Diprediksi Kalah, Ini Skenario Kekalahan Donald Trump di Pilpres AS 2020

Bangun Santoso

Kamis, 22 Oktober 2020 | 09:02 WIB
Diprediksi Kalah, Ini Skenario Kekalahan Donald Trump di Pilpres AS 2020
Presiden AS Donald Trump mengacungkan jempol saat ia turun dari Air Force One setibanya di Pangkalan Angkatan Udara Andrews di Maryland, Amerika Serikat pada 1 Oktober 2020. [MANDEL NGAN / AFP]

Agresif Pada Momen Terakhir

Debat capres AS, Donald Trump dan Joe Biden. (VOA Indonesia)
Debat capres AS, Donald Trump dan Joe Biden. (VOA Indonesia)

Seperti halnya saat Trump menang ketika Republik juga menguasai baik Senat maupun DPR, Biden dan Demokrat juga berpeluang melakukan hal sama pada pemilu 2020. Malah mungkin lebih telak.

Indikasi ini bahkan diutarakan sendiri oleh kawan seiring Trump. Salah satunya senator Republik, Ben Sasse, yang mengingatkan kolega-koleganya bahwa kali ini mereka akan menelan kekalahan besar dalam pemilu 2020.

Sasse juga terang-terangan mengkritik cara Trump mengelola pemerintahan, khususnya dalam menangani pandemi virus corona. Dia menyebut sikap bebal presiden bakal menciptakan erosi besar dalam konstelasi suara pada pemilu 3 November nanti.

Tidak cuma Ben Sasse yang was-was Republik kalah telak.

Sekutu-sekutu terpercaya Trump seperti Senator Ted Zruz juga begitu. Bahkan tokoh senior Republik di Senat yang juga mitra bermain golf Trump, Senator Lindsey Graham, sudah mengibarkan bendera putih dengan berkata kepada kubu Demokrat bahwa "Anda semua punya peluang bagus untuk memenangkan Gedung Putih."

Sekalipun Demokrat dan tim kampanye Joe Biden berusaha hati-hati karena pengalaman pada pemilu-pemilu sebelumnya yang menjadi pihak yang diunggulkan tapi malah kalah, khususnya saat Al Gore dan Clinton menjadi calon presiden mereka masing-masing pada pemilu 2000 dan 2016, posisi Biden dalam kebanyakan jajak pendapat semakin kuat saja.

Empat tahun silam Clinton mengungguli Trump dalam selisih 6,7 persen. Namun tiga pekan menjelang pemungutan suara Trump memangkas defisit itu sampai 3,2 persen sehingga terlalu tipis untuk meyakini Clinton bakal menang.

Sebaliknya, yang terjadi saat ini kebanyakan jajak pendapat justru konsisten menempatkan Biden unggul dengan marjin lebih lebar ketimbang yang dinikmati Clinton pada 2016. Terakhir jajak pendapat New York Times/Siena College menyimpulkan marjin keunggulan Biden secara nasional sebesar 9 persen. Angkanya antara 52 persen melawan 43 persen.

baca juga

Biden juga mencatat selisih suara cukup lebar di negara-negara bagian suara mengambang penting yang menjadi medan pertempuran suara yang ketat, yakni Pennsylvania dan Wisconsin.

Bukan hanya itu Biden juga menempel ketat Trump di Texas, Georgia dan Ohio yang selama ini dikuasai Republik.

Konsensus pakar selama ini menyatakan selisih tipis di Texas akan mengartikan pemilu bakal dimenangkan Demokrat dalam selisih besar. Dalam kata lain, Trump kemungkinan kalah telak.

Di permukaan, Trump menepis hasil rangkaian jajak pendapat itu sebagai palsu.

Tetapi fakta lain menunjukkan dia secara tidak langsung mempercayai apa yang dia sanggah itu dengan habis-habisan berkampanye menjelang hari pemungutan suara 3 November. Tujuannya, tak lain dan tak bukan adalah memangkas defisit dalam jajak pendapat itu.

Tidak seperti Biden yang tetap menghormati protokol COVID-19, Trump agresif maraton berkampanye yang bahkan dalam sehari bisa mendatangi tiga tempat berbeda.

Media dan banyak kalangan pakar di AS meyakini Trump berusaha menduplikasi taktik yang empat tahun silam sukses membalikkan angka jajak pendapat.

