Vaksin Covid: Sertifikat Gambar PM Modi, Apa Gunanya dan Mengapa Disoal?

Siswanto, BBC

Rabu, 20 Oktober 2021 | 09:11 WIB
Vaksin Covid: Sertifikat Gambar PM Modi, Apa Gunanya dan Mengapa Disoal?
BBC

Suara.com - Pengadilan di Negara Bagian Kerala, India minggu depan akan mendengarkan petisi seorang warga yang menggugat foto Perdana Menteri Narendra Modi pada sertifikat vaksin Covid-19 miliknya.

Laki-laki bernama Peter M itu menginginkan sertifikat vaksin baru yang tidak memuat foto Modi. Sertifikat berfoto Modi itu disebutnya melanggar hak-hak dasarnya.

Peter adalah pegiat hak informasi berusia 62 tahun. Dia merupakan anggota Partai Kongres yang merupakan oposisi utama pemerintahan Modi.

"Dengan meletakkan fotonya di sertifikat saya, dia menyusup ke ruang pribadi warga. Ini tidak konstitusional dan saya meminta perdana menteri yang terhormat untuk segera menghentikan tindakan yang salah dan memalukan ini," kata Peter kepada BBC.

"Itu tidak pantas dalam demokrasi dan sama sekali tidak berguna bagi bangsa atau warga mana pun," tuturnya.

Selain data pribadi pemilik sertifikat vaksin, dokumen yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan India juga memuat foto Modi. Terdapat pula pesan dalam bahasa Inggris dan bahasa lokal.

Agustus lalu, Wakil Menteri Kesehatan Bharati Pravin Pawar berkata di hadapan parlemen bahwa foto dan kutipan itu dimasukkan "untuk kepentingan publik yang lebih besar" dan untuk mendorong orang menaati protokol kesehatan, termasuk setelah vaksinasi.

Namun Peter menilai warga yang sudah mengikuti program vaksinasi pada dasarnya "sudah yakin akan kegunaannya".

Pesan dalam sertifikat vaksin, menurutnya "seperti berkhotbah kepada orang yang bertobat".

baca juga

"Modi bukan perdana menteri pertama India dan ini bukan program vaksinasi pertama India. Namun program melawan Covid-19 dan vaksinasi diproyeksikan sebagai pertunjukan satu orang, alat propaganda perdana menteri," kata Peter.

Peter gusar karena dia harus membayar untuk mendapatkan vaksin Covid-19 di rumah sakit swasta. Dia memilih membayar karena menurutnya terdapat antrian panjang untuk vaksin gratis di rumah sakit milik pemerintah.

"Saya membayar 750 rupee (sekitar Rp140 ribu) untuk setiap dosis vaksin, jadi mengapa foto Modi harus ada di sertifikat saya?" kata Peter.

Pengadilan Tinggi Kerala memberi waktu dua minggu kepada pemerintah federal dan otoritas negara bagian untuk menanggapi keberatan ini.

Dua juru bicara Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Modi menolak untuk mengomentari petisi Peter.

Foto Modi pada sertifikat vaksin juga dikritik saingan politiknya. Beberapa negara bagian yang dikuasai oposisi bahkan telah mengganti foto Modi dengan gambar menteri utama atau orang nomor satu di wilayah itu.

Pemimpin senior partai Kongres, Priyanka Gandhi Vadra, menuduh Modi menggunakan vaksin untuk publisitas pribadi.

Mamata Banerjee, pimpinan Negara Bagian Benggala Barat, menyindir bahwa Modi juga harus meletakkan fotonya di akta kematian.

"Bayangkan aku bukan pendukungmu. Aku tidak menyukaimu tapi aku harus membawa sertifikat ini. Apa alasannya? Di mana kebebasan orang?" kata Mamata.

"Kamu mewajibkan fotomu di sertifikat vaksin Covid. Sekarang tempel juga foto itu di akta kematian," tuturnya.

Foto itu juga menyebabkan kebingungan bagi orang India yang bepergian ke luar negeri. Vice News baru-baru ini memberitakan bahwa petugas imigrasi di sejumlah negara, yang tidak mengenal wajah Modi, menuduh beberapa pelancong India melakukan penipuan.

