Ledakan Covid-19 di Luar Jawa - Bali Diperkirakan Terjadi Akhir 2021

Reza Gunadha | BBC | Suara.com

Senin, 09 Agustus 2021 | 13:45 WIB
Ledakan Covid-19 di Luar Jawa - Bali Diperkirakan Terjadi Akhir 2021
ILUSTRASI - Warga berolahraga di Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Minggu (31/5). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Ledakan jumlah positif covid-19 di luar Pulau Jawa - Bali diprediksi bakal terjadi akhir tahun 2021. Selain itu, gelombang pasang pandemi itu disebut bakal lebih buruk dari Jawa - Bali.

Kondisi tersebut disebabkan kompleksitas geografis di Indonesia, infrastruktur layanan kesehatan minim, jumlah tenaga kesehatan sedikit, dan persoalan sosial yang masih tidak memercayai virus corona.

Karena itulah pemerintah Indonesia didesak untuk segera memperketat mobilitas masyarakat demi mencegah terjadinya "survival of the fittest" di wilayah pedalaman.

Lembaga pemantau Covid, Lapor Covid-19, menyebutkan peningkatan kasus infeksi virus corona tidak hanya terjadi di lima provinsi seperti yang dikatakan Presiden Jokowi yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Papua, dan Riau.

Tapi lonjakan kasus sudah merembet ke provinsi lain di antaranya Sumba Timur dan Maumere di Nusa Tenggara Timur; Sumbawa dan Lombok di Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tengah.

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Donie Riris Andono, berkata ledakan kasus Covid-19 di luar Pulau Jawa-Bali merupakan peristiwa yang sudah terprediksi lantaran pemerintah tidak bersungguh-sungguh menghentikan mobilitas masyarakat ketika Jawa dan Bali mengalami puncak Covid-19 pada Juli lalu.

Sehingga menurut Donie, ledakan infeksi virus corona di pulau-pulau lain akan terjadi secara beruntun dengan kondisi yang lebih buruk.

"Karena infrastruktur layanan kesehatan tidak sebaik Pulau Jawa, tenaga kesehatan tak sebanyak di Jawa. Jadi itu akan memengaruhi. Belum lagi nanti salah satu masalahnya kelangkaan oksigen yang terkait dengan jalur distribusi," ujar Donie Riris Andono kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (08/08).

Imbas dari kondisi itu, sambungnya, orang-orang akan kesulitan mencari dan mendapatkan rumah sakit sehingga angka kematian sudah pasti melonjak.

"Makanya pemerintah harus menyiapkan rumah sakit tambahan, membangun shelter berbasis komunitas, dan memperketat PPKM."

BBC Indonesia berusaha meminta tanggapan kepada pemerintah, tetapi hingga berita ini diterbitkan pada Senin (09/08) permintaan kami belum ditanggapi.

Namun dalam Rapat Evaluasi PPKM level 4 Sabtu lalu, Presiden Jokowi meminta para kepala daerah membatasi mobilitas masyarakat merujuk pada ledakan kasus positif di lima provinsi

'Gelombang ledakan Covid di luar Jawa terjadi hingga akhir tahun'

Sejalan dengan Donie, salah satu inisiator LaporCovid-19, Ahmad Arif, memperkirakan gelombang ledakan Covid-19 di luar Jawa dan Bali akan terjadi hingga akhir tahun.

Namun begitu, kata dia, angka resmi kematian di rumah sakit akan lebih rendah daripada di luar rumah sakit karena terlambat ditangani akibat termakan hoaks "takut di-Covid-kan oleh rumah sakit".

"Problem yang kami khawatirkan terjadi under reported kasus dan kematian karena mereka walau sudah sakit belum tentu mau ke rumah sakit," imbuh Ahmad Arif.

"Nah ini seolah-olah kasus relatif kecil, angka kematian relatif kecil, tapi total kematian sangat tinggi. Ini yang perlu diantisipasi."

Itu mengapa ia sangat berharap pemerintah pusat maupun daerah segera memperketat pergerakan masyarakat untuk mencegah wabah ini masuk ke daerah-daerah pedalaman yang sangat terbatas fasilitas kesehatannya.

"Jangan sampai masyarakat pedalaman menghadapi survival of the fittest, orang yang selamat yang memiliki daya tahan tubuh yang baik dan itu tidak akan terdata jumlah kasus dan kematian."