Dan sama dengan empat tahun silam ketika melancarkan serangan pribadi untuk mencederai citra Hillary Clinton lewat eksploitasi integritasnya yang memang determinan dalam pemilu AS.

Debat Terakhir

Debat calon presiden Amerika Serikat Joe Biden vs Donald Trump.[Twitter]
Debat calon presiden Amerika Serikat Joe Biden vs Donald Trump.[Twitter]

Kalau empat tahun lalu dia menggoreng isu email kantor yang digunakan untuk kepentingan pribadi Clinton, maka kali ini Trump konstan menyerang Biden dengan tudingan terkait korupsi di Ukraina yang disebutnya dilakukan anaknya Hunter Biden yang menjadi direksi sebuah perusahaan energi di sana, sekalipun tak ada satu pun bukti hukum dan material yang menguatkan tuduhan dia ini.

Tetapi tim kampanye Trump yakin manuver saat-saat terakhir ini akan efektif seperti terjadi pada pemilu 2016.

Masalahnya, situasi 2020 berbeda dengan situasi 2016. Saat ini rakyat AS fokus terhadap epidemi COVID-19 yang sudah merenggut 221 ribu nyawa.

Namun demikian di tengah gencarnya serangan pribadi itu, Biden tetap unggul di negara bagian-negara bagian suara mengambang yang menentukan kemenangan pemilu seperti Pennsylvania, Florida, Wisconsin dan Michigan.

Biden juga mengungguli Trump sampai selisih 28 persen dalam hal dukungan dari suara kaum perempuan non urban yang dulu menjadi pendukung setia Trump.

Pada pemilu 2016 Trump mendapatkan dukungan besar dari pemilih wanita kulit putih, tetapi kecenderungan ini tengah bergeser kepada Biden.

Trump juga tercampakkan di kalangan pemilih usia lanjut yang pada pemilu lalu mayoritas mendukung dia.

Pergeseran sikap kelompok usia lanjut di atas 65 tahun itu terjadi karena Trump meremehkan COVID-19 yang justru paling mengancam kaum usia lanjut yang di AS disebut warga senior ini.

Meskipun begitu, dua pekan menjelang pemilu adalah waktu yang teramat lama yang bisa membalikkan segalanya.

Apalagi itu masih ada debat calon presiden yang terakhir pada 22 Oktober di Nashville, Tennessee. Debat calon presiden ini bakal menjadi momentum bagi kedua kandidat guna mempresentasikan diri siapa dia antara yang menjadi pilihan rakyat Amerika.

Trump harus memenangkan debat ini karena pada debat pertama disebut-sebut kalah jauh dari Biden.

Sementara debat kedua yang sedianya diadakan virtual dibatalkan karena Trump menolaknya, kedua calon presiden menggelar acara televisi berformat tanya jawab dengan masyarakat. Dalam acara ini pun Trump lagi-lagi terlempar dari persaingan dengan Biden.

Debat terakhir 22 Oktober nanti akan membahas tema-tema yang umumnya disukai Biden. Mereka akan membicarakan perang melawan COVID-19, keluarga Amerika, ras, perubahan iklim, keamanan nasional, dan kepemimpinan.

Biden diperkirakan akan nyaman dengan tema COVID-19, ras dan perubahan iklim. Sebaliknya, Trump bakal mendapati isu keamanan nasional dan kepemimpinan untuk menegaskan dirinya layak untuk masa jabatan kedua.

Tidak mustahil dia akan menjual ofensif diplomatik di Timur Tengah di mana sejumlah negara Arab mengakui Israel sebagai bukti kepemimpinan efektifnya. Namun saat bersamaan Biden mempunyai banyak amunisi untuk menyerang kepemimpinan internasional Trump, terutama dalam hal multilateralisme dan hubungan dengan sekutu-sekutu AS.

Namun dari berbagai jajak pendapat yang ada, rakyat Amerika lebih tertarik kepada isu COVID-19. Ini sangat dihindari Trump tetapi menjadi favorit Biden.

Debat terakhir ini kemungkinan besar tak akan liar karena diwarnai hujan interupsi sebagaimana terjadi pada debat pertama karena mikrofon akan dimatikan ketika sesi sela menyela terlalu cepat dimulai oleh kedua kandidat.

Bagi publik, ini memberi kesempatan kepada rakyat AS dalam menilai utuh visi jelas dari pemimpin mereka dalam kaitan dengan masalah-masalah paling aktual dan urgen yang tengah mereka hadapi saat ini.

