alexametrics

Epidemiolog UI: Pemerintah Tidak Niat Mengendalikan Pandemi Covid-19

Bangun Santoso | Stephanus Aranditio
Epidemiolog UI: Pemerintah Tidak Niat Mengendalikan Pandemi Covid-19
Ilustrasi Covid-19 (Elements Envato)

Pandu mengatakan, kunci utama pengendalian pandemi adalah membatasi mobilitas

Suara.com - Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono menilai pemerintah memang sejak awal tidak berniat mengendalikan pandemi karena kebijakannya selalu tumpang tindih.

Pandu mengatakan, kunci utama pengendalian pandemi adalah membatasi mobilitas, setiap jelang libur panjang seperti akhir tahun dan lebaran kemarin selalu mendorong masyarakat untuk liburan dengan pelonggaran pembatasan.

"Banyak kebijakan pemerintah yang sebenarnya mendorong supaya memang pandemi tidak terkendali bahkan disuruh meningkat terus, kalau mau terus terang bahwa pemerintah memang tidak berniat atau tidak tahu bagaimana mengendalikan pandemi karena selalu didorong adanya liburan panjang setiap penduduk supaya bisa bepergian," kata Pandu dalam diskusi FIAKSI, Minggu (22/8/2021).

Kata dia, pemerintah sebenarnya sudah mendapatkan pelajaran ketika terjadi lonjakan kasus pada Agustus-September 2020 pasca lebaran, namun kesalahan itu kembali diulang ketika libur akhir tahun dan lebaran 2021.

Baca Juga: Lama Menghilang, Deddy Corbuzier Terinfeksi COVID 19 Sempat Sekarat

"Terlebih dengan adanya virus yang lebih mudah bertransmisi ke orang lain (varian baru)," ucapnya.

Hal ini semakin diperparah dengan kacaunya data pandemi di Indonesia yang tidak menggambarkan keadaan asli di masyarakat, banyak kasus positif Covid-19 yang tidak terdeteksi sehingga penularan menjadi liar.

"Kalau asumsinya sistemnya tidak banyak berubah maka mungkin pada waktu sekarang di Indonesia itu sebenarnya yang sudah terinfeksi itu lebih dari 30 juta, ini menunjukkan bahwa data yang terdeteksi di dalam sistem itu selalu tidak mencerminkan data sesungguhnya," ungkap Pandu.

Dia menyebut data yang dilaporkan setiap hari oleh Satgas Covid-19 bukanlah data hari itu atau real time, melainkan data yang dilaporkan daerah ke pemerintah pusat yang sering terlambat.

"Kelemahan data kita adalah terlambat dilaporkan, ada delay yang luar biasa besarnya, maka ada data yang dilaporkan setelah 3 bulan lalu," tuturnya.

Baca Juga: Nyaris Meninggal Dunia Akibat Paru-paru Rusak, Deddy Corbuzier Selamat Karena Hal Ini

Diketahui, berdasarkan data pemerintah, pandemi COVID-19 telah menginfeksi 3.967.048 orang Indonesia, kini masih terdapat 319.658 kasus aktif, 3.522.048 orang sudah dinyatakan sembuh, dan 125.342 jiwa meninggal dunia.

Komentar