Sejauh ini Lapor Covid-19 menerima aduan soal kelangkaan oksigen dari warga dan tenaga kesehatan di sejumlah daerah seperti Kota Jayapura di Papua; Lombok dan Sumbawa di NTB; dan Kalimantan Tengah.

Permintaan oksigen ini, kata Ahmad Arif, mengindikasikan terjadinya ledakan kasus di wilayah perkotaan dan akan menjadi permasalahan yang rumit lantaran sumber produksi oksigen di luar Jawa sangat terbatas.

Untuk mengirim ke luar pulau pun, ujarnya, tidak mudah.

"Saya membayangkan ini akan menjadi persoalan berat di daerah-daerah yang infrastruktur medisnya terbatas."

Seperti apa ketersediaan oksigen di daerah?

Seorang warga Samarinda, Kalimantan Timur, Mirna, bercerita ia sekeluarga positif terinfeksi Covid-19 dua pekan lalu.

Tapi sebelum divonis Covid-19, Mirna dan suaminya sempat berobat ke "mantri" namun tidak kunjung sembuh. Karena itulah ia dan suaminya memeriksakan diri ke klinik.

"Diperiksa di IGD dokter bilang dari gejala mengarah ke Covid-19. Setelah di-swab, hasilnya positif."

Mirna sekeluarga memilih isolasi mandiri di rumah. Tapi kondisi sang suami makin menurun.

"Di rumah bapak sesak napas."

Mirna lalu meminta anaknya yang lebih dahulu sembuh untuk mencari oksigen di lima lokasi, tapi hasilnya nihil.

"Cari ke apotek dan toko-toko oksigen semua kosong. Jangankan oksigen, tabungnya saja susah dapat," ujar Mirna kepada wartawan Lamanele yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Sebagai ganti oksigen, Mirna membuat uap dari air rebusan untuk melancarkan pernapasan sang suami lantaran kondisinya terus memburuk.

"Uap air panas saya fokuskan ke rongga hidung ditambahkan minyak kayu putih."

Mirna juga berkata, tak cuma oksigen yang langka, obat-obatan yang diresepkan dokter juga sama. Kalaupun ada, harganya sangat mahal.

"Ada namanya obat Oseltamivir kami cari harganya Rp300.000. Tapi kami tak dapat sampai sekarang. Selain mahal, obat ini langka di sejumlah apotek."

Gara-gara obat langka, Mirna beralih ke obat-obatan herbal yang dikirim kerabatnya.

Setelah dua pekan kini kondisi dirinya dan suaminya mulai membaik meski belum pulih sepenuhnya. Karena itu, ia berharap pemerintah segera menyediakan obat dan oksigen.

"Obat dan oksigen itu paling dibutuhkan. Kami harap pemerintah bisa penuhi saat orang-orang dalam kondisi darurat."

Warga Samarinda lainnya, Ayi, juga mengalami kejadian serupa.

Sang ayah terinfeksi Covid-19 dan mengalami gejala berat, saturasi oksigen di bawah normal yakni 80%. Ia lalu membawa ayahnya ke rumah sakit, tapi ditolak karena penuh.

Selama perawatan di rumah, Ayi terus mencari-cari tabung oksigen, tapi tak ada yang tersisa. Hingga akhirnya meninggal 4 Agustus silam.

"Susah banget cari barangnya (tabung oksigen). Saya cari ke apotek Kimia Farma dan Promadika, semua tak ada."

Ayi berharap tidak ada lagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri meninggal gara-gara tidak kebagian tabung oksigen.

"Kalau kondisi begini terus, makin banyak yang tidak tertolong. Pasien isolasi mandiri di rumah cuma mengandalkan oksigen saja."

'Stok tabung oksigen di Medan habis sejak sebulan lalu'

Di Medan, Sumatera Utara, lebih dari lima toko yang menjual alat kesehatan kehabisan stok tabung oksigen medis.

Seorang pegawai toko Harumei, Zulkarnain, mengatakan stok tabung oksigen kosong sejak satu bulan lalu.

Kalaupun ada, kata dia, para penjual memilih menjual ke kalangan tertentu dengan harga "naik tajam". Untuk satu paket tabung oksigen kapasitas satu meter kubik berserta isi kini dijual seharga Rp4 juta. Padahal harga normalnya hanya sekitar Rp1 juta.

