Indonesia Disebut Negara Demokrasi Cacat, Fadli Zon: Saya Tidak Terkejut

Reza Gunadha, Farah Nabilla

Selasa, 15 September 2020 | 21:19 WIB
Indonesia Disebut Negara Demokrasi Cacat, Fadli Zon: Saya Tidak Terkejut
Ilustrasi Fadli Zon. (Suara.com/Ema Rohima)

Suara.com - Politisi Partai Gerindra Fadli Zon menyoroti soal indeks demokrasi Indonesia yang turun sejak dua dekade terakhir, terlebih ketika pandemi virus corona melanda.

Tepat pada tanggal 15 September, dunia memperingati hari demokrasi Internasional. Momen ini dimaknai politisi Fadli Zon dengan menyoroti progres demokrasi di Indonesia.

Menurut Fadli, saat menghadapi wabah seperti sekarang ini, gagasan demokrasi menjadi sangat diperlukan untuk memastikan terjaminnya hal mendasar seperti partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan pemeringa, transparansi penggunaan anggaran publik, serta melihat reseponsivitas pemerintah terhada suara publik.

Mengambil data Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) dari Badan Pusat Statistik (BPS), skor indeks demokrasi saat ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dari 72,39 menjadi 74,92. Namun Fadli Zon masih melihatnya sebagai angka yang memprihatinkan.

"Namun, dengan skor akhir tersebut, kinerja demokrasi kita sebenarnya masih cukup memprihatinkan, karena masih berada di level sedang," kata Fadli dikutip dari utasan Twitter-nya, Selasa (15/9/2020).

Fadli menyoroti kendati indeks demokrasi naik, namun aspek kebebasan sipil justru turun. Menurutnya, ada dua indikator yang memengaruhi penurunan ini.

"Penurunan ini dipengaruhi dua indikator, yakni ancaman/penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berpendapat, dan ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan berpendapat," jelas Fadli.

"Namun, yang memprihatinkan adalah indikator ancaman /penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berpendapat, di mana skornya anjlok dari 70,22 pada 2018 menjadi 65,69 pada 2019. Indikator ini hampir menyentuh angka 60, atau batas suatu indikator dinilai buruk," sambung dia.

Beberapa lembaga survei juga mengamini kondisi indeks demokrasi Indonesia yang tak menunjukkan skor kenaikan yang signifikan. Bahkan salah satu lembaga menyebut Indonesia sebagai negara yang memiliki kecacatan demokrasi.

baca juga

"Penilaian oleh BPS ini sama dan sebangun dengan penilaian Economist Intelligence Unit (EIU), yang juga menilai bahwa Indonesia termasuk sebagai negara “demokrasi cacat” (flawed democracy)," jelas Fadli lagi.

Fadli pun mengaku tidak terlalu terkejut dengan penilaian tersebut. Menurutnya, hasil survei itu tak berbeda jauh dari prediksinya selama ini.

"Terus terang saya pribadi tak terlalu terkejut dengan penilaian tersebut. Survei dan penilaian oleh lembaga-lembaga riset independen itu hanya mengkonfirmasi penilaian yang sudah sering saya lontarkan selama ini," kata dia.

Menurutnya, perkembangan demokrasi Indonesia yang tak menunjukkan perbaikan ini bisa dilihat dari cara pemerintah menangani krisis pandemi.

Ia mengamati negara-negara yang demokratis relatif bisa mengatasi krisis ini lebih baik dibanding negara lainnya.

"Di tengah pandemi ini, demokrasi kita sedang berjalan ke arah yang kurang baik. Sejak awal kita melihat Pemerintah telah menggunakan krisis ini sebagai dalih untuk memperbesar kekuasaan dan melangkahi kewenangan parlemen," Fadli berpendapat.

Ia pun menyinggung lahirnya omnibus law yang dinilainya dibuat pemerintah secara sepihak.

"Melalui Perppu, misalnya, kini bisa lahir ‘omnibus law’ secara sepihak. Dengan dalih keadaan luar biasa, lembaga penegak hukum juga tak lagi bisa menuntut pengambil kebijakan. Bisa dikatakan, secara substantif kini tak ada lagi ‘trias politica’ di Indonesia," papar Fadli.

Kondisi itulah yang membuat Fadli menyimpulkan bahwa penanganan pandemi yang tak kunjung membaik ini bisa membuat Indonesia dikucilkan banyak negara.

