- Militer Amerika Serikat menyerang kapal terduga narkoterroris di Samudera Pasifik yang mengakibatkan satu orang tewas dan dua lainnya selamat.
- Operasi tersebut merupakan bagian dari konflik bersenjata melawan kartel narkoba Amerika Latin untuk menekan angka kematian akibat overdosis.
- Pakar hukum mengkritik serangan ini karena minimnya bukti konkret dan potensi pelanggaran prosedur hukum dalam operasi militer tersebut.
Suara.com - Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap kapal yang diduga terlibat jaringan perdagangan narkoba internasional di Samudera Pasifik.
Dalam operasi terbaru tersebut, satu orang tewas sementara dua lainnya dilaporkan selamat dan terdampar di laut.
Komando Selatan Amerika Serikat atau United States Southern Command menyebut kapal itu diduga dioperasikan kelompok yang mereka sebut sebagai narko teroris.
Video yang diunggah pihak militer AS memperlihatkan sebuah kapal melaju cepat di laut sebelum akhirnya meledak dan terbakar.
Tidak terlihat adanya korban selamat dalam rekaman tersebut.
“Seorang narco-teroris tewas dalam operasi ini dan ada dua korban selamat,” tulis SOUTHCOM melalui media sosial X.
Pihak militer juga mengaku langsung meminta bantuan Penjaga Pantai AS untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan terhadap dua korban yang masih hidup.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan Amerika Serikat sedang berada dalam konflik bersenjata melawan kartel narkoba Amerika Latin yang dianggap bertanggung jawab atas tingginya angka kematian akibat overdosis narkoba di AS.
Namun, operasi tersebut memicu kritik dari kelompok hak asasi manusia dan pakar hukum internasional.
Mereka menilai serangan terhadap kapal-kapal sipil yang belum terbukti membawa narkoba berpotensi menjadi pembunuhan di luar proses hukum atau extrajudicial killings.
Menurut data Associated Press, sedikitnya 194 orang telah tewas dalam puluhan serangan serupa sejak operasi Southern Spear dimulai tahun lalu.
Meski demikian, militer AS disebut belum mempublikasikan bukti konkret bahwa kapal-kapal yang dihancurkan benar-benar membawa narkotika.
Pengawas internal Pentagon kini juga mulai meninjau prosedur operasi tersebut untuk memastikan apakah militer AS menjalankan standar penargetan sesuai aturan yang berlaku.