"Kosong. Semenjak angka Covid-19 kemarin naik, habis semua dibeli orang. Sudah bukan hitungan minggu lagi, sudah hampir sebulan ini kosong," kata Zulkarnain kepada wartawan Nanda Fahriza Batubara yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Atas kelangkaan ini, dia mengaku hanya bisa menunggu dan tidak bisa memastikan kapan stok di tokonya kembali normal. Sebab mencari stok tabung oksigen di tempat lain, juga nihil.

Kondisi yang sama juga dialami toko alat kesehatan Krakatau di Jalan Sutomo Ujung, Medan. Pegawai toko, Novi, menuturkan kelangkaan tabung oksigen sudah terjadi sejak sekitar sebulan lalu.

"Kosong. Sudah sejak lama kosong. Kami belum tahu kapan ada lagi stok," kata Novi.

Novi berkata, kini tokonya hanya melayani isi ulang oksigen dengan syarat harus dengan tukar unit tabung. Harga yang dipatok sebesar Rp50 ribu untuk kapasitas tabung satu meter kubik.

Ia mengakui harga satu paket tabung oksigen kini lebih mahal berkali lipat dari harga normal.

Apa yang akan dilakukan pemerintah?

Sebelumnya Presiden Jokowi mengatakan terjadi kenaikan signifikan di lima provinsi yakni Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Papua, Sumatera Barat, dan Riau.

Hingga 5 Agustus kemarin, kasus aktif di Kaltim telah mencapai 22.529, Sumut 21.876, Papua 14.489, Sumbar 14.496, Riau 13.958.

Pada Jumat, 7 Agustus 2021 angka kasus Covid-19 di Sumut melonjak naik jadi 22.892. Di Riau kasusnya juga bertambah jadi 14.493, dan di Sumbar meningkat jadi 14.712.

Jokowi meminta para kepala daerah merespon dengan cepat dengan membatasi mobilitas masyarakat.

"Kalau kasusnya gede seperti itu, aktivitas masyarakatnya direm. Yang paling penting gubernur harus tahu, Pangdam tahu. Mobilitas yang harus direm paling tidak 2 minggu," kata Jokowi, Sabtu (07/08).

Setelah itu, Jokowi meminta Panglima TNI untuk semakin menggencarkan pengetesan dan pelacakan. Jokowi menegaskan kedua hal tersebut sangat terkait dengan kecepatan, agar para pasien positif tidak berkeliaran dan menyebarkan virus.

Jokowi juga berpesan pada para kepala daerah untuk menyiapkan lokasi isolasi terpusat di wilayah masing-masing.

Berbagai sarana umum seperti sekolah, balai, gedung olahraga, ia minta dialihfungsikan jadi lokasi isolasi terpusat bila memang dibutuhkan.

Pemerintah sebelumnya memutuskan menerapkan Pembelakuan Pembatasan Mobilitas Masyarakat (PPKM) level 4 di 141 kabupaten/kota. Di luar Pulau Jawa, aturan pembatasan itu dilakukan di Kota Medan, Sumatera Utara; Padang, Sumatera Barat; Riau di Pekanbaru; empat kota/kabupaten di Sumatera Selatan.

Kemudian di Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung.

Di Kalimantan, pemberlakuan PPKM level 4 diterapkan di Kota Pontianak; Kalimantan Barat; dua kabupaten dan satu kota di Kalimantan Utara; Kota Mataram di NTB; Sikka, Sumba Timur, dan Kupang di NTT; dan Papua.

Penerapan PPKM level 4 akan berlangsung hingga 9 Agustus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rumah Sakit di Medan Dirikan Tenda Darurat Gegara Bed Pasien Covid-19 Penuh

Rumah Sakit di Medan Dirikan Tenda Darurat Gegara Bed Pasien Covid-19 Penuh

Sumut | Senin, 09 Agustus 2021 | 13:44 WIB

Kasus Covid-19 Mulai Turun, PPKM Level 4 Bakal Diperpanjang?

Kasus Covid-19 Mulai Turun, PPKM Level 4 Bakal Diperpanjang?

News | Senin, 09 Agustus 2021 | 13:42 WIB

Ahli Sebaran Penyakit UI Sarankan PPKM Kembali Diperpanjang, Apa Alasannya?

Ahli Sebaran Penyakit UI Sarankan PPKM Kembali Diperpanjang, Apa Alasannya?

Batam | Senin, 09 Agustus 2021 | 13:34 WIB

Warga Kota Bandung Sudah Lelah, Oded Minta PPKM Tak Diperpanjang

Warga Kota Bandung Sudah Lelah, Oded Minta PPKM Tak Diperpanjang

Jabar | Senin, 09 Agustus 2021 | 13:27 WIB

Perjuangan untuk Merdeka dari Pandemi COVID-19

Perjuangan untuk Merdeka dari Pandemi COVID-19

Video | Senin, 09 Agustus 2021 | 13:00 WIB

Kades di Malang Bantah Anaknya Gelar Dangdutan Langgar PPKM : Cuma Latihan

Kades di Malang Bantah Anaknya Gelar Dangdutan Langgar PPKM : Cuma Latihan

Malang | Senin, 09 Agustus 2021 | 13:14 WIB

Anak Jenuh Belajar saat PJJ, Ini Bantuan bagi Para Ibu untuk Memotivasi Mereka

Anak Jenuh Belajar saat PJJ, Ini Bantuan bagi Para Ibu untuk Memotivasi Mereka

Press Release | Senin, 09 Agustus 2021 | 12:53 WIB

PPKM Lanjut atau Tidak, Ini Pertimbangan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI

PPKM Lanjut atau Tidak, Ini Pertimbangan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI

Health | Senin, 09 Agustus 2021 | 12:53 WIB

Hari Ini PPKM Berakhir, Luar Jawa Alami Lonjakan Kasus Covid, Apakah Diperpanjang Lagi?

Hari Ini PPKM Berakhir, Luar Jawa Alami Lonjakan Kasus Covid, Apakah Diperpanjang Lagi?

Jatim | Senin, 09 Agustus 2021 | 12:47 WIB

Terkini

Kim Jong Un Terpilih Lagi Jadi Presiden Korut, Sang Adik Hilang Misterius

Kim Jong Un Terpilih Lagi Jadi Presiden Korut, Sang Adik Hilang Misterius

News | Senin, 23 Maret 2026 | 22:04 WIB

Momen Idulfitri, Prabowo Hubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas Bahas Solidaritas Bangsa

Momen Idulfitri, Prabowo Hubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas Bahas Solidaritas Bangsa

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:55 WIB

Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?

Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:55 WIB

Kabar Duka, Legislator 3 Periode NasDem Tamanuri Meninggal Dunia

Kabar Duka, Legislator 3 Periode NasDem Tamanuri Meninggal Dunia

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:53 WIB

Arus Balik Lebaran: Contraflow Tol Japek KM 70 Sampai KM 36 Arah Jakarta Berlaku Malam Ini

Arus Balik Lebaran: Contraflow Tol Japek KM 70 Sampai KM 36 Arah Jakarta Berlaku Malam Ini

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:48 WIB

Antisipasi Dinamika Global, Kemhan-TNI Siapkan Langkah Efisiensi BBM dan Skema 4 Hari Kerja

Antisipasi Dinamika Global, Kemhan-TNI Siapkan Langkah Efisiensi BBM dan Skema 4 Hari Kerja

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:41 WIB

Waspada, BMKG Sebut Jabodetabek Dikepung Hujan Lebat dan Angin Kencang Malam Ini

Waspada, BMKG Sebut Jabodetabek Dikepung Hujan Lebat dan Angin Kencang Malam Ini

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:38 WIB

Ikuti Jejak Yaqut, Noel Mau Ajukan Tahanan Rumah ke KPK

Ikuti Jejak Yaqut, Noel Mau Ajukan Tahanan Rumah ke KPK

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:35 WIB

Bikin Iri Donald Trump, Iran Izinkan Kapal Tanker Jepang Lewat Selat Hormuz

Bikin Iri Donald Trump, Iran Izinkan Kapal Tanker Jepang Lewat Selat Hormuz

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:35 WIB

Kemenko Kumham Imipas Pastikan Pelayanan Masyarakat Berjalan Optimal Saat Idul Fitri

Kemenko Kumham Imipas Pastikan Pelayanan Masyarakat Berjalan Optimal Saat Idul Fitri

News | Senin, 23 Maret 2026 | 21:31 WIB