Peter khawatir jika situasi itu dibiarkan, Modi "selanjutnya akan mulai memasang fotonya di sekolah dan sertifikat cuti kuliah anak-anak kita".

Kekhawatiran Peter berakar pada kenyataan bahwa foto Modi terkadang muncul di tempat yang tidak seharusnya.

Baru-baru ini, sebuah iklan pemerintah dengan foto Modi dihapus dari email resmi pengadilan setelah ada keberatan dari Mahkamah Agung.

Kecintaan Modi untuk difoto dan selfie sudah dikenal luas di India. Dia memiliki banyak pengikut di media sosial. Kampanyenya di India selalu dihadiri puluhan ribu orang.

Para pendukung Modi menilai memajang foto perdana menteri pada sertifikat vaksin bukanlah sebuah persoalan. Mereka beralasan, Modi adalah salah satu orang yang paling dikenal di India.

Wajah berjanggut Modi yang melihat ke bawah dari papan reklame dan papan jalanan ditemukan di berbagai tempat di India. Dia juga tersenyum dalam iklan surat kabar satu halaman penuh.

Situs internet sebagian besar kementerian pemerintah pun memasang foto Modi.

Kritikus menyebut India tidak pernah kekurangan pemimpin yang gemar menjual citra diri.

Pada masa lalu, BJP mengkritik partai Kongres, yang dipimpin dinasti Gandhi-Nehru, karena menggunakan nama anggota keluarga mereka sebagai nama ratusan bandara, universitas, penghargaan dan skema kesejahteraan publik.

Sementara itu, Mayawati, ikon masyarakat kelas bawah dalam sistem kasta India sekaligus mantan menteri utama Negara Bagian Uttar Pradesh, terkenal karena membangun patung dirinya. Dia juga dituduh mendorong publik mengkultusnya.

Jayaram Jayalalitha, mantan menteri utama Tamil Nadu, menempatkan wajahnya di warung makanan murah, apotek, dan paket garam.

"Namun Modi membawa obsesi diri ini ke tingkat yang lebih tinggi," kata Nilanjan Mukhopadhyay, jurnalis sekaligus penulis buku biografi Modi.

"Modi adalah anggota RSS [organisasi nasionalis Hindu Rashtriya Swayamsevak Sangh], yang mengajarkan bahwa organisasi lebih besar dari individu, tapi di bawah kekuasaan Modi, individu menjadi lebih penting daripada organisasi.

"Jika Anda mendengar Modi berbicara, dia tidak mengatakan pemerintah kita, itu selalu pemerintah saya atau pemerintah Modi.

"Dalam pidato publiknya, ada banyak 'saya, saya, diri saya sendiri'. Pada bulan Februari, dia bahkan mengganti nama stadion dengan namanya sendiri," kata Mukhopadhyay.

Mukhopadhyay berkata, Modi telah menggunakan pandemi "sebagai kesempatan besar untuk mempromosikan kultusnya".

"Karena vaksin adalah satu-satunya perlindungan yang tersedia terhadap Covid-19, dengan menempelkan fotonya di sertifikat, dia ingin dilihat sebagai penyelamat rakyat," kata Mukhopadhyay.

"Dia ingin dilihat sebagai wajah manusia dari semacam dewa sehingga dia bisa mendapatkan kepercayaan dan keyakinan orang yang kemudian akan diterjemahkan menjadi suara untuknya."

Pengamat politik Dilip Cherian menilai foto Modi pada sertifikat vaksin adalah "pengaburan garis antara apa yang pantas dari sudut pandang partai dengan apa yang normatif dari sudut pandang pemerintah".

"Sertifikat sedang dipersenjatai untuk memenangkan suara," kata Cherian.

"Penekanannya tampaknya pada perolehan suara elektoral, untuk memiliki kendaraan sebanyak mungkin, baik itu sertifikat vaksin atau dokumen untuk skema pemerintah, untuk membawa pesan yang sama," ujar Cherian.

