Tanpa Digaji, Nakes Tetap Bekerja 100 Hari Pertama Setelah Taliban Berkuasa

Siswanto, BBC

Kamis, 25 November 2021 | 10:59 WIB
Tanpa Digaji, Nakes Tetap Bekerja 100 Hari Pertama Setelah Taliban Berkuasa
BBC

Suara.com - Jurnalis BBC, Yalda Hakim, lahir di Afghanistan. Keluarganya melarikan diri dari negara itu saat masa pendudukan Uni Soviet pada 1980-an, tetapi dia rutin melaporkan situasi dari negara itu. Sekarang dia kembali ke Afghanistan untuk pertama kalinya, setelah Taliban merebut kekuasaan 100 hari yang lalu.

Saya menyadari bahwa kepulangan pertama saya ke negara kelahiran sejak Taliban berkuasa pada Agustus lalu, akan membuat saya bertanya-tanya.

Seberapa jauh negara ini telah berubah sejak Taliban menggulingkan pemerintahan yang didukung Barat? Akankah masyarakat Afghanistan mendapatkan kedamaian yang mereka dambakan? Seperti apa masa depan perempuan dan anak perempuan yang sudah disingkirkan dari kehidupan publik oleh penguasa baru mereka?

Ada sebuah pertanyaan, yang saya tidak berharap akan menanyakannya kepada diri sendiri. Kekuatan seperti apa yang dibutuhkan untuk pergi bekerja, hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan yang semakin menyiksa, tanpa dibayar?

Baca juga:

Tetapi, itu lah yang saya temukan. Dari petugas kesehatan di Kandahar hingga petugas kebersihan di rumah sakit Kabul, tidak ada petugas kesehatan publik di Afghanistan yang digaji sejak pemerintah jatuh dan bantuan asing terhenti.

Terlepas dari situasi itu, mereka masih datang bekerja, merawat masyarakat yang semakin putus asa di saat mereka sendiri semakin terpojok ke tepi jurang.

Nasreen bekerja sebagai petugas kebersihan di Rumah Sakit Anak Indira Gandhi di Kabul.

"Jika kami tidak bekerja, bayi-bayi ini akan meninggal, bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan mereka?" kata Nasreen kepada saya.

baca juga

Bangsal harus sebersih mungkin untuk memastikan pasien, yang kebanyakan berkondisi lemah serta kurang gizi, tidak terkena infeksi.

Nasreen mengatakan dia tidak mampu membayar transportasi, sehingga terpaksa berjalan kaki menuju tempat kerja. Perjalanan itu melelahkan, dia harus menuruni sisi gunung, kemudian mendaki kembali setelah bekerja selama 12 jam.

Namun, betapa pun menyedihkannya para petugas kesehatan, pasien yang mereka rawat berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk.

PBB menyatakan hampir 23 juta warga Afghanistan menghadapi kelaparan. 95% orang di negara ini tidak memiliki makanan yang cukup.

Di bangsal tempat Nasreen bekerja, Anda bisa melihat korban termuda akibat krisis ini. Gulnara, yang baru berusia 3 tahun, menjadi sangat lemah sehingga dia hampir tidak bisa membuka mata. Matanya cekung, rambutnya menipis, ketika dia tampak bangun, dia menangis kesakitan.

Inilah dampak kekurangan gizi akut pada anak-anak Afghanistan.

Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, menyalahkan masyarakat internasional dan mengatakan kepada saya bahwa penderitaan rakyat Afghanistan justru disebabkan oleh tindakan Barat.

"Jika mereka mengatakan bahwa negara ini sedang menuju bencana, kelaparan, dan krisis kemanusiaan, maka mereka bertanggung jawab mengambil tindakan yang tepat mencegah semua tragedi ini."

"Masyarakat internasional dan negara-negara lain yang berbicara tentang hak asasi manusia ... mereka harus mempertimbangkan kembali mengambil langkah-langkah yang berujung pada krisis kemanusiaan di Afghanistan," tambah dia.

