Afghanistan di Ambang Krisis Kelaparan di Bawah Taliban

Siswanto | BBC | Suara.com

Selasa, 21 September 2021 | 13:40 WIB
Afghanistan di Ambang Krisis Kelaparan di Bawah Taliban
BBC

Suara.com - Di tengah penantian tata kehidupan baru di Afghanistan setelah Taliban kembali berkuasa, kelaparan diprediksi menjadi krisis terburuk yang terjadi di negara itu.

Bagi kebanyakan warga miskin di Kabul, ibu kota Afghanistan, mengumpulkan beberapa ratus Afghani - mata uang Afghanistan - demi melawan kelaparan adalah tantangan terbesar.

Jutaan orang hidup dalam kemiskinan di negara yang selama ini telah menerima bantuan luar negeri dalam jumlah besar.

Uang yang tersisa, yang mungkin membantu mereka, sekitar US$9 miliar, atau setara Rp128,9 triliun - yang disimpan sebagai cadangan bank sentral - dibekukan oleh Amerika Serikat agar dana tersebut tidak digunakan oleh Taliban.

Baca juga:

Kala fajar, ratusan pekerja konstruksi berkumpul di salah satu pasar terbuka di Kabul dengan peralatan mereka, berburu orang yang menawarkan pekerjaan sebagai buruh harian.

Proyek bangunan skala besar di Kabul telah berhenti. Bank-bank tutup. Mata uang asing tak lagi beredar. Apa yang tersisa hanyalah segelintir.

Sejumlah pekerja konstruksi akhirnya dijemput untuk bekerja, sementara sisanya mulai marah.

Salah satu pria, Hayat Khan, mengamuk tentang kekayaan yang dicuri oleh para elit yang korup dalam 20 tahun terakhir.

"Orang kaya memikirkan diri mereka sendiri, bukan orang miskin. Saya bahkan tidak bisa membeli roti. Percayalah, saya tidak dapat menemukan satu dolar pun dan orang kaya lainnya memasukkan dolar bantuan dari Barat ke kantong mereka.

"Tak ada yang memedulikan orang miskin. Ketika bantuan dari luar datang, para penguasa memastikan bahwa itu diberikan kepada kerabat mereka, bukannya orang-orang miskin."

Mohammed Anwar, yang cukup beruntung memiliki pekerjaan kantoran, berhenti mendengarkan wawancara saya dengan para pekerja bangunan, dan kemudian berbicara dalam bahasa Inggris, menuduh orang Amerika melakukan pencurian.

"Atas nama Allah, kami meminta Amerika untuk memberi kami uang yang mereka ambil dari pemerintah Afghanistan. Itu harus digunakan untuk membangun kembali Afghanistan."

Pada saat itu, seorang pejabat Taliban, seorang pria dengan janggut hitam lebat turun tangan. Ia menyuruh kami meninggalkan area itu, seraya mengatakan bahwa di situ berbahaya.

Saya tak mendeteksi ancaman bahaya apapun, tapi saat itu bukanlah waktu dan tempat yang tepat untuk berdebat.

Ia didampingi oleh seorang pengawal Taliban yang mengenakan kacamata hitam, dengan gaya militer AS, dan membawa senapan serbu buatan AS.

Pergerakan para pejuang militan ini sangat mencolok di pusat ibu kota republik yang telah mereka ganti namanya menjadi emirat Islam ini.

Harga makanan melonjak, harga benda dijual

Ratapan paling umum yang saya sering dengar di Kabul selama beberapa pekan terakhir adalah tentang harga makanan dan keputusasaan para orang tua yang berjuang memberi makan anak mereka.

Harga makanan melonjak drastis, sementara jutaan orang berjuang untuk memberi makan keluarga mereka.

World Food Programme (WFP) memperkirakan 93% dari penduduk Afghanistan tidak mendapatkan cukup makanan untuk dimakan.

Jumlah ini meningkat dibanding sebelum Taliban merebut kekuasaan bulan lalu, yang hanya sebesar 80%.

Pasar bermunculan di seluruh kota, dengan orang-orang yang berhasil mengumpulkan kekayaan di era sebelumnya, menjual harta benda mereka demi mengumpulkan sedikit uang, sebagian besar untuk makanan.

Baca juga:

Saya menyaksikan gerobak-gerobak yang tiba dengan membawa perkakas rumah, mulai dari karpet mahal, atau televisi, hingga barang pecah belah dan perlengkapan makanan.

Seorang pria tampak sedang menjual tanaman karet. Namun, banyak yang menjual dan sedikit yang membeli sebab tak ada uang tunai.

Pasar barang bekas yang luas penuh dengan keputusasaan.

Ancaman terhadap kebebasan pribadi, pendidikan anak perempuan dan hak perempuan untuk bekerja telah dikecam di seluruh dunia. Tetapi prospek untuk tidur dalam keadaan lapar memiliki urgensi tersendiri.

Negara-negara yang ingin membantu warga Afghanistan namun menolak Taliban - dan semua yang diperjuangkannya - menghadapi dilema besar.

Agar orang-orang dapat bekerja untuk mendapatkan uang, untuk hidup dan makan, Taliban harus menjalankan negara yang layak di Afghanistan.

Akan tetapi, banyak negara seperti AS, Inggris, dan negara-negara lain yang memerangi Taliban, akan merasa sulit untuk menerima apa pun yang tampaknya berhasil bagi musuh lama mereka.

Alternatifnya mungkin lebih buruk; prospek lebih banyak kesengsaraan bagi rakyat, lebih banyak pengungsi, lebih banyak anak-anak kurang gizi, dan risiko bahwa Afghanistan sekali lagi akan menjadi negara gagal, serta menjadi rumah bagi para ekstremis jihad.

'Bagaimana saya bisa memberi makan keluarga saya?'

Sebuah komunitas yang tinggal di atas kota Kabul, membawa bekas luka perang selama 40 tahun. Begitu juga dengan banyak keluarga yang tinggal di sini. Perang menandai semua kisah mereka.

Salah satu keluarga tak lagi mampu bertahan. Flat yang mereka tinggali hampir kosong karena barang-barangnya dijual di pasar barang bekas demi mengumpulkan uang agar mereka bisa pergi ke Pakistan.

Sang ibu, yang tidak akan saya sebutkan namanya, adalah satu-satunya pencari nafkah.

Sebelumnya, ia mengajar mahasiswa teknik elektro yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Itu sebabnya, Taliban menghentikan pekerjaannya, dan juga menghentikan pendidikan putri bungsunya.

Pembawaannya tenang dan penuh tekad, namun ia kemudian terisak ketika saya bertanya kepadanya betapa sulitnya meninggalkan rumahnya.

"Saya sangat sedih. Hati saya membara sejak saya memutuskan untuk meninggalkan [negara ini]. Bagaimana saya bisa melakukannya - tapi apa yang bisa saya lakukan?

"Jika kami tinggal, saya pikir mereka tak akan membiarkan kami bekerja atau memberi kami pendidikan.

"Bagaimana saya bisa memberi makan keluarga saya? Saya bisa mentolerir kelaparan. Tapi saya tidak bisa melihat anak-anak saya kelaparan."

Impian mereka selalu rapuh di negara yang penuh dengan korupsi, yang tidak dapat bertahan setelah kepergian sekutu asingnya.

Krisis terbaru Afghanistan adalah tentang dasar-dasar kehidupan - makanan, keamanan dan harapan - dan keputusasaan dan kemarahan ketika mereka telah pergi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Ambruk, Industri Otomotif Tak Akan Gegabah Naikkan Harga Mobil

Rupiah Ambruk, Industri Otomotif Tak Akan Gegabah Naikkan Harga Mobil

Otomotif | Rabu, 27 Mei 2026 | 16:10 WIB

Eks Manchester United: Lamine Yamal Jadi Alasan Spanyol Favorit Juara Piala Dunia 2026

Eks Manchester United: Lamine Yamal Jadi Alasan Spanyol Favorit Juara Piala Dunia 2026

Bola | Rabu, 27 Mei 2026 | 16:09 WIB

Viral! Sapi Kurban di Ciputat Ngamuk dan Lepas, Lari Sampai ke Asrama Putri UIN!

Viral! Sapi Kurban di Ciputat Ngamuk dan Lepas, Lari Sampai ke Asrama Putri UIN!

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 16:05 WIB

Real Madrid Terancam Kehilangan Generasi Emas, 10 Wonderkid Siap Cabut Bersama Arbeloa

Real Madrid Terancam Kehilangan Generasi Emas, 10 Wonderkid Siap Cabut Bersama Arbeloa

Bola | Rabu, 27 Mei 2026 | 16:03 WIB

Final Liga Conference: Misi Oliver Glasner Cetak Sejarah Buat Crystal Palace

Final Liga Conference: Misi Oliver Glasner Cetak Sejarah Buat Crystal Palace

Bola | Rabu, 27 Mei 2026 | 16:00 WIB

Barcelona Incar Neymar Baru dari Brasil, Bocah 16 Tahun Dibanderol Rp350 Miliar

Barcelona Incar Neymar Baru dari Brasil, Bocah 16 Tahun Dibanderol Rp350 Miliar

Bola | Rabu, 27 Mei 2026 | 15:57 WIB

Makin Mesra, Kevin Gusnadi Ikut Jadi Panitia Kurban di Rumah Ayu Ting Ting

Makin Mesra, Kevin Gusnadi Ikut Jadi Panitia Kurban di Rumah Ayu Ting Ting

Entertainment | Rabu, 27 Mei 2026 | 15:57 WIB

Liverpool Cuci Gudang: Virgil van Dijk Out, Bek Rp1 Triliun In

Liverpool Cuci Gudang: Virgil van Dijk Out, Bek Rp1 Triliun In

Bola | Rabu, 27 Mei 2026 | 15:52 WIB

Presiden Masoud Pezeshkian: Iran Siap Berdamai Akhiri Perang

Presiden Masoud Pezeshkian: Iran Siap Berdamai Akhiri Perang

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 15:49 WIB

Dihujat, Ria Ricis Jelaskan Oplas Hidung karena Lelah Pakai Obat

Dihujat, Ria Ricis Jelaskan Oplas Hidung karena Lelah Pakai Obat

Entertainment | Rabu, 27 Mei 2026 | 15:46 WIB

Terkini

Iduladha 1447 H, Kemensos Salurkan 295 Ekor Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia

Iduladha 1447 H, Kemensos Salurkan 295 Ekor Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 20:56 WIB

Bukan Cuma Pagar Canggih, Gang Haji Jeni Kini Punya 'Smart Geprek' Pengubah Sampah Jadi Cuan

Bukan Cuma Pagar Canggih, Gang Haji Jeni Kini Punya 'Smart Geprek' Pengubah Sampah Jadi Cuan

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 20:43 WIB

Gedung Putih Bangun Arena Baku Pukul untuk Rayakan HUT ke-250 AS dan Ulang Tahun Trump

Gedung Putih Bangun Arena Baku Pukul untuk Rayakan HUT ke-250 AS dan Ulang Tahun Trump

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 20:29 WIB

Alarm Bahaya! Ratusan Siswa di 26 Provinsi Terpapar Radikalisme Lewat Medsos dan Game Online

Alarm Bahaya! Ratusan Siswa di 26 Provinsi Terpapar Radikalisme Lewat Medsos dan Game Online

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 20:00 WIB

Ketua MUI Soal Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syar'i

Ketua MUI Soal Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syar'i

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 19:44 WIB

DPR Murka! Skandal Riset Palsu WNI di Denmark Hancurkan Marwah Akademisi RI

DPR Murka! Skandal Riset Palsu WNI di Denmark Hancurkan Marwah Akademisi RI

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 19:30 WIB

Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan

Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 18:40 WIB

Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku

Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 18:34 WIB

Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi

Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 18:27 WIB

Militer AS Bom Kapal Diduga Bermuatan Narkotika di Samudera Pasifik: 1 Tewas 2 Selamat

Militer AS Bom Kapal Diduga Bermuatan Narkotika di Samudera Pasifik: 1 Tewas 2 Selamat

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 17:38 WIB