alexametrics

RS Paru Hadapi Sejumlah Masalah: dari Obat Antivirus, Oksigen sampai Baju Hazmat

Siswanto
RS Paru Hadapi Sejumlah Masalah: dari Obat Antivirus, Oksigen sampai Baju Hazmat
ilustrasi dokter dan perawat [shutterstock]

Sigit mengungkapkan RS Paru yang dikelolanya sekarang membutuhkan obat antivirus. Obat ini, kata dia, sangat susah didapatkan.

Suara.com - Sejumlah persoalan dialami Rumah Sakit Paru, Kabupaten Jember, Jawa Timur, di tengah pandemi Covid-19. Di tengah permasalahan yang terjadi, mereka harus tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

Apa saja persoalan yang dihadapi? Direktur RS Paru Sigit Kusuma Jati dalam laporan Beritajatim, menyebutkan, "Pertama, saat ini berbeda dengan satu tahun lalu. Beban kami ketika saya menambah layanan Covid dan menutup non-Covid, jujur cash flow rumah sakit terganggu, karena klaim (biaya pengobatan) Covid tidak selancar yang dibayangkan. Kami melayani tidak langsung dibayar. Masih menunggu beberapa bulan, bahkan sembilan bulan pun klaim belum cair.” 

Sigit mengungkapkan RS Paru yang dikelolanya sekarang membutuhkan obat antivirus. Obat ini tergolong susah didapatkan dan Sigit mesti berjuang untuk mendapatkannya.

“Antivirus begitu susahnya. Penggunaannya harian. Hari ini terpakai, besok saya harus menelepon Dinas Kesehatan Provinsi untuk minta droping lagi. Kadang saya harus mengambil sendiri ke Surabaya, karena memang susah,” kata Sigit.

Baca Juga: Warga Kaliglagah Tak Mau Keluar karena Takut Divaksin, Bupati Hendy sampai Datang

RS Paru juga mengalami keterbatasan persediaan oksigen, padahal sangat dibutuhkan. “Sehingga kami harus hati-hati menggunakannya,” kata Sigit.

RS Paru memiliki persediaan oksigen cair yang biasanya diisi setiap dua minggu sekali, tetapi sekarang harus diisi setiap hari. Hal itulah yang membuat Sigit cemas.

“Kami waswas, kalau hari ini diisi, apakah besok PT. Samator mampu mengisi lagi. Itu yang kadang bikin kami cemas,” kata Sigit.

RS Paru juga mengalami kesulitan mendapatkan baju hazmat (hazardous material). “Kalau persediaan, stok kami bisa sampai dua bulan. Tapi kalau saya tidak berpikir stok tiga bulan, sangat berisiko karena bisa 200 hazmat yang terpakai per harinya,” katanya.

Selain susah mendapatkan hazmat, menurut Sigit, harganya relatif mahal. “Satu hazmat kurang lebih Rp140 ribu. Dari sisi kemampuan keuangan, ini menyulitkan rumah sakit,” kata Sigit.

Baca Juga: Bupati Jember Turun Tenangkan Warga Kaliglagah yang Mulai Ketakutan Hadapi Covid

Komentar