alexametrics

Sarah Gilbert, Penemu Vaksin AstraZeneca yang Menolak Hak Paten Penuh

Reza Gunadha | Rima Suliastini
Sarah Gilbert, Penemu Vaksin AstraZeneca yang Menolak Hak Paten Penuh
Sarah Gilbert, penemu vaksin AstraZeneca. (Instagram @swartzswartzlaw)

Sarah Gilbert tak menerima keuntungan sehingga biaya vaksinnya lebih terjangkau.

Suara.com - Beberapa waktu lalu, video sambutan penonton Wimbledon pada Sarah Gilbert viral di media sosial. Dr Gilbert dianggap berkontribusi pada dunia hingga pantas diberi standing applause.

Menyadur The Star Rabu (21/07), Sarah Gilbert adalah salah satu ilmuwan yang berhasil menemukan vaksin Covid-19. Melalui AstraZeneca, ia telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.

Meskipun penemu vaksin, peneliti Universitas Oxford ini menolak mematenkan vaksinnya secara penuh. Ia hanya ingin mendapat royalti atas kerja kerasnya selama ini.

“Sebagai orang yang menemukan vaksin yang sangat dibutuhkan sekarang, saya bisa meraup untung besar. (Tapi) saya menolak untuk mematenkan vaksin selain (mendapatkan) royalti atas kerja keras ini."

Baca Juga: Curhat Suami di Sulut soal Istrinya Meninggal Usai 10 Hari Disuntik Vaksin AstraZeneca

"Saya tidak ingin mengajukan paten penuh karena saya ingin berbagi manfaat intelektual dengan siapa pun yang dapat memproduksi vaksin mereka sendiri," katanya dalam laporan mStar.

Sarah Gilbert mendapatkan Standing Ovation di Wimbledon [TikTok]
Sarah Gilbert mendapatkan Standing Ovation di Wimbledon [TikTok]

Sesuai keinginannya, Oxford dan AstraZeneca sepakat tidak mengambil untung sehingga biaya vaksin AstraZeneca hanya sekitar USD 4 (Rp 58 ribu) per dosis, jauh lebih murah dari vaksin lainnya.

Vaksin AstraZeneca juga dikatakan memiliki tingkat keampuhan hingga 92% dan efektif terhadap varian Delta.

Dr Gilbert, 59, telah menjadi yang terdepan dalam penelitian vaksin melawan patogen dan virus sepanjang karirnya, terutama di abad ke-21.

Lulusan University of East Anglia dan University of Hull ini sebelumnya membantu penelitian dan pengembangan vaksin melawan Ebola dan MERS, menurut laporan tersebut.

Baca Juga: Wow! Ada Ilmuwan Indonesia Dibalik Vaksin AstraZeneca

Komentar