Terlepas dari Anda mengamini analisisnya mengenai siapa yang harus disalahkan atau tidak, sebagian besar pengamat akan setuju bahwa solusi dari masalah ini bisa datang dari pendanaan internasional.

Ketika keran bantuan internasional dimatikan, ekonomi runtuh.

"Saya dulu bekerja di tempat pembakaran batu bata," seorang pria memberi tahu saya di jalanan, sambil menanti pekerjaan buruh yang bisa dia lakukan.

"Saat itu gaji saya adalah 25.000 afghani (Rp3,8 juta) per bulan. Sekarang saya bahkan tidak bisa menghasilkan 2.000 (Rp314 ribu) per bulan."

Keempat anaknya sedang sakit di rumah dan dia tidak memiliki uang untuk berobat.

"Saya tidak melihat ada masa depan. Keluarga-keluarga miskin tidak memiliki masa depan," katanya kepada saya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Setelah Sempat Deflasi, BPS Catat Inflasi di Agustus

Setelah Sempat Deflasi, BPS Catat Inflasi di Agustus

Bisnis | Selasa, 01 September 2026 | 12:12 WIB

Gunung Sinabung Erupsi, 2 Desa di Karo Dievakuasi, 2.400 Lebih Warga Terdampak

Gunung Sinabung Erupsi, 2 Desa di Karo Dievakuasi, 2.400 Lebih Warga Terdampak

Sumut | Selasa, 01 September 2026 | 12:11 WIB

Setelah Sempat Deflasi, BPS Catat Inflasi di Agustus

Setelah Sempat Deflasi, BPS Catat Inflasi di Agustus

Bisnis | Selasa, 01 September 2026 | 12:10 WIB

Bupati Bengkalis Resmi Perpanjang Masa Jabatan 75 Kepala Desa

Bupati Bengkalis Resmi Perpanjang Masa Jabatan 75 Kepala Desa

Riau | Selasa, 01 September 2026 | 12:08 WIB

Perry Warjiyo Ucapkan Selamat ke Destry Damayanti Usai Dipilih jadi Gubernur BI

Perry Warjiyo Ucapkan Selamat ke Destry Damayanti Usai Dipilih jadi Gubernur BI

Bisnis | Selasa, 01 September 2026 | 12:07 WIB

Penjualan Kompor Gas Kaca Tumbuh di Tengah Ekonomi Tak Pasti, Layanan Purna Jual Diperkuat

Penjualan Kompor Gas Kaca Tumbuh di Tengah Ekonomi Tak Pasti, Layanan Purna Jual Diperkuat

Tekno | Selasa, 01 September 2026 | 12:06 WIB

Puan Maharani di HUT DPR ke-81: Kritik Rakyat Itu Pendorong untuk Berbenah Diri

Puan Maharani di HUT DPR ke-81: Kritik Rakyat Itu Pendorong untuk Berbenah Diri

News | Selasa, 01 September 2026 | 12:06 WIB

Resmi! Extraordinary Woo Diremake Jepang Jadi Extraordinary Attorney Minami

Resmi! Extraordinary Woo Diremake Jepang Jadi Extraordinary Attorney Minami

Your Say | Selasa, 01 September 2026 | 12:05 WIB

Emil Audero Dapat Kabar Buruk Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Menit Bermain Terancam Lenyap

Emil Audero Dapat Kabar Buruk Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Menit Bermain Terancam Lenyap

Bola | Selasa, 01 September 2026 | 12:04 WIB

Perry Warjiyo Ucapkan Selamat ke Destry Damayanti Usai Dipilih jadi Gubernur BI

Perry Warjiyo Ucapkan Selamat ke Destry Damayanti Usai Dipilih jadi Gubernur BI

Bisnis | Selasa, 01 September 2026 | 12:04 WIB

×