Dilema Pedagang Jeruk Nipis di Banyuwangi: Dibuang Sayang, Dijual Tak Laku

Siswanto Suara.Com
Selasa, 09 Maret 2021 | 12:41 WIB
Dilema Pedagang Jeruk Nipis di Banyuwangi: Dibuang Sayang, Dijual Tak Laku
Salah seorang pedagang membuang jeruk nipis di tempat sampah, karena kondisinya rusak dan busuk. (Beritajatim/rindi)

Suara.com - Sebagian pedagang dan petani jeruk nipis di Banyuwangi, Jawa Timur, menghadapi dilema karena jumlah hasil panen yang melimpah, tetapi tidak sebanding dengan tingkat penjualan, ditambah lagi harga jual yang sangat murah: Rp500 per kilogram. 

Sebagian pedagang dan petani terus menerus mengalami kerugian.

Robet Saputra, salah seorang pedagang dan pengepul di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, yang ditemui jurnalis Beritajatim.com, baru-baru ini, menceritakan keadaan tak menguntungkan yang dialami pedagang pada umumnya.

Pedagang dan pengepul seperti Robet biasanya tergantung pada tengkulak besar.

Ketika persediaan jeruk nipis banyak, sementara tengkulak besar tidak segera datang untuk mengambilnya, maka akan terjadi penumpukan.  

Penumpukan jeruk nipis yang terjadi terlalu lama akan membuatnya rusak dan sudah pasti kualitasnya menurun, harganya pun ikut terpengaruh.

"Kemudian kita akan sortir lagi, sisanya kita buang," kata Robet.

Mereka menghadapi dilema. Jeruk nipis itu dibuang sayang, tetapi dijual tidak laku.

“Kadang membuang saja kita itu susah. Di tempat sampah belakang rumah sudah penuh. Kadang kita berikan ke orang kalau ada yang mau terserah tinggal ambil. Kalau sudah begini dimakan nggak bisa, dibuat minuman juga terlalu banyak. Jalan satu-satunya ya dibuang saja.”

Baca Juga: Lahan Terdampak Banjir, Petani di Tuban Bisa Dapat Ganti Rugi dari AUTP

Dalam foto-foto hasil liputan tentang persoalan yang dihadapi pedagang jeruk nipis yang dimuat Beritajatim.com terlihat, beberapa di antara mereka membuang karung berisi jeruk nipis yang kualitasnya menurun ke tempat sampah.

Penurunan harga jeruk nipis, kata Robet, terjadi karena jumlah pembelian di pasar pengiriman yang menurun.  Faktor cuaca juga ikut menentukan.

“Di sini jumlah panennya juga banyak. Pasar tidak mampu menampung. Apalagi banyak lokasi pengiriman saat ini hujan deras dan banjir. Sehingga pembelian juga ikut turun,” katanya.

Petani jeruk nipis bernama Rumini akhirnya lebih memilih membiarkan saja buah jeruknya jatuh dari pohon daripada memetiknya.

“Harga jeruknya murah, panennya susah banyak durinya. Kalau malas ya kita biarkan saja jatuh di pohon,” kata dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI