alexametrics

Begini Cara Masyarakat Adat Bertahan Hidup Melawan Covid-19 dan Gempuran Investor

Agung Sandy Lesmana | Stephanus Aranditio
Begini Cara Masyarakat Adat Bertahan Hidup Melawan Covid-19 dan Gempuran Investor
Begini Cara Masyarakat Adat Bertahan Hidup Melawan Covid-19 dan Gempuran Investor. Ilustrasi masyarakat Dayak Meratus menyiapkan sajian saat aruh (ritual) Bawanang (pesta panen padi) di Balai Adat Dusun Bayawana, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Sabtu (17/7/2021) malam. [antara]

"Dalam situasi ini, mau tidak mau, masyarakat adat akan mencari apa yang ada di kampungnya..."

Suara.com - Masyarakat Adat bertahan hidup di tengah virus Covid-19 yang terus masuk ke wilayah adat mereka karena kegagalan pemerintah mengendalikan pandemi.

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi mengatakan sejak awal pandemi hingga Mei 2021 masyarakat adat membatasi diri dengan dunia luar dan terus mengumpulkan makanan agar kuat bertahan.

"Syukurlah masih cukup makanannya bahkan masih bisa berbagi dengan yang berkekurangan, banyak juga wilayah adat yang tergantung dengan ramuan tradisional, ngapain beli vitamin kalau kita sendiri punya vitamin, saat ini adalah kebangkitan kembali menguatnya sistem kesehatan masyarakat adat, jadi ketidakhadiran negara berguna juga dalam situasi krisis," kata Rukka dalam diskusi virtual, Rabu (8/9/2021).

Masyarakat adat pun kerap melakukan ritual sesuai dengan kepercayaannya untuk menangkal wabah, seperti ritual Baangko yang dilakukan Masyarakat Adat Dayak Simpang’k di Kalimantan Barat. Namun, ketika Indonesia diserang varian delta, virus akhirnya tembus masuk ke wilayah adat, banyak masyarakat adat yang sakit dan kesulitan mendapatkan pertolongan medis.

Baca Juga: WHO Ungkap Penyebab Negara Miskin Sulit Dapat Pasokan Vaksin Covid-19

"Pelayanan sangat kurang, bahkan setelah varian delta ini ada banyak sekali teman-teman yang hanya mendapatkan parasetamol dan amoxicillin, itu sangat jauh berkurang, itu orang bisa sembuh dan mati juga, obat virus seperti avigan dan lain-lain itu tidak ada di daerah," jelasnya.

Minimnya testing dan tracing dari pemerintah juga menjadi masalah banyaknya orang dengan gejala Covid-19 di wilayah adat yang tidak terdeteksi, sehingga pendataan menjadi kacau.

"Dalam situasi ini, mau tidak mau, masyarakat adat akan mencari apa yang ada di kampungnya, bahkan di Meratus itu mereka makan buah Limpasu dengan Kecombrang, itu dimakan terus sampai sembuh," ungkap Rukka.

Terkait vaksinasi Covid-19, Rukka meminta pemerintah untuk datang jemput bola membawa vaksin ke wilayah adat karena masyarakat adat kesulitan akses jika harus berangkat ke kota mencari vaksin.

"Negara ini punya sekian ratus motor dan mobil offroad, banyak kapal, kalau perlu kapal tempur itu gunakan, helikopter yang selama ini dipakai untuk membom ladang tradisional, sekali ini gunakanlah untuk membawa vaksin," tegasnya.

Baca Juga: Ayo Vaksin Lur! Ini Jadwal dan Lokasi Terbaru Bus Vaksinasi Keliling di Kota Solo

Deputi I Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Eustobio Rero Renggi juga bercerita semenjak keran investasi dibuka melalui UU Cipta Kerja Omnibus Law, banyak pekerja perkebunan, pertambangan, dan sebagainya yang masuk ke wilayah adat sehingga menulari mereka.

"Kebijakan masuknya investasi pertambangan dan perkebunan ke wilayah adat itu mendatangkan orang luar yang sebenarnya mereka membawa virus ke dalam, itu sangat berdampak," kata Eustobio.

Meski belum terdata secara rinci jumlah masyarakat adat yang positif Covid-19, dia menyebutkan sejumlah daerah pedalaman sudah ada kasus Covid-19.

Dia memastikan bahwa mobilitas masyarakat adat terutama yang tinggal di pedalaman selalu berkegiatan di dalam wilayah adat karena mereka hidup dari alam tidak perlu keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Oleh sebab itu dia meminta pemerintah untuk mempercepat dan mempermudah vaksinasi bagi masyarakat adat yang terancam, mereka sulit mengakses kesehatan ketika terpapar Covid-19.

Komentar