"Tanpa demokrasi, krisis ini tak akan segera bisa diatasi," Fadli memungkasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terpuruk Akibat Pandemi, Pajak Kertas Media Cetak Ditanggung Pemerintah

Terpuruk Akibat Pandemi, Pajak Kertas Media Cetak Ditanggung Pemerintah

Bisnis | Selasa, 15 September 2020 | 19:32 WIB

Studi: Pandemi Covid-19 Bikin Tingkat Depresi di Masyarakat Meningkat

Studi: Pandemi Covid-19 Bikin Tingkat Depresi di Masyarakat Meningkat

Health | Selasa, 15 September 2020 | 19:23 WIB

Ekonom: Wacana Dewan Moneter Bentuk Pemerintah Emosional

Ekonom: Wacana Dewan Moneter Bentuk Pemerintah Emosional

Bisnis | Selasa, 15 September 2020 | 18:14 WIB

Mesti Tahu, Ini Rahasia Brand Fashion Bertahan di Tengah Pandemi

Mesti Tahu, Ini Rahasia Brand Fashion Bertahan di Tengah Pandemi

Lifestyle | Selasa, 15 September 2020 | 17:48 WIB

Tak Takut Covid-19, Sekelompok Bocah Asik Berenang di Kalimalang

Tak Takut Covid-19, Sekelompok Bocah Asik Berenang di Kalimalang

Foto | Selasa, 15 September 2020 | 18:58 WIB

WHO Bawa Kabar Buruk soal Angka Kematian Covid-19

WHO Bawa Kabar Buruk soal Angka Kematian Covid-19

Tekno | Selasa, 15 September 2020 | 17:00 WIB

Terkini

Banjir Lahar Hujan Semeru Over Skala Terjang Lumajang, Satu Dusun Terisolir Total

Banjir Lahar Hujan Semeru Over Skala Terjang Lumajang, Satu Dusun Terisolir Total

Jatim | Senin, 02 November 2026 | 11:47 WIB

Mengenal Sonor: Tradisi Mengelola Api di Sumatera Selatan di Tengah Ancaman Kebakaran Gambut

Mengenal Sonor: Tradisi Mengelola Api di Sumatera Selatan di Tengah Ancaman Kebakaran Gambut

News | Senin, 02 November 2026 | 11:39 WIB

Tiga Wilayah Bali Diterjang Longsor, Dua Orang Diduga Masih Tertimbun

Tiga Wilayah Bali Diterjang Longsor, Dua Orang Diduga Masih Tertimbun

Bali | Senin, 02 November 2026 | 11:39 WIB

Konser 20 Tahun for Revenge Jadi Momen Perpisahan, Chimot Resmi Undur Diri

Konser 20 Tahun for Revenge Jadi Momen Perpisahan, Chimot Resmi Undur Diri

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 11:38 WIB

BPS Ungkap Inflasi Tahunan Oktober 2026 Capai 3,23%, Dipicu Harga Pangan hingga Transportasi

BPS Ungkap Inflasi Tahunan Oktober 2026 Capai 3,23%, Dipicu Harga Pangan hingga Transportasi

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 11:38 WIB

Pulihkan Ekosistem Pascakarhutla, UGM Dorong Restorasi Berbasis Sains

Pulihkan Ekosistem Pascakarhutla, UGM Dorong Restorasi Berbasis Sains

News | Senin, 02 November 2026 | 11:32 WIB

ANTM Akui Akan Ambil Alih Tambang Emas di Nabire Papua

ANTM Akui Akan Ambil Alih Tambang Emas di Nabire Papua

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 11:30 WIB

Sidang Kasus Pemerasan dan TPPU, Pengusaha Tan Kian hingga Ferry Boboho Bersaksi Lawan Eks Jampidsus

Sidang Kasus Pemerasan dan TPPU, Pengusaha Tan Kian hingga Ferry Boboho Bersaksi Lawan Eks Jampidsus

News | Senin, 02 November 2026 | 11:30 WIB

Ulasan Film Mawang: Jangan Sebut Namanya, Petaka Pelanggaran Pantangan Adat

Ulasan Film Mawang: Jangan Sebut Namanya, Petaka Pelanggaran Pantangan Adat

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 11:30 WIB

7 Kandungan Skincare yang Perlu Dikenali untuk Membantu Mengatasi Flek Hitam

7 Kandungan Skincare yang Perlu Dikenali untuk Membantu Mengatasi Flek Hitam

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 11:29 WIB

×