Cerita dari Afghanistan: Jika Tak Dilawan, Mereka Larang Musik Sepenuhnya

Siswanto, BBC

Senin, 15 Maret 2021 | 12:36 WIB
Cerita dari Afghanistan: Jika Tak Dilawan, Mereka Larang Musik Sepenuhnya
BBC

Suara.com - "Musik adalah bagian besar dari budaya Afghanistan. Jika pelarangan berlanjut dan para perempuan muda dilarang bernyanyi, maka kami akan kehilangan bagian dari budaya Afghanistan," kata pianis konser Maram Atayee.

Remaja berusia 18 tahun dari Kabul itu adalah anggota orkestra Zohra yang semuanya perempuan. Ia kini belajar di Institut Musik Nasional Afghanistan.

Seperti banyak anak muda Afghanistan, dia khawatir dengan arahan kementerian pendidikan baru-baru ini, yang melarang perempuan berusia di atas 12 tahun bernyanyi di depan umum ketika ada laki-laki.

Tanda peringatan

"Hari ini mereka melarang perempuan muda menyanyi - jika kami tidak melawan, mereka akan melarang musik sepenuhnya," kata Maram kepada BBC.

Ketakutannya bukan tanpa alasan - larangan tersebut membawa kembali kenangan menyakitkan semasa kekuasaan Taliban antara tahun 1996 dan 2001.

Para militan percaya pada bentuk Islam yang keras, yang melihat bahwa musik tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan mereka sama sekali melarangnya.

"Itu sangat mengejutkan dan menyedihkan. Saya tidak menyangka orang akan melakukan ini di tahun 2021," katanya.

Peluang

Maram bergabung dengan orkestra Zohra empat tahun lalu dan mereka telah tampil dalam konser di banyak negara, termasuk Pakistan, India, China, Portugal, Azerbaijan, Inggris, Swedia, Slovakia dan Australia.

Peluang seperti ini sangat jarang bagi anak perempuan yang tumbuh di negara yang dilanda perang saudara selama empat dekade.

baca juga

"Orkestra memberi kami kesempatan untuk melihat dunia, bermain dengan musisi lain, dan merasakan budaya yang berbeda," kata Maram.

Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita sekitar $ 500 (Rp7,1 juta) per tahun, dan jumlah perempuan yang bisa membaca di bawah 30 persen.

Keluhan-keluhan

Kementerian pendidikan mengatakan mereka mengambil keputusan tersebut setelah menerima keluhan dari orang tua, yang mengatakan pendidikan anak perempuan mereka terganggu oleh kegiatan bermusik yang mereka ikuti.

"Ini tidak masuk akal," kata Dr Ahmad Sarmast yang gelisah dengan persoalan itu. Dia adalah orang yang mendirikan orkestra Zohra pada 2015 dan Institut Musik Nasional Afghanistan pada 2010.

"Bahkan jika ada keluhan dari beberapa orang tua, itu tidak bisa menjadi alasan untuk membungkam semua perempuan muda Afghanistan," katanya kepada BBC.

Menyusul protes terhadap larangan tersebut, kementerian pendidikan Afghanistan mengeluarkan klarifikasi pada hari Kamis (11 Maret) yang mengatakan anak-anak sekolah dasar dapat berpartisipasi dalam kegiatan bernyanyi jika mendapat izin dari keluarga mereka.

Kebebasan berekspresi

Pemerintah mengatakan mereka yang melanggar arahan ini akan ditangani sesuai dengan aturan hukum, tetapi tidak menyebutkan tindakan hukuman apa pun.

Dr Sarmast telah memulai kampanye daring menentang larangan tersebut.

"Saya mendesak orang-orang untuk merekam dan mengunggah lagu untuk menyuarakan perlawanan mereka," katanya.

Dr Sarmast lolos dari kematian pada tahun 2014, ketika seorang pelaku bom bunuh diri Taliban meledakkan dirinya hanya beberapa meter darinya, saat dia tengah menonton drama yang dipentaskan oleh murid-muridnya di Kabul.

Dia kehilangan pendengaran di satu telinga dan harus menjalani beberapa operasi untuk mengeluarkan pecahan peluru dari kepalanya. Namun, dia masih mendedikasikan diri untuk bidang yang sama.

"Para perempuan muda Afghanistan harus bisa bebas berekspresi lewat musik," katanya.

Komisi Hak Asasi Manusia Independen negara itu telah bergabung menentang langkah pemerintah itu.

"Hak atas pendidikan, kebebasan berekspresi dan akses ke keterampilan artistik adalah hak dasar semua anak," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dr Sarmast sangat mengkhawatirkan masa depan.

"Ini adalah upaya untuk membatasi perempuan dan anak perempuan secara sosial. Jika kita tidak menghentikan ini, lebih banyak pembatasan akan diberlakukan," katanya.

Perwakilan pemerintah Afghanistan saat ini sedang merundingkan kesepakatan damai dengan Taliban, yang dapat mengarah pada pembagian kekuasaan dengan militan dan penarikan pasukan Amerika.

Taliban didorong keluar oleh invasi militer pimpinan Amerika pada akhir 2001. Tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk menghidupkan kembali musik Afghanistan.

Perjuangan awal

Kompetisi musik di televisi sekarang sangat populer di Afghanistan dan lagu-lagu, dari Turki hingga Bollywood dan sekitarnya, dapat didengar di radio.

Tetapi penolakan terhadap musik tidak memudar sepenuhnya dengan jatuhnya Taliban.

"Hanya orang yang sangat kuat yang bisa menjadi penyanyi atau musisi di Afghanistan," kata Maram. Dia memahami itu dari pengalaman.

Kakek-nenek Maram menentang musik, begitu pula orang tuanya pada awalnya.

Namun setelah pindah ke Mesir pada tahun 2000, penentangan orangtuanya berkurang.

Maram lahir pada tahun 2002 di Kairo dan mulai belajar piano saat berusia lima tahun.

Dia tampil di konser pertamanya pada usia enam tahun. Perjalanan musik Maram mengalami gangguan ketika keluarganya pindah kembali ke Kabul ketika dia berusia 13 tahun.

"Ketika saya datang ke sini semuanya berubah. Ayah saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami jika saya melanjutkan musik saya," kata Maram.

Ayahnya bahkan memintanya untuk berhenti bermain piano di rumah.

Cinta pada piano

Maram merasa sulit untuk menurut.

"Saya benar-benar tidak tahu betapa berharganya musik bagi saya, hingga saya datang ke Afghanistan. Di sini orang dan budayanya berbeda. Ada begitu banyak kesulitan," kata Maram. "Satu-satunya hal yang tetap sama adalah musik saya."

Dia menghubungi Dr Sarmast dan dia membantunya mendapatkan izin dari ayahnya untuk bermain piano dua kali seminggu.

"Dua jam itu paling penting bagi saya. Saya tidak pernah ingin meninggalkan piano," kata Maram.

Dia segera bergabung dengan sekolah musik dan orkestra yang dia dirikan, dan menjadi pianis pada usia 14 tahun.

"Memilih musik adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Saya menjadi lebih dewasa dan guru saya mengatakan saya adalah panutan yang baik."

Dia mengatakan timnya menginspirasi banyak pelajar untuk mempelajari musik.

Mimpi yang tinggi

Maram sekarang menghabiskan sebanyak delapan jam sehari untuk berlatih piano dan dia ingin melanjutkan studinya.

"Tidak ada perguruan tinggi di Afghanistan yang menawarkan gelar di bidang musik, jadi saya ingin pergi ke luar negeri," katanya.

Dia khawatir langkah terbaru pemerintah bisa menghancurkan aspirasi banyak orang. Untungnya dia mendapat dukungan penuh dari orang tuanya dan dia memiliki tujuan yang jelas.

"Saya ingin menjadi perempuan Afghanistan pertama yang melakukan konser piano solo di seluruh dunia."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

YE (Kanye West) Siap Guncang GBK Oktober 2026, Jadi Satu-satunya Kota di Asia Tenggara

YE (Kanye West) Siap Guncang GBK Oktober 2026, Jadi Satu-satunya Kota di Asia Tenggara

Entertainment | Rabu, 29 Juli 2026 | 20:38 WIB

Menolak Punah: Komunitas Menjadi Benteng Utama Karya Musik dan Buku Indie

Menolak Punah: Komunitas Menjadi Benteng Utama Karya Musik dan Buku Indie

Your Say | Selasa, 28 Juli 2026 | 07:35 WIB

Membedah Lirik "Pura-Pura Hidup Lagi" Aruma: Validasi untuk Kamu yang Sedang Lelah Berjuang

Membedah Lirik "Pura-Pura Hidup Lagi" Aruma: Validasi untuk Kamu yang Sedang Lelah Berjuang

Your Say | Senin, 27 Juli 2026 | 12:15 WIB

Mengintip Inovasi Teknologi Audio yang Bikin Pengalaman Nonton Konser Naik Kelas

Mengintip Inovasi Teknologi Audio yang Bikin Pengalaman Nonton Konser Naik Kelas

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 05:35 WIB

Bukan Sekadar Nostalgia, Timeless Project Live Ajak Generasi 2000-an Merayakan Perjalanan Hidup

Bukan Sekadar Nostalgia, Timeless Project Live Ajak Generasi 2000-an Merayakan Perjalanan Hidup

Entertainment | Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:41 WIB

iForte dan Protelindo Group Luncurkan Lagu "Cahaya Hati", Kolaborasi dengan Raisa & Eross Candra

iForte dan Protelindo Group Luncurkan Lagu "Cahaya Hati", Kolaborasi dengan Raisa & Eross Candra

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 09:25 WIB

Cara Beli Tiket Latihan Pestapora Makassar di BRImo, Nikmati Promo Cashback hingga Lucky Toss

Cara Beli Tiket Latihan Pestapora Makassar di BRImo, Nikmati Promo Cashback hingga Lucky Toss

News | Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:24 WIB

Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan

Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 22:28 WIB

Bukan Cuma Nonton Konser Musik, Ini 3 Destinasi Wajib Mampir Saat Kamu ke Jazz Gunung Bromo 2026

Bukan Cuma Nonton Konser Musik, Ini 3 Destinasi Wajib Mampir Saat Kamu ke Jazz Gunung Bromo 2026

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:08 WIB

Didukung Bebi Romeo dan Once Mekel, Janner Clay Siahaan Rilis 6 Karya Sekaligus

Didukung Bebi Romeo dan Once Mekel, Janner Clay Siahaan Rilis 6 Karya Sekaligus

Entertainment | Selasa, 21 Juli 2026 | 19:41 WIB

Terkini

BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan

BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan

Sumsel | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:40 WIB

Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI

Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:16 WIB

Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional

Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:16 WIB

Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total

Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:06 WIB

Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi

Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:57 WIB

Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?

Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?

Bogor | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:37 WIB

Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak

Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:28 WIB

Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus

Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:27 WIB

Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler

Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:23 WIB

Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:22 WIB

×