustus 2020 lalu.

Dirjen PAUD-Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Jumeri menjelaskan data-data klaster sekolah yang disebar oleh @LaporCovid19 di media sosial tidak terjadi pada bulan Agustus ketika pembukaan sekolah di zona kuning dimulai. Melainkan akumulasi kejadian dari bulan Maret sampai dengan Agustus 2020.

Selain itu, para siswa dan guru juga tertular di lingkungan masing-masing, bukan di lingkungan sekolah ketika dibuka kembali.

"Kami sampaikan untuk mengklarifikasi, memastikan bahwa informasi yang terjadi tumbuhnya atau timbulnya klaster baru di dunia pendidikan akibat SKB 4 menteri, relaksasi SKB 4 menteri, tidak benar," kata Jumeri dalam jumpa pers virtual, Kamis (13/8/2020).

Jumeri mengklarifikasi satu per satu temuan LaporCovid19.

Pertama, soal 289 siswa di Papua terpapar covid-19 benar adanya. Tetapi terpapar sejak bulan Maret hingga Agustus 2020, bukan saat pemerintah membuka sekolah. Oleh Kemendikbud disebut mereka tertular di luar sekolah.

"Nah ini rupanya perlu kita luruskan, kejadian di Papua ini bukan terjadi pada bulan Agustus. Tapi ini akumulasi dari Maret sampai Agustus," katanya.

Kemudian di Balikpapan yang dilaporkan ada seorang guru terpapar Covid-19. Jumeri menyebut yang bersangkutan tertular dari tetangganya, bukan dari kegiatan sekolah.

"Dia (sudah) isolasi di rumahnya, tidak melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan di Balikpapan belum dilaksanakan pembukaan tatap muka," ujarnya lagi.

baca juga

Lalu klaster 11 guru di SMKN 1 Gunem, Rembang, kata Jumeri juga bukan berasal dari kegiatan sekolah melainkan tertular dari salah satu pejabat daerah setempat.

"Jawa Tengah belum ada SMK yang membuka layanan tatap muka," ungkap Jumeri.

Jumeri menyebut, kejadian di Rembang juga sama halnya dengan klaster siswa dan guru di Pontianak yang terdapat 14 siswa SMA dan 8 guru SMA dinyatakan reaktif COVID-19. Setelah pemerintah setempat melakukan tracing tes corona sebelum membuka sekolah.

"Ini Gubernur Kalimantan Barat melakukan swab tes terhadap guru dan rapid test terhadap peserta didik. Hasilnya 14 peserta didik adalah reaktif dan 8 guru reaktif. Itu Dalam situasi persiapan membuka sekolah, artinya sekolah belum beroperasi. Sekolah belum buka tatap muka," jelas Jumeri.

Jumeri menyebut daerah zona hijau dan kuning lainnya bisa mencontoh Pontianak yang melakukan tracing kasus terlebih dahulu sebelum memutuskan pembukaan sekolah.

Lanjut ke kasus seorang siswa reaktif covid-19 di Tulungagung, Jawa Timur. Jumeri menjelaskan, anak tersebut tertular dari orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang.

Anak itu disebut memiliki keterbatasan fasilitas Pembelajaran Jarak Jauh sehingga harus belajar dalam kelompok kecil dengan seorang guru yang juga berpotensi tertular darinya.

"Empat siswa lain sudah isolasi, meskipun mereka dites tidak positif, ya negatif. Ini kejadian di Tulungagung," katanya.

Jumeri menegaskan, pemerintah hanya memperbolehkan pembukaan sekolah di zona kuning dan hijau yang diatur oleh Satgas Covid-19.

Segala keputusan pembukaan sekolah harus dipertimbangkan matang-matang oleh pemda atau kanwil, kepala sekolah, komite sekolah, dan orang tua yang juga berhak melarang anaknya ke sekolah pada masa pandemi.

