Sebelum Taliban Berkuasa, Pemimpin Afganistan Minta Militer Tak Melawan

Reza Gunadha | BBC | Suara.com

Jum'at, 20 Agustus 2021 | 19:02 WIB
Sebelum Taliban Berkuasa, Pemimpin Afganistan Minta Militer Tak Melawan
anak-anak di Afganistan tak luput menjadi korban Taliban. [BBC]

Suara.com - Mantan duta besar Afganistan untuk Amerika Serikat, Roya Rahmani, mengungkapkan rahasia bagaimana Taliban secara cepat menguasai negerinya.

Ia mengungkapkan, pemimpin Afganistan sudah berencana menyerah, bahkan meminta pasukan keamanan tidak melawan Taliban.

Kekinian, para pemimpin Afghanistan saling menyalahkan, sementara Taliban sendiri mencoba membersihkan citra mereka yang sering dikaitkan dengan kekejaman saat mereka berkuasa lebih dari 20 tahun lalu.

Roya Rahmani, kepada program Newshour BBC, menceritakan pandangannya tentang pemerintah yang ia wakili dari 2018 sampai dikalahkan oleh Taliban.

"Pernyataan bahwa pasukan Afghanistan tidak mau berjuang tidak benar dan tidak adil," kata Rahmani mengacu pada pernyataan Presiden AS Joe Biden yang Senin (16/08) lalu menyalahkan pemerintahan Afghanistan yang dia sebut tidak melawan Taliban.

Dubes perempuan pertama Afghanistan untuk Amerika Serikat ini mengatakan Biden berhak membela keputusannya dan mengungkap pendapatnya namun masalahnya berada pada pemerintahan sendiri.

"Ada masalah dengan kepemimpinan Afghanistan. Mereka menyerah dan mengatakan kepada pasukan keamanan untuk tidak melawan," katanya.

"Itulah alasan dii balik apa yang terjadi," tambahnya.

Rahmani mengatakan ia menerima informasi yang menunjukkan selama "pekan-pekan terakhir", militer Afghanistan "terus menerus mendapat telepon dari Kabul dan meminta mereka untuk menyerah sementara militer sendiri meminta dukungan, amunisi, bantuan udara dan pasokan makanan.

Baca juga:

"Mereka tidak mendapatkan dukungan dan bantuan itu," kata mantan dubes ini.

"Tetapi saya kira, kalaupun pasukan keamanan kami mencoba bertahan, ini juga akan terjadi (Taliban menguasai kembali) karena faktor lain seperti ketakutan dan kegagalan pemerintahan Afghanistan, tak adanya komitmen dan konsistensi dari sekutu-sekutu internasional."

"Hal ini (Taliban berkuasa) tetap akan terjadi, namun tidak secepat apa yang kita saksikan," tambah Ramani.

Apakah pemerintahan Taliban perlu diakui?

Bagi mantan dubes ini, pengakuan dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat lain untuk Taliban perlu diputuskan berdasarkan hak asasi manusia.

"Harus dilihat apa yang akan dilakukan Taliban. Saat ini, berita bagusnya adalah, paling tidak di Kabul, mereka tidak melakukan kekejaman, mereka tidak membunuh orang, mereka tidak menyiksa atau memenjarakan orang," katanya membandingkan dengan apa yang terjadi pada 1990an saat Taliban berkuasa.



"Bila mereka masih melakukan tindak itu, saya tak yakin apakah akan ada pengakuan. Mereka perlu membentuk pemerintahan yang inklusif, dengan menghargai hak perempuan, bukan dengan standar mereka namun dengan standar internasional yang dapat diterima bagi perempuan Afghanistan. Dengan kondisi ini, saya akan mengakui," katanya lagi.

"Mengapa tidak mengakui pemerintahan Afghanistan yang inklusif, dengan perwakilan rakyat dan juga perhatian atas kesejahteraan mereka?"

