- Cukai Rp19.000 dari rokok legal Rp26.000 per bungkus.
- Penjualan Gudang Garam turun 7,2% menjadi Rp41,7 triliun.
- Rokok ilegal Rp12.000-Rp15.000 kian menekan daya saing produk legal.
Suara.com - PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menghadapi tekanan berat di tengah tingginya beban cukai dan maraknya peredaran rokok ilegal. Harga rokok legal yang semakin sulit bersaing membuat penjualan perseroan ikut tertekan.
Direktur Gudang Garam Heru Budiman mengatakan, untuk satu bungkus Sigaret Kretek Mesin (SKM) isi 12 batang yang dijual Rp26.000, sekitar Rp19.000 langsung disetor kepada pemerintah sebagai cukai.
"Rokok SKM 12 batang, cukai yang kita bayarkan adalah Rp19.000. Jadi sekarang GGRM ini, hari ini kita menjual rokok kita di Rp26.000. Jadi bisa diistilahkan mengambil duitnya konsumen Rp26.000, saya setor cukai Rp19.000," ujar Heru dalam Public Expose 2026, yang dikutip Senin (14/9/2026).
Dengan demikian, Gudang Garam hanya memperoleh hasil penjualan bersih sekitar Rp7.000 sebelum dikurangi biaya lainnya. Di sisi lain, rokok ilegal dapat dijual sekitar Rp12.000-Rp15.000 per bungkus karena tidak dibebani cukai.
Kondisi tersebut membuat produk legal semakin sulit bersaing, terutama di tengah konsumen berpenghasilan rendah yang sensitif terhadap harga.
Direktur Gudang Garam Istata Tasin Siddharta bahkan mengakui perusahaan belum merasakan dampak positif yang signifikan dari intensifikasi pemberantasan rokok ilegal terhadap operasional perseroan.
Tekanan pasar tercermin dari volume penjualan Gudang Garam yang turun dari 112,8 miliar batang menjadi 105,1 miliar batang pada semester I-2026. Penjualan SKM juga merosot 8,8% menjadi 65,4 miliar batang.
Pendapatan bersih perseroan ikut turun 7,2% menjadi Rp41,7 triliun dari Rp44,37 triliun pada periode sebelumnya.
Meski demikian, Gudang Garam masih mampu mencetak laba bersih Rp2,98 triliun setelah memangkas beban operasional hingga 33,8%.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah tetap mengandalkan penerimaan cukai. Kementerian Keuangan mencatat penerimaan cukai hingga Juli 2026 mencapai Rp130,7 triliun atau 53,6% dari target APBN sebesar Rp243,53 triliun.