Berdasarkan peta zonasi risiko COVID-19 yang bersumber dari https://covid19.go.id/ per 13 Agustus 2020, terdapat 33 kabupaten/kota yang berada di zona merah, 222 kabupaten/kota berada di zona oranye, 177 kabupaten/kota berada di zona kuning, dan sisanya 82 kabupaten/kota berada di zona hijau dan zona tidak terdampak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Picu 45 Kasus Corona, Pria India Didenda Rp 42 Juta dan Penjara 5 Bulan

Picu 45 Kasus Corona, Pria India Didenda Rp 42 Juta dan Penjara 5 Bulan

News | Jum'at, 14 Agustus 2020 | 06:30 WIB

Argentina dan Meksiko Produksi Vaksin Covid-19 untuk Amerika Latin

Argentina dan Meksiko Produksi Vaksin Covid-19 untuk Amerika Latin

Tekno | Jum'at, 14 Agustus 2020 | 06:07 WIB

70 Persen Kasus COVID-19 di DIY dari OTG, 120 Orang Tak Dirawat di RS

70 Persen Kasus COVID-19 di DIY dari OTG, 120 Orang Tak Dirawat di RS

Jogja | Jum'at, 14 Agustus 2020 | 00:05 WIB

Sembarangan Klaim Obat, MHKI: Risikonya Pidana Hingga Denda Ratusan Juta

Sembarangan Klaim Obat, MHKI: Risikonya Pidana Hingga Denda Ratusan Juta

Health | Kamis, 13 Agustus 2020 | 22:03 WIB

Sepekan Kasus Positif Naik 8,7 Persen, Alasan Anies Perpanjang Lagi PSBB

Sepekan Kasus Positif Naik 8,7 Persen, Alasan Anies Perpanjang Lagi PSBB

News | Kamis, 13 Agustus 2020 | 21:12 WIB

Ini Daftar 33 Zona Merah Covid-19 Per 9 Agustus 2020

Ini Daftar 33 Zona Merah Covid-19 Per 9 Agustus 2020

News | Kamis, 13 Agustus 2020 | 21:04 WIB

Ikut Protokol Tapi Positif Covid-19, Taufik Basari: Jangan Remehkan Corona

Ikut Protokol Tapi Positif Covid-19, Taufik Basari: Jangan Remehkan Corona

News | Kamis, 13 Agustus 2020 | 21:02 WIB

Terkini

98 Resolution Network Kirim Ratusan Tenda dan Bantuan Pendidikan ke Lokasi Gempa NTT

98 Resolution Network Kirim Ratusan Tenda dan Bantuan Pendidikan ke Lokasi Gempa NTT

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:32 WIB

Denny Indrayana Tantang Gibran Hadir di Sidang MK soal Keabsahan Cawapres

Denny Indrayana Tantang Gibran Hadir di Sidang MK soal Keabsahan Cawapres

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:18 WIB

Houthi Ultimatum Arab Saudi: Serang Yaman, Bandara Bakal Hancur Lebur

Houthi Ultimatum Arab Saudi: Serang Yaman, Bandara Bakal Hancur Lebur

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:05 WIB

Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Masuk Kategori Terorisme Ekologi

Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Masuk Kategori Terorisme Ekologi

Video | Minggu, 20 September 2026 | 21:01 WIB

5 Alasan Tarik Tunai di ATM Masih Terasa Merepotkan di Era Digital

5 Alasan Tarik Tunai di ATM Masih Terasa Merepotkan di Era Digital

Jabar | Minggu, 20 September 2026 | 20:58 WIB

Gibran Sentil Pegawai SPPG yang Olok-olok Korban Keracunan MBG: Jangan Bully Anak-anak

Gibran Sentil Pegawai SPPG yang Olok-olok Korban Keracunan MBG: Jangan Bully Anak-anak

News | Minggu, 20 September 2026 | 20:51 WIB

6 Masalah Tarik Tunai Konvensional yang Bikin Orang Beralih ke Dompet Digital

6 Masalah Tarik Tunai Konvensional yang Bikin Orang Beralih ke Dompet Digital

Sulsel | Minggu, 20 September 2026 | 20:48 WIB

5 Masalah Keuangan yang Sering Dialami Wisatawan Indonesia di Luar Negeri

5 Masalah Keuangan yang Sering Dialami Wisatawan Indonesia di Luar Negeri

Jatim | Minggu, 20 September 2026 | 20:33 WIB

Di Hadapan Pemimpin Kota Dunia, Pramono Pamer Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52 Persen

Di Hadapan Pemimpin Kota Dunia, Pramono Pamer Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52 Persen

News | Minggu, 20 September 2026 | 20:32 WIB

Startup Digital Purwodadi Bangun Ekosistem Kreatif, Anak Muda Lokal Jadi Motor Penggerak

Startup Digital Purwodadi Bangun Ekosistem Kreatif, Anak Muda Lokal Jadi Motor Penggerak

Tekno | Minggu, 20 September 2026 | 20:30 WIB

×