"Keakraban wajah" adalah nilai tambah utama, kata Cherian, karena hari ini identitas partai telah menyatu dengan individu.

"Menempatkan foto Modi di sana adalah bagian dari serangan presisi terhadap pemilih dalam promosi citra individu yang tinggi," tuturnya.

Peter menyebut di situlah masalah yang dia lihat pada penempatan wajah Modi di sertifikat vaksin.

"Dia seorang politikus yang mewakili sebuah partai, dia bertarung dalam pemilihan dan ini memberinya keuntungan yang tidak semestinya atas para pesaingnya. Dan ini harus dihentikan," kata Peter.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

India Tuntut Mark Zuckerberg Minta Maaf Setelah Video Perdana Menterinya Dibatasi di Facebook

India Tuntut Mark Zuckerberg Minta Maaf Setelah Video Perdana Menterinya Dibatasi di Facebook

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:12 WIB

Usai Bikin Menteri Pendidikan Mundur, Gerakan Kecoak Bakal Tumbangkan PM India?

Usai Bikin Menteri Pendidikan Mundur, Gerakan Kecoak Bakal Tumbangkan PM India?

News | Senin, 27 Juli 2026 | 07:41 WIB

Diplomasi Candi: Apa Rahasia di Balik Pertemuan Prabowo Subianto dan Narendra Modi?

Diplomasi Candi: Apa Rahasia di Balik Pertemuan Prabowo Subianto dan Narendra Modi?

Your Say | Senin, 13 Juli 2026 | 11:59 WIB

Momen Prabowo dan PM India Narendra Modi Kunjungi Candi Prambanan

Momen Prabowo dan PM India Narendra Modi Kunjungi Candi Prambanan

Foto | Rabu, 08 Juli 2026 | 15:53 WIB

Prabowo Berbisik ke Titiek Soeharto, Lalu Berfoto Bertiga dengan Narendra Modi di Prambanan

Prabowo Berbisik ke Titiek Soeharto, Lalu Berfoto Bertiga dengan Narendra Modi di Prambanan

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 14:30 WIB

RI Gandeng India Restorasi 200 Candi Perwara Prambanan

RI Gandeng India Restorasi 200 Candi Perwara Prambanan

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 13:49 WIB

Perjalanan Menuju Candi Prambanan, Prabowo dan PM Narendra Modi Satu Helikopter

Perjalanan Menuju Candi Prambanan, Prabowo dan PM Narendra Modi Satu Helikopter

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 12:09 WIB

Prabowo dan Narendra Modi Sambangi Candi Prambanan, PM India Dijadwalkan Beribadah

Prabowo dan Narendra Modi Sambangi Candi Prambanan, PM India Dijadwalkan Beribadah

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 10:12 WIB

Momen PM India Narendra Modi Pidato di Parlemen RI

Momen PM India Narendra Modi Pidato di Parlemen RI

Foto | Rabu, 08 Juli 2026 | 06:30 WIB

Duet 'Indonesia Emas 2045' dan 'India Maju 2047', PM Narendra Modi: Kita Mitra Alami

Duet 'Indonesia Emas 2045' dan 'India Maju 2047', PM Narendra Modi: Kita Mitra Alami

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 19:35 WIB

Terkini

Inovasi Terbaru Kecantikan Wajah, Volulift 2.0 Resmi Diperkenalkan

Inovasi Terbaru Kecantikan Wajah, Volulift 2.0 Resmi Diperkenalkan

Foto | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17 WIB

Paradoks Jajanan SD versus MBG: Mengapa Proyek Besar Justru Rawan Keracunan?

Paradoks Jajanan SD versus MBG: Mengapa Proyek Besar Justru Rawan Keracunan?

Your Say | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:15 WIB

Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif

Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif

News | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 00:04 WIB

Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor

Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor

Sumsel | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 23:49 WIB

Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel

Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel

Banten | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 23:45 WIB

Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis

Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis

Sumsel | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 23:34 WIB

Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta

Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta

Entertainment | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 23:14 WIB

Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD

Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan

Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan

Video | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama

Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 23:00 WIB

×