'Optimistis namun berhati-hati'

Roya Rahmani mengakhiri wawancara dengan Newshour Selasa (17/08) dengan mengatakan "ia yakin" mau bekerja sama dengan pemerintahan yang dibentuk Taliban bila jasanya diperlukan.

"Saya ingin membantu negara saya. Saya ingin menjaga kedaulatan negara. Ini sangat perlu."

Namun ia menyatakan ia tak percaya bahwa Taliban telah berubah, karena masih harus ditunggu pada pekan-pekan ke depan.

"Tanda-tanda awal ini cukup positif. Saya sangat-sangat berhati-hati untuk optimistis bahwa mereka akan menghargai keinginan rakyat, martabat dan harapan mereka," kata Rahmani.

Para pemimpin politik Taliban telah tiba di Afghanistan dari Qatar, tempat banyak dari mereka tinggal di pengasingan.

Dalam jumpa pers pertama pada Selasa (17/08), Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban mengatakan perempuan dapat menikmati hak mereka sesuai dengan hukum Syariah.

Warga negara-negara Barat, AS, Inggris, Jerman dan Prancis telah mulai dievakuasi sejak Senin (16/08).

Gedung Putih mengatakan Taliban telah berjanji bahwa warga sipil dapat menuju ke bandar udara Kabul dengan aman.

Namun sejumlah laporan menyebutkan warga Afghanistan dipukuli oleh milisi Taliban saat mereka menuju bandara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ini Isi Kesepakatan Taliban dan Trump, Jadi Kunci Kuasai Kembali Afganistan

Ini Isi Kesepakatan Taliban dan Trump, Jadi Kunci Kuasai Kembali Afganistan

News | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 18:46 WIB

Taliban Menyiksa dan Membantai Warga Etnis Hazara yang Bermazhab Syiah

Taliban Menyiksa dan Membantai Warga Etnis Hazara yang Bermazhab Syiah

News | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 18:42 WIB

Klaim Hargai Hak Wanita, Taliban Diduga Bunuh Seorang Perempuan Gegara Tak Pakai Burka

Klaim Hargai Hak Wanita, Taliban Diduga Bunuh Seorang Perempuan Gegara Tak Pakai Burka

Batam | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 18:41 WIB

Menlu Retno Pastikan Evakuasi WNI yang Ada di Afghanistan Berjalan Lancar

Menlu Retno Pastikan Evakuasi WNI yang Ada di Afghanistan Berjalan Lancar

Kaltim | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 17:20 WIB

Taliban Berkuasa, Karateka Meena Asadi Khawatirkan Karier Atlet Putri Afghanistan

Taliban Berkuasa, Karateka Meena Asadi Khawatirkan Karier Atlet Putri Afghanistan

Sport | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 16:49 WIB

Taliban Berkuasa, Eks Bintang Panas Mia Khalifa Kecam Presiden Ashraf Gani yang Kabur

Taliban Berkuasa, Eks Bintang Panas Mia Khalifa Kecam Presiden Ashraf Gani yang Kabur

Lampung | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 18:15 WIB

Curhat Jurnalis Perempuan di Afghanistan: Lewati Rute Berbeda Setiap Hari

Curhat Jurnalis Perempuan di Afghanistan: Lewati Rute Berbeda Setiap Hari

Video | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 17:45 WIB

Terkini

Dokter Rumah Horor yang Pernah Gegerkan AS Tewas Misterius saat Jalani Hukuman Seumur Hidup

Dokter Rumah Horor yang Pernah Gegerkan AS Tewas Misterius saat Jalani Hukuman Seumur Hidup

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 23:30 WIB

Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM

Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 22:10 WIB

Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa

Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:45 WIB

Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut

Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:26 WIB

Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang

Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:00 WIB

Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19

Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:00 WIB

Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps

Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:56 WIB

Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli

Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:55 WIB

Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir

Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:52 WIB

Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran

Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran

News | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:31 WIB