Ini bisa menjadi titik yang mungkin akhirnya menyudutkan Donald Trump. (Sumber: Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Klaim Kebal Covid-19, Donald Trump Dapat Julukan 'Superman' dari Pendukung

Klaim Kebal Covid-19, Donald Trump Dapat Julukan 'Superman' dari Pendukung

News | Selasa, 20 Oktober 2020 | 17:00 WIB

Pemilu AS, Jajak Pendapat Nasional: Donald Trump Kalah

Pemilu AS, Jajak Pendapat Nasional: Donald Trump Kalah

Sulsel | Selasa, 20 Oktober 2020 | 15:23 WIB

Mirip di DPR, Debat Terakhir Trump vs Joe Biden Dibekali Mute Mikrofon

Mirip di DPR, Debat Terakhir Trump vs Joe Biden Dibekali Mute Mikrofon

News | Selasa, 20 Oktober 2020 | 14:26 WIB

General Motors Danai Investasi Baru, Perluas Produksi Mobil Listrik

General Motors Danai Investasi Baru, Perluas Produksi Mobil Listrik

Otomotif | Selasa, 20 Oktober 2020 | 13:10 WIB

Ingin Bertemu Trump, Pria AS Bergelantungan di Gedung Selama 13 Jam

Ingin Bertemu Trump, Pria AS Bergelantungan di Gedung Selama 13 Jam

News | Selasa, 20 Oktober 2020 | 12:24 WIB

CEK FAKTA Presiden AS Donald Trump Meninggal karena Covid-19?

CEK FAKTA Presiden AS Donald Trump Meninggal karena Covid-19?

News | Senin, 19 Oktober 2020 | 14:06 WIB

Dari Hulk hingga Black Widow, Avengers Dukung Joe Biden Menang Pilpres AS

Dari Hulk hingga Black Widow, Avengers Dukung Joe Biden Menang Pilpres AS

News | Senin, 19 Oktober 2020 | 12:28 WIB

Terkini

Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI

Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI

Jatim | Rabu, 16 September 2026 | 18:17 WIB

Bukan yang Pertama! KPK Bongkar Suap Awal Rp300 Juta dari PT Summarecon ke Pejabat ATR/BPN

Bukan yang Pertama! KPK Bongkar Suap Awal Rp300 Juta dari PT Summarecon ke Pejabat ATR/BPN

News | Rabu, 16 September 2026 | 18:15 WIB

iNews Group Dilepas MNC Group ke Bos Republikorp Norman Joesoef

iNews Group Dilepas MNC Group ke Bos Republikorp Norman Joesoef

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 18:11 WIB

Daftar Harga Helm Cargloss Half Face: Dari Seri Klasik hingga Khusus Hijab

Daftar Harga Helm Cargloss Half Face: Dari Seri Klasik hingga Khusus Hijab

Otomotif | Rabu, 16 September 2026 | 18:10 WIB

MNC Lepas iNews Group ke Republikorp, Ini Rinciannya

MNC Lepas iNews Group ke Republikorp, Ini Rinciannya

News | Rabu, 16 September 2026 | 18:05 WIB

Suahasil Lanjutkan Rapat dengan DPD RI usai Purbaya Dicopot Mendadak oleh Prabowo

Suahasil Lanjutkan Rapat dengan DPD RI usai Purbaya Dicopot Mendadak oleh Prabowo

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 18:03 WIB

Jenazah Warga Garut Korban KM Virgo Transport 8 Dipulangkan, Keluarga Menanti di Kampung Halaman

Jenazah Warga Garut Korban KM Virgo Transport 8 Dipulangkan, Keluarga Menanti di Kampung Halaman

Jabar | Rabu, 16 September 2026 | 18:02 WIB

5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal

5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 18:00 WIB

Era Purbaya Berakhir, Ketua DPRD DKI Singgung Wacana Lobi Menkeu Baru Soal DBH hingga Obligasi

Era Purbaya Berakhir, Ketua DPRD DKI Singgung Wacana Lobi Menkeu Baru Soal DBH hingga Obligasi

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:58 WIB

Sekretaris Dishub Sukabumi Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Seksual Siswi PKL

Sekretaris Dishub Sukabumi Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Seksual Siswi PKL

Jabar | Rabu, 16 September 2026 | 17:57 WIB

×