alexametrics

Mencari Kritik di Ujung Demokrasi

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Mencari Kritik di Ujung Demokrasi
Ekspresi Mural. (Dok: Kominfo)

Tempat umum adalah spot favorit yang kerap dipilih artis mural untuk menyampaikan kritik.

Suara.com - Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui bahwa pemerintahannya selama ini mendapatkan banyak kritik dari berbagai pihak. Masyarakat menyampaikan kritik melalui karya seni mural yang muncul di berbagai kota dan menjadi viral di media sosial.

Pengakuan itu disampaikan Jokowi dalam kesempatan pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada Sidang Tahunan MPR, DPD, dan DPR RI dalam rangka HUT ke-76 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

“Saya juga menyadari, begitu banyak kritikan kepada pemerintah, terutama terhadap hal-hal yang belum bisa kita selesaikan,” kata Jokowi dalam pidato tersebut.

Kritik yang dimaksud terkait erat dengan kinerja pemerintah dalam menanggulangi pandemi virus korona, baik dari pencegahan penyebaran maupun tingkat vaksinasi nasional.

Baca Juga: Anies Sebut Jokowi Bukan Penentu Lokasi Sirkuit Formula E, Bamsoet: Salahnya di Mana?

Masyarakat menyampaikan kritik kepada Presiden Jokowi dalam bentuk mural dan grafiti di ruang-ruang publik yang membuat gerah sejumlah pihak. Alhasil, sebagian besar mural dan grafiti yang terdeteksi langsung dihapus dari tembok.

Merdeka Ataoe Mati

Tempat umum adalah spot favorit yang kerap dipilih artis mural untuk menyampaikan kegelisahan dan pesan kritiknya.

Tercatat kritik mural untuk Jokowi ada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan Batam.

Misalnya di Yogyakarta, tepatnya di bawah jembatan Kleringan atau kreteg Kewek, sempat muncul tulisan “DIBUNGKAM” yang hanya berusia 24 jam karena langsung dihapus oleh petugas.

Baca Juga: Ngobrol Bareng Aul, Kaesang Pangarep Dapat Pertanyaan Tak Terduga: Berani Banget!

Di Tangerang, muncul tulisan “Wabah Sesungguhnya Adalah Kelaparan” yang juga dihapus petugas karena diduga dibuat di pekarangan milik orang lain.

Komentar