Mengapa Demonstran Thailand Ikuti Taktik Unjuk Rasa di Hong Kong?

Siswanto, BBC

Kamis, 22 Oktober 2020 | 16:18 WIB
Mengapa Demonstran Thailand Ikuti Taktik Unjuk Rasa di Hong Kong?
BBC

Suara.com - Para pegiat demokrasi Thailand semakin meniru taktik yang digunakan demonstran di Hong Kong dalam menentang larangan berkumpul, setelah berbulan-bulan melakukan protes yang menargetkan perdana menteri dan raja.

Ketika pengunjuk rasa di Bangkok menggunakan payung untuk melindungi diri dari gas air mata yang ditembakkan untuk pertama kalinya pada Jumat (16/10) lalu, aksi itu amat mirip dengan demonstrasi anti-pemerintah yang mengguncang Hong Kong tahun lalu.

Dari helm, masker gas, flashmob, hingga isyarat tangan, gerakan mahasiswa Thailand tampak memakai pengalaman para aktivis muda Hong Kong dalam perjuangan mereka untuk perubahan.

Berikut tiga hal yang terjadi dalam protes Thailand, yang mirip dengan apa yang dilakukan di Hong Kong.

Gerakan tanpa pemimpin: 'Kita semua adalah pemimpin hari ini'

Setelah banyak pimpinan demonstran ditangkap pekan lalu, para aktivis mengubah taktik.

"Mereka pikir menangkap para pemimpin akan menghentikan kami," kata Pla, seorang demonstran berusia 24 tahun, kepada ribuan pengunjuk rasa di Monumen Kemenangan Bangkok pada Minggu (18/10).

"[Penangkapan] itu tidak ada gunanya. Kita semua adalah pemimpin hari ini. "

Tidak adanya kepemimpinan terpusat adalah ciri khas demonstrasi yang mengguncang Hong Kong selama tujuh bulan berturut-turut - sesuatu yang menurut banyak orang membuat gerakan itu bisa bertahan lama.

Meskipun ada beberapa sosok yang dianggap sebagai pimpinan, pengambilan keputusan dilakukan dengan melibatkan massa pengunjuk rasa, biasanya menggunakan forum online dan aplikasi bertukar pesan Telegram. Mereka kemudian berkumpul dalam jumlah besar dengan cepat.

baca juga

Di Thailand, penggunaan Telegram telah meroket dalam beberapa hari terakhir.

Para pengunjuk rasa menggunakannya untuk mengoordinasikan aksi unjuk rasa sejak pemerintah melarang pertemuan politik lebih dari empat orang pekan lalu.

Sebuah grup yang dimulai oleh Free Youth, salah satu perkumpulan aksi utama, memiliki 200.000 pengikut di Telegram sesaat setelah diluncurkan.

Pihak berwenang Thailand meresponsnya dengan memerintahkan penyedia internet memblokir aplikasi tersebut.

Banyak orang Thailand bergabung ke Telegram sebagai pengamat, tapi anggota yang aktif menggunakan sarana tersebut untuk menyusun strategi - mulai dari menentukan tempat demonstrasi hingga saling memberi informasi soal keberadaan polisi.

Seperti pengunjuk rasa Hong Kong, aktivis Thailand mengambil keputusan dalam pemungutan suara.

Pada Senin (19/10), halaman utama Facebook Free Youth meminta pendapat para pendukungnya tentang apakah mereka harus istirahat.

Jika mereka memilih istirahat, mereka diminta membalas dengan emotikon "care". Jika mereka mau lanjut demo, mereka diminta membalas dengan emotikon "wow."

Para pengguna memutuskan untuk terus maju berdemo.

Para pengunjuk rasa Thailand sekarang mencoba untuk "tetap sedatar mungkin, membuat kepemimpinan terbuka yang dapat digantikan," kata Aim Sinpeng, seorang ilmuwan politik di Universitas Sydney.

"Ini sangat berbeda dari protes di masa lalu di Thailand, yang cenderung dipersonalisasi di sekitar para pemimpin yang sering kali merupakan orang-orang berpengaruh."

Penggunaan tagar #everybodyisaleader (semua adalah pemimpin) telah berkembang di media sosial dalam beberapa hari terakhir, sebagai upaya untuk "memulai kembali gerakan ... untuk melindungi diri dari persekusi negara," kata Dr Aim, yang penelitiannya berfokus pada politik digital di Asia Tenggara.

Bahasa protes baru: Isyarat tangan dan 'telepon hutan'

Selama akhir pekan, bahasa baru berkembang di jalanan Kota Bangkok, hal yang sebelumnya terjadi juga di Hong Kong.

Untuk memberi tanda bahwa mereka membutuhkan helm, para aktivis mengangkat tangan dalam bentuk segitiga di atas kepala.

Dengan menyilangkan jari, mereka menunjukkan seseorang terluka.

Memutar jari telunjuk ke arah berlawanan arah jarum jam adalah peringatan untuk bubar.

https://twitter.com/suzu17_/status/1317399640224923648


Penggunaan isyarat tangan yang cerdas pertama kali dapat dilihat di Hong Kong. Isyarat itu sangat diperlukan bagi pengunjuk rasa yang berkomunikasi di antara kerumunan besar.

Aktivis Thailand telah mengadopsi penggunaan isyarat tangan ini serta membuat sinyal lokal yang dibagikan melalui infografis di media sosial.

Sejak pengeras suara mereka disita, para aktivis menggunakan metode komunikasi inovatif lainnya, kata Wasana Wongsurawat, seorang profesor sejarah di Universitas Chulalongkorn.

Pada sebuah protes di Bangkok pada Sabtu (17/10), dia menyaksikan para aktivis menyebarkan apa yang dia gambarkan sebagai "telepon hutan" untuk memberi tanda kedatangan polisi atau meminta alat-alat yang dibutuhkan, seperti payung bagi mereka yang berada di garis depan protes.

"Seseorang akan berteriak 'meriam air datang'. Kemudian orang-orang di kerumunan itu mulai mengulangi kalimat itu. Dalam dua menit, pesan tersebut menyebar dari satu sisi demonstrasi ke sisi lainnya, "kata Dr Wasana kepada BBC.

Ia menambahkan protes itu dibubarkan sebelum peralatan itu tiba.

Melampaui batas: #StandWithThailand

Aksi protes di Thailand dan Hong Kong berakar pada masalah lokal yang berbeda, namun para aktivis melihat kesamaannya.

Di Thailand, para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, mantan pemimpin kudeta yang menjadi perdana menteri tahun lalu setelah pemilihan umum, yang hasilnya disengketakan.

Mereka juga mendesak reformasi monarki yang kuat di negara itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya pada lembaga yang dilindungi dari kritik hukum itu.

Di Hong Kong, para aktivis juga menuntut pengunduran diri pemimpin mereka, Kepala Eksekutif Carrie Lam. Demonstran menuntut hak pilih universal dan memprotes meningkatnya pengaruh Beijing dalam urusan wilayah semi-otonom.

Di kedua tempat tersebut, para juru kampanye demokrasi melihat perjuangan politik mereka sama-sama terjadi di era baru demonstrasi.

https://m.facebook.com/TH4HK/photos/a.135346541244184/360602085385294/?type=3&source=48

Awal tahun ini mereka menjuluki diri mereka Aliansi Teh Susu (Milk Tea Alliance) - koalisi daring lepas dari aktivis Thailand, Hong Kong dan Taiwan - mengacu pada minuman klasik yang populer di ketiga tempat tersebut.

Para pemimpin protes Thailand sering mengatakan gerakan Hong Kong telah menginspirasi mereka.

Aktivis Hong Kong telah menyatakan solidaritas mereka, menawarkan tips tentang pakaian pelindung saat demo, menjaga keamanan internet, hingga cara pertolongan pertama.

Aktivis Hong Kong terkemuka Joshua Wong secara teratur merilis cuitan untuk mendukung gerakan Thailand dengan tagar #StandWithThailand.

Pekan lalu dia menulis: "Orang tidak perlu takut pada pemerintah mereka. Hanya pemerintah yang harus takut pada rakyatnya. "


Generasi baru pengunjuk rasa di Thailand dan Hong Kong sangat menonjol karena usia mereka yang muda dan keterampilan mereka dalam memanfaatkan teknologi modern.

"Budaya protes di Thailand pada tahun 2020 adalah budaya protes dari internet natives [warga internet asli]," kata Dr Wasana, merujuk pada mahirnya para aktivis dalam menyebarkan pesan mereka di media sosial.

Dengan mengadaptasi pedoman demonstrasi di Hong Kong, para aktivis berharap dapat mempertahankan gerakan mereka.

"Tidak ada contoh lain di mana anak-anak sekolah menengah dan perguruan tinggi melawan meriam air dan gas air mata dalam jangka waktu yang lama," tambah sejarawan itu.

Seluruh cara berdemonstrasi sedang bergeser di seluruh Asia Tenggara, kata Bridget Welsh, honorary research associate di Universitas Nottingham di Malaysia.

Aktivis demokrasi di Thailand dan Hong Kong, serta negara-negara seperti Indonesia dan Malaysia, "beradaptasi dengan otoritarianisme yang tumbuh di dunia global" dengan taktik yang berubah cepat, yang memanfaatkan kekuatan teknologi dan representasi visual.

Reportase tambahan oleh Thanyarat Doksone dan Grace Tsoi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Bos Gudang Garam Ungkap Beratnya Cukai Rokok: Jual Rp26.000, Setor ke Negara Rp19.000

Bos Gudang Garam Ungkap Beratnya Cukai Rokok: Jual Rp26.000, Setor ke Negara Rp19.000

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 11:03 WIB

Tidur Sekasur tapi Rasanya Seperti Teman Sekamar? Kenali 5 Tanda Pernikahan Sedang Sekarat

Tidur Sekasur tapi Rasanya Seperti Teman Sekamar? Kenali 5 Tanda Pernikahan Sedang Sekarat

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 11:03 WIB

Demi Makan, Jutaan Orang Rela Kerja ke Sini Meski Terancam Tewas Terbunuh

Demi Makan, Jutaan Orang Rela Kerja ke Sini Meski Terancam Tewas Terbunuh

News | Senin, 14 September 2026 | 11:01 WIB

Peta Mobil Terlaris Terbaru Agustus 2026: Tahta Zenix Digusur, Daihatsu Gran Max Puncak

Peta Mobil Terlaris Terbaru Agustus 2026: Tahta Zenix Digusur, Daihatsu Gran Max Puncak

Otomotif | Senin, 14 September 2026 | 11:00 WIB

7 Cara Mengetahui Apakah Suatu Lipstik Mengandung Timbal, Waspadai Ciri Ini

7 Cara Mengetahui Apakah Suatu Lipstik Mengandung Timbal, Waspadai Ciri Ini

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:59 WIB

Gofar Hilman Bongkar Realita Pahit Harga Bensin, Bikin Penduduk Indonesia Elus Dada

Gofar Hilman Bongkar Realita Pahit Harga Bensin, Bikin Penduduk Indonesia Elus Dada

Entertainment | Senin, 14 September 2026 | 10:56 WIB

Sudah Lewat Delapan Gubernur, Pramono Targetkan Jalan Tembus Pasar Minggu Tuntas 2027

Sudah Lewat Delapan Gubernur, Pramono Targetkan Jalan Tembus Pasar Minggu Tuntas 2027

News | Senin, 14 September 2026 | 10:54 WIB

Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin

Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin

Jawa Tengah | Senin, 14 September 2026 | 10:52 WIB

7 Cara Efektif Mencegah Nyamuk Masuk Rumah, Sederhana tapi Sering Dilupakan

7 Cara Efektif Mencegah Nyamuk Masuk Rumah, Sederhana tapi Sering Dilupakan

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 10:51 WIB

Kelangkaan BBM Meluas, IESR Sebut Ketahanan Energi Cuma di Atas Kertas

Kelangkaan BBM Meluas, IESR Sebut Ketahanan Energi Cuma di Atas Kertas

